Pendidikan di Antara Keinginan Pasar dan Janji Kesejahteraan
Kamis, 07 Mei 2026 - 14:11 WIB
Agus Taufiq, Politisi Muda dan Inisiator @KebijakanKita. Foto/Ist
Agus Taufiq
Politisi Muda dan inisiator @KebijakanKita
PENDIDIKAN yang sejatinya menjadi ruang pembebasan untuk membentuk peradaban, kini mengalami krisis eksistensial. Alih-alih menjadi ruang pembebasan, institusi pendidikan lambat laun berubah menjadi "ruang" komersial, di mana ilmu pengetahuan dan peserta didik direduksi tak lebih dari sekadar konsumen.
Tujuan luhur pendidikan bergeser secara fundamental; yang semula dari kebudayaan akademik yang mengutamakan kedalaman intelektual dan pembangunan karakter, menjadi budaya pragmatis yang semata-mata mengejar profit dan efisiensi korporasi. Lantas apa yang sebenarnya sedang mengganggu tujuan pendidikan kita?
Kencangnya arus industrialisasi global telah memaksa pendidikan untuk tunduk pada logika pasar. Keberhasilan pendidikan formal kini diukur secara sempit dari seberapa cepat lulusannya terserap sebagai tenaga kerja. Pendidikan diartikan menjadi sekadar pabrik pencetak buruh yang siap pakai. Logika semacam ini justru memicu krisis di institusi pendidikan, yakni maraknya penutupan program studi yang dinilai minim prospek komersial.
Politisi Muda dan inisiator @KebijakanKita
PENDIDIKAN yang sejatinya menjadi ruang pembebasan untuk membentuk peradaban, kini mengalami krisis eksistensial. Alih-alih menjadi ruang pembebasan, institusi pendidikan lambat laun berubah menjadi "ruang" komersial, di mana ilmu pengetahuan dan peserta didik direduksi tak lebih dari sekadar konsumen.
Tujuan luhur pendidikan bergeser secara fundamental; yang semula dari kebudayaan akademik yang mengutamakan kedalaman intelektual dan pembangunan karakter, menjadi budaya pragmatis yang semata-mata mengejar profit dan efisiensi korporasi. Lantas apa yang sebenarnya sedang mengganggu tujuan pendidikan kita?
Paradoks Pengangguran Terdidik
Kencangnya arus industrialisasi global telah memaksa pendidikan untuk tunduk pada logika pasar. Keberhasilan pendidikan formal kini diukur secara sempit dari seberapa cepat lulusannya terserap sebagai tenaga kerja. Pendidikan diartikan menjadi sekadar pabrik pencetak buruh yang siap pakai. Logika semacam ini justru memicu krisis di institusi pendidikan, yakni maraknya penutupan program studi yang dinilai minim prospek komersial.
Lihat Juga :