Gurita Konsentrasi Saham dan Ujian Transparansi Bursa Kita

Senin, 13 April 2026 - 15:22 WIB
Perdana Wahyu Santosa, Profesor Ekonomi, Dekan FEB Universitas YARSI, Direktur Riset GREAT Institute, dan CEO SAN Scientific. Foto/Istimewa
Perdana Wahyu Santosa

Profesor Ekonomi, Dekan FEB Universitas YARSI, Direktur Riset GREAT Institute, dan CEO SAN Scientific



BAYANGKAN Anda diundang ke sebuah pesta besar di sebuah aula megah. Musik berdentum, lampu berkilauan, dan hidangan tertata rapi. Namun, saat hendak berdansa, Anda baru menyadari bahwa 90 persen luas lantai aula tersebut ternyata sudah dipesan secara pribadi oleh satu keluarga besar.

Anda dan ratusan tamu lainnya hanya diizinkan berdesakan di pojok ruangan yang sempit. Itulah gambaran satir yang sering dirasakan investor ritel ketika berhadapan dengan emiten yang memiliki status kepemilikan saham terkonsentrasi tinggi di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Pengumuman terbaru mengenai identifikasi emiten dengan kepemilikan terkonsentrasi ini bak petir di siang bolong bagi sebagian pelaku pasar, namun bagi yang lain, ia adalah oase transparansi yang sudah lama dinanti. Fenomena ini bukan sekadar urusan administrasi di papan pengumuman bursa. Secara substansial, ia menyentuh jantung persoalan likuiditas dan keadilan pasar.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!