Wacana Pilkada lewat DPRD, Biaya Politik dan Transaksi Abu-Abu Bisa Meningkat

Senin, 26 Januari 2026 - 06:30 WIB
Wacana Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) melalui DPRD terus bergulir. Pilkada melalui DPRD dinilai justru berpotensi memperbesar biaya politik. Foto: Ilustrasi/Dok Sindonews
JAKARTA - Wacana Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) melalui DPRD terus bergulir. Pilkada melalui DPRD dinilai justru berpotensi memperbesar biaya politik. Pilkada tidak langsung juga membuka peluang terjadinya transaksi di ruang gelap yang sulit diawasi publik.

"Memilih Pilkada tidak langsung justru membuat ancaman politik biaya tinggi malah bisa lebih buruk karena ruang-ruang transaksi ilegal yang tidak bisa diawasi masyarakat, yang ada di ruang abu-abu semakin terbuka," ujar Dosen Hukum Tata Negara Universitas Indonesia (UI) Titi Anggraini di Jakarta Selatan, Minggu (25/1/2026).



Baca juga: Fraksi Demokrat Tolak Wacana Pilkada lewat DPRD

Jika Pilkada tidak dilaksanakan secara langsung, biasanya hal tersebut hanya berlaku untuk daerah yang memiliki kekhususan, misalnya Daerah Istimewa Yogyakarta yang kepala daerah tingkat provinsi atau Gubernur dijabat sultan dari keraton.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!