Bertahan Hidup dalam Budaya Penghakiman

Jum'at, 02 Januari 2026 - 19:35 WIB
Ariani S Pardosi, Pengajar dan Pemerhati Pendidikan Keluarga. Foto/Dok.Pribadi
Ariani S Pardosi

Pengajar dan Pemerhati Pendidikan Keluarga



DALAM beberapa bulan terakhir, ruang publik kita dipenuhi oleh kejutan yang datang silih berganti. Sosok-sosok yang selama ini tampil rapi di layar kaca, berdiri di mimbar kekuasaan atau dielu-elukan sebagai panutan, tiba-tiba terseret ke dalam pusaran aib.

Ada yang terungkap menyalahgunakan wewenang demi kepentingan pribadi, ada yang jatuh karena skandal moral, ada pula yang terbongkar menjalani kehidupan ganda yang jauh dari citra yang selama ini mereka bangun.

Semua itu terbuka lebar di hadapan jutaan pasang mata. Ia menjadi konsumsi publik, bahan perbincangan di media sosial (medsos), bahkan obrolan ringan di warung kopi. Dalam situasi seperti ini, selalu ada pihak yang diuntungkan: para pengejar konten.

Media sosial mendadak menjelma seperti tayangan gosip nasional yang diburu penonton. Potongan bukti, rekaman, dan narasi menyebar dalam hitungan jam. Manusia berubah menjadi tajuk berita, sementara kesalahan menjelma tontonan.

Tidak sedikit yang sebelumnya dikagumi, lalu seketika dihujani caci maki, dicabut kepercayaannya, bahkan seolah dihapus haknya untuk bangkit. Fenomena ini menyisakan pertanyaan penting yang jarang kita ajukan bersama: apa yang sebenarnya terjadi pada manusia ketika aibnya dibuka di ruang publik?

Apakah setiap kejatuhan harus selalu berujung pada penghabisan, atau masih adakah ruang bagi refleksi, pertanggungjawaban, dan pemulihan?

Pertanyaan itu menjadi semakin mendesak ketika kita mengingat bahwa tidak sedikit dari mereka yang terpojok oleh aib akhirnya memilih jalan paling sunyi dan tragis: mengakhiri hidupnya sendiri.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!