Gelar Dialog Lintas Agama, Menag Tawarkan Kerukunan Ekologis Dunia
Sabtu, 06 Desember 2025 - 20:34 WIB
Dialog ini menghadirkan tokoh-tokoh lintas agama Indonesia, masing-masing menyampaikan perspektif ekologis dari tradisi keagamaan mereka. Tampak hadir Mantan Menteri Agama sekaligus penggagas moderasi beragama Lukman Hakim Saifuddin ; Ketua Umum Permabudhi Philip Kuntojo Widjaja; Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan KWI Christophorus Tri Harsono, Ketua Umum PGI Jacklevyn Frits Manupatty;
Selain itu, Ketua Umum Dewan Rohaniwan / Pengurus Pusat Matakin Xueshi (Xs) Budi Santoso Tanuwiibowo, Sekretaris Umum PHDI I Ketut Budiasa, serta Wakil Ketua Umum MUI KH Marsudi Syuhud. Hadir pula anggota Tim Penasihat Menteri Agama sekaligus akademisi Amany Lubis.
Masing-masing tokoh memaparkan ajaran ekologis dari tradisi agama mereka—mulai dari Islam yang menekankan amanah menjaga bumi, Kristen dengan konsep stewardship, Hindu dengan Tri Hita Karana, Buddha dengan welas asih untuk semua makhluk, Khonghucu dengan nilai harmoni, hingga kearifan lokal Nusantara melalui prinsip memayu hayuning bawana.
Dialog ini menghasilkan kesepahaman bahwa kerukunan umat beragama harus diperluas menjadi kerukunan ekologis, yaitu keselarasan manusia dengan sesama dan dengan alam. Melalui konsep ekoteologi, Indonesia menawarkan model kerukunan baru yang menggabungkan spiritualitas, etika publik, dan pemeliharaan lingkungan. Kerja sama antara PKUB Kementerian Agama dan Muslim World League menjadi langkah strategis dalam membawa gagasan ini ke level global serta memperkuat posisi Indonesia sebagai pelopor dialog dan kerukunan dunia.
Selain itu, Ketua Umum Dewan Rohaniwan / Pengurus Pusat Matakin Xueshi (Xs) Budi Santoso Tanuwiibowo, Sekretaris Umum PHDI I Ketut Budiasa, serta Wakil Ketua Umum MUI KH Marsudi Syuhud. Hadir pula anggota Tim Penasihat Menteri Agama sekaligus akademisi Amany Lubis.
Masing-masing tokoh memaparkan ajaran ekologis dari tradisi agama mereka—mulai dari Islam yang menekankan amanah menjaga bumi, Kristen dengan konsep stewardship, Hindu dengan Tri Hita Karana, Buddha dengan welas asih untuk semua makhluk, Khonghucu dengan nilai harmoni, hingga kearifan lokal Nusantara melalui prinsip memayu hayuning bawana.
Dialog ini menghasilkan kesepahaman bahwa kerukunan umat beragama harus diperluas menjadi kerukunan ekologis, yaitu keselarasan manusia dengan sesama dan dengan alam. Melalui konsep ekoteologi, Indonesia menawarkan model kerukunan baru yang menggabungkan spiritualitas, etika publik, dan pemeliharaan lingkungan. Kerja sama antara PKUB Kementerian Agama dan Muslim World League menjadi langkah strategis dalam membawa gagasan ini ke level global serta memperkuat posisi Indonesia sebagai pelopor dialog dan kerukunan dunia.
(cip)
Lihat Juga :