Gelar Dialog Lintas Agama, Menag Tawarkan Kerukunan Ekologis Dunia
Sabtu, 06 Desember 2025 - 20:34 WIB
loading...
Menag Nasaruddin Umar mengungkapkan kerukunan umat beragama harus diperluas menjadi kerukunan ekologis. Foto/istimewa
A
A
A
JAKARTA - Indonesia menguatkan posisinya sebagai laboratorium kerukunan dunia melalui Dialog Kerukunan Lintas Agama yang diselenggarakan Kementerian Agama (Kemenag) bekerja sama dengan Muslim World League (MWL) di Auditorium KH. M. Rasjidi, Jakarta. Tahun ini, dialog menempatkan isu ekoteologi sebagai fokus utama, yaitu gagasan bahwa tanggung jawab keagamaan mencakup relasi manusia dengan alam.
Acara yang dihadiri lebih dari 350 peserta mulai dari pejabat Kemenag, tokoh lintas agama, akademisi, hingga komunitas keagamaan menunjukkan tingginya perhatian publik terhadap isu lingkungan. Terlebih, setelah bencana besar melanda Sumatra hingga menjadi sorotan dan mengingatkan tentang pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem.
Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menegaskan nilai keimanan tidak dapat dipisahkan dari sikap manusia terhadap lingkungan. Nasaruddin Umar menyebut perilaku merusak alam seperti pembakaran hutan atau pembuangan sampah sembarangan bukan hanya pelanggaran hukum, tetapi juga pengingkaran terhadap amanah moral sebagai penjaga bumi.
Baca juga: Sekjen Liga Muslim Dunia Sampaikan Khutbah Jumat di Jakarta, Serukan Persatuan Umat
“Tidak mungkin seseorang mengaku beriman secara utuh jika masih merusak lingkungan,” ujarnya di Jakarta, Sabtu (6/12/2025).
Nasaruddin Umar menambahkan ekoteologi telah digagas dan kini relevansinya semakin kuat seiring meningkatnya krisis ekologis. Menurut Nasaruddin Umar, kerukunan umat beragama tidak dapat berdiri di atas fondasi lingkungan yang rusak. Ketika alam terganggu, stabilitas sosial, kenyamanan beribadah, dan kesejahteraan masyarakat ikut terdampak.
Sekretaris Jenderal (Sekjen) Muslim World League, Mohammed bin Abdulkarim Al-Issa, menyambut gagasan ekoteologi Indonesia dengan antusias. Ia menilai forum internasional yang mengangkat tema agama dan ekologi masih sangat jarang, padahal kerusakan lingkungan merupakan ancaman yang dirasakan semua komunitas iman.
Baca juga: Liga Muslim Dunia Serukan Penghentian Perang di Palestina
“Ketika banjir atau kerusakan ekosistem terjadi, tidak ada satu pun kelompok agama yang terbebas dari dampaknya,” ujarnya. Ia memuji ekoteologi sebagai terobosan penting dalam percakapan global tentang keberlanjutan.
Dialog ini menghadirkan tokoh-tokoh lintas agama Indonesia, masing-masing menyampaikan perspektif ekologis dari tradisi keagamaan mereka. Tampak hadir Mantan Menteri Agama sekaligus penggagas moderasi beragama Lukman Hakim Saifuddin ; Ketua Umum Permabudhi Philip Kuntojo Widjaja; Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan KWI Christophorus Tri Harsono, Ketua Umum PGI Jacklevyn Frits Manupatty;
Selain itu, Ketua Umum Dewan Rohaniwan / Pengurus Pusat Matakin Xueshi (Xs) Budi Santoso Tanuwiibowo, Sekretaris Umum PHDI I Ketut Budiasa, serta Wakil Ketua Umum MUI KH Marsudi Syuhud. Hadir pula anggota Tim Penasihat Menteri Agama sekaligus akademisi Amany Lubis.
Masing-masing tokoh memaparkan ajaran ekologis dari tradisi agama mereka—mulai dari Islam yang menekankan amanah menjaga bumi, Kristen dengan konsep stewardship, Hindu dengan Tri Hita Karana, Buddha dengan welas asih untuk semua makhluk, Khonghucu dengan nilai harmoni, hingga kearifan lokal Nusantara melalui prinsip memayu hayuning bawana.
Dialog ini menghasilkan kesepahaman bahwa kerukunan umat beragama harus diperluas menjadi kerukunan ekologis, yaitu keselarasan manusia dengan sesama dan dengan alam. Melalui konsep ekoteologi, Indonesia menawarkan model kerukunan baru yang menggabungkan spiritualitas, etika publik, dan pemeliharaan lingkungan. Kerja sama antara PKUB Kementerian Agama dan Muslim World League menjadi langkah strategis dalam membawa gagasan ini ke level global serta memperkuat posisi Indonesia sebagai pelopor dialog dan kerukunan dunia.
Acara yang dihadiri lebih dari 350 peserta mulai dari pejabat Kemenag, tokoh lintas agama, akademisi, hingga komunitas keagamaan menunjukkan tingginya perhatian publik terhadap isu lingkungan. Terlebih, setelah bencana besar melanda Sumatra hingga menjadi sorotan dan mengingatkan tentang pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem.
Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menegaskan nilai keimanan tidak dapat dipisahkan dari sikap manusia terhadap lingkungan. Nasaruddin Umar menyebut perilaku merusak alam seperti pembakaran hutan atau pembuangan sampah sembarangan bukan hanya pelanggaran hukum, tetapi juga pengingkaran terhadap amanah moral sebagai penjaga bumi.
Baca juga: Sekjen Liga Muslim Dunia Sampaikan Khutbah Jumat di Jakarta, Serukan Persatuan Umat
“Tidak mungkin seseorang mengaku beriman secara utuh jika masih merusak lingkungan,” ujarnya di Jakarta, Sabtu (6/12/2025).
Nasaruddin Umar menambahkan ekoteologi telah digagas dan kini relevansinya semakin kuat seiring meningkatnya krisis ekologis. Menurut Nasaruddin Umar, kerukunan umat beragama tidak dapat berdiri di atas fondasi lingkungan yang rusak. Ketika alam terganggu, stabilitas sosial, kenyamanan beribadah, dan kesejahteraan masyarakat ikut terdampak.
Sekretaris Jenderal (Sekjen) Muslim World League, Mohammed bin Abdulkarim Al-Issa, menyambut gagasan ekoteologi Indonesia dengan antusias. Ia menilai forum internasional yang mengangkat tema agama dan ekologi masih sangat jarang, padahal kerusakan lingkungan merupakan ancaman yang dirasakan semua komunitas iman.
Baca juga: Liga Muslim Dunia Serukan Penghentian Perang di Palestina
“Ketika banjir atau kerusakan ekosistem terjadi, tidak ada satu pun kelompok agama yang terbebas dari dampaknya,” ujarnya. Ia memuji ekoteologi sebagai terobosan penting dalam percakapan global tentang keberlanjutan.
Dialog ini menghadirkan tokoh-tokoh lintas agama Indonesia, masing-masing menyampaikan perspektif ekologis dari tradisi keagamaan mereka. Tampak hadir Mantan Menteri Agama sekaligus penggagas moderasi beragama Lukman Hakim Saifuddin ; Ketua Umum Permabudhi Philip Kuntojo Widjaja; Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan KWI Christophorus Tri Harsono, Ketua Umum PGI Jacklevyn Frits Manupatty;
Selain itu, Ketua Umum Dewan Rohaniwan / Pengurus Pusat Matakin Xueshi (Xs) Budi Santoso Tanuwiibowo, Sekretaris Umum PHDI I Ketut Budiasa, serta Wakil Ketua Umum MUI KH Marsudi Syuhud. Hadir pula anggota Tim Penasihat Menteri Agama sekaligus akademisi Amany Lubis.
Masing-masing tokoh memaparkan ajaran ekologis dari tradisi agama mereka—mulai dari Islam yang menekankan amanah menjaga bumi, Kristen dengan konsep stewardship, Hindu dengan Tri Hita Karana, Buddha dengan welas asih untuk semua makhluk, Khonghucu dengan nilai harmoni, hingga kearifan lokal Nusantara melalui prinsip memayu hayuning bawana.
Dialog ini menghasilkan kesepahaman bahwa kerukunan umat beragama harus diperluas menjadi kerukunan ekologis, yaitu keselarasan manusia dengan sesama dan dengan alam. Melalui konsep ekoteologi, Indonesia menawarkan model kerukunan baru yang menggabungkan spiritualitas, etika publik, dan pemeliharaan lingkungan. Kerja sama antara PKUB Kementerian Agama dan Muslim World League menjadi langkah strategis dalam membawa gagasan ini ke level global serta memperkuat posisi Indonesia sebagai pelopor dialog dan kerukunan dunia.
(cip)
Lihat Juga :