Seskab Teddy Kerap Turun ke Akar Rumput, Pengamat: Perkuat Praktik Empathetic Governance
Minggu, 16 November 2025 - 19:43 WIB
Pendekatan ini, menurutnya, menjadi modal penting bagi birokrasi modern yang menuntut pemimpin untuk adaptif, inklusif, dan dekat dengan realitas sosial. Bagi Amsori, langkah Teddy mengunjungi sekolah rakyat merupakan simbol dari semangat state nurturing, negara yang hadir untuk merawat, menguatkan, dan memanusiakan warganya.
Ia menilai gestur sederhana seperti duduk bersila bersama anak-anak, berbicara santai dengan orang tua, atau mendengarkan keluhan tanpa catatan protokol justru menjadi tindakan administratif paling kuat. “Banyak pejabat bicara soal pelayanan publik, tetapi sedikit yang hadir sebagai manusia. Teddy melakukannya. Itu yang membuat pesan kepemimpinannya berbeda,” sambungnya.
Gestur responsif semacam ini, menurut Amsori, juga memperkuat citra kabinet sebagai institusi yang tidak hanya mengeluarkan kebijakan, tetapi juga memahami realitas lapangan tempat kebijakan itu bekerja.
Amsori menambahkan bahwa perubahan gaya kepemimpinan seperti ini sangat relevan dalam konteks politik kontemporer Indonesia. Di tengah tingkat skeptisisme publik terhadap pejabat negara, pendekatan empatik dan rendah hati dapat menjadi jembatan untuk memulihkan kepercayaan.
“Teddy menunjukkan bahwa negara yang kuat adalah negara yang mau mendengar. Dan kehadirannya di akar rumput bukan pencitraan—melainkan bentuk pendidikan politik bahwa pejabat negara pun harus bisa hadir sebagai sesama manusia,” pungkasnya.
Ia menilai gestur sederhana seperti duduk bersila bersama anak-anak, berbicara santai dengan orang tua, atau mendengarkan keluhan tanpa catatan protokol justru menjadi tindakan administratif paling kuat. “Banyak pejabat bicara soal pelayanan publik, tetapi sedikit yang hadir sebagai manusia. Teddy melakukannya. Itu yang membuat pesan kepemimpinannya berbeda,” sambungnya.
Gestur responsif semacam ini, menurut Amsori, juga memperkuat citra kabinet sebagai institusi yang tidak hanya mengeluarkan kebijakan, tetapi juga memahami realitas lapangan tempat kebijakan itu bekerja.
Menutup Jarak Pemerintah–Warga
Amsori menambahkan bahwa perubahan gaya kepemimpinan seperti ini sangat relevan dalam konteks politik kontemporer Indonesia. Di tengah tingkat skeptisisme publik terhadap pejabat negara, pendekatan empatik dan rendah hati dapat menjadi jembatan untuk memulihkan kepercayaan.
“Teddy menunjukkan bahwa negara yang kuat adalah negara yang mau mendengar. Dan kehadirannya di akar rumput bukan pencitraan—melainkan bentuk pendidikan politik bahwa pejabat negara pun harus bisa hadir sebagai sesama manusia,” pungkasnya.
(shf)
Lihat Juga :