Mitos Amerika dan Kenyataan Gaza

Minggu, 21 September 2025 - 20:18 WIB
Eko Ernada. Foto/Istimewa
Eko Ernada

Dosen Hubungan Internasional Universitas Jember



SELAMA beberapa dekade, Amerika Serikat (AS) telah membangun narasi besar tentang perannya di Timur Tengah , terutama dalam konflik Israel-Palestina. Dalam narasi ini, AS digambarkan sebagai kekuatan yang tidak tergantikan, mediator yang netral, dan penjaga perdamaian global. Namun, kenyataan yang ada di Gaza saat ini menunjukkan bahwa narasi ini semakin jauh dari kebenaran. Kekerasan yang terus berlanjut mengungkapkan mitos yang selama ini dibangun AS dan menunjukkan betapa sulitnya negara ini melepaskan diri dari pengaruh politik dan militer yang telah lama mengakar.

Salah satu mitos utama yang terus dipertahankan oleh pemerintah AS adalah bahwa negara ini adalah kekuatan yang tak tergantikan di Timur Tengah. Amerika Serikat sering digambarkan sebagai pihak yang dapat memaksa kedua belah pihak, Israel dan Palestina , untuk mencapai kesepakatan damai. Namun, kenyataannya pengaruh AS di kawasan ini semakin berkurang. Seiring dengan perkembangan politik global dan munculnya kekuatan baru seperti China dan Rusia, Israel kini memiliki lebih banyak pilihan dan lebih sedikit bergantung pada dukungan penuh dari AS.

Dalam beberapa tahun terakhir, Israel memperkuat hubungan dengan negara-negara seperti Uni Emirat Arab (UEA) dan Arab Saudi, serta menjalin hubungan yang lebih pragmatis dengan Rusia. Ini mencerminkan kenyataan bahwa kebijakan luar negeri AS di Timur Tengah telah mulai terpinggirkan, dan Amerika tidak lagi menjadi satu-satunya pemimpin dalam mengatur jalannya perdamaian. Seperti yang disampaikan oleh Hussein Agha dan Robert Malley dalam Foreign Affairs (September, 2025), pengaruh AS di kawasan ini semakin terbatas dan hanya berbicara di ruang hampa.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!