Ada AUTP, Petani Cianjur Diajak Asuransikan Lahan Pertanian
Jum'at, 11 September 2020 - 17:18 WIB
Untuk mengikuti Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP), petani bisa bergabung dengan kelompok tani. Selain mendapatkan informasi, petani juga bisa dibantu mengisi formulir pendaftaran dengan mencantumkan NIK, luas lahan, dan jumlah petak yang diasuransikan. Setelah itu, data akan direkap koordinator dan disampaikan ke dinas pertanian untuk ditetapkan.
“Berdasarkan form pendaftaran, perusahaan asuransi akan melakukan assesment pendaftaran, dan mengkonfirmasi pembayaran premi. Premi swadaya bisa dibayarkan ke rekening asuransi pelaksana. Setelah itu polis aktif dan terbit secara otomatis melalui aplikasi SIAP,” terang Sarwo Edhy.
Bentuan premi sebesar 80 persen akan dibayarkan jika Dinas Pertanian telah membuat Daftar Peserta Definitif (DPD) AUTP. Setelah ini, baru petani dinyatakan sah menjadi peserta AUTP pada musim tanam yang didaftarkan.
Sementara Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cianjur, Dedi Supriyadi, mengatakan, pihaknya akan berkoordinasi dengan perangkat daerah teknis yang menangani sektor terdampak kemarau.
"Misalnya seperti di Dinas Pertanian. Kami meminta data pasti lahan yang mengalami kekeringan. Kemudian kita sinkronkan dengan data jaringan irigasi di Dinas PUPR. Kita mintai semua data-datanya," imbuh Dedi.
“Berdasarkan form pendaftaran, perusahaan asuransi akan melakukan assesment pendaftaran, dan mengkonfirmasi pembayaran premi. Premi swadaya bisa dibayarkan ke rekening asuransi pelaksana. Setelah itu polis aktif dan terbit secara otomatis melalui aplikasi SIAP,” terang Sarwo Edhy.
Bentuan premi sebesar 80 persen akan dibayarkan jika Dinas Pertanian telah membuat Daftar Peserta Definitif (DPD) AUTP. Setelah ini, baru petani dinyatakan sah menjadi peserta AUTP pada musim tanam yang didaftarkan.
Sementara Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cianjur, Dedi Supriyadi, mengatakan, pihaknya akan berkoordinasi dengan perangkat daerah teknis yang menangani sektor terdampak kemarau.
"Misalnya seperti di Dinas Pertanian. Kami meminta data pasti lahan yang mengalami kekeringan. Kemudian kita sinkronkan dengan data jaringan irigasi di Dinas PUPR. Kita mintai semua data-datanya," imbuh Dedi.
(alf)
Lihat Juga :