Mengungkap Motif di Balik Pengibaran Bendera One Piece

Selasa, 05 Agustus 2025 - 16:14 WIB
Motif di balik pengibaran bendera bajak laut bertopi Jerami Jolly Roger, lambang kru Topi Jerami dari serial anime One Piece diungkap dalam artikel ini. Foto/SindoNews
JAKARTA - Motif di balik pengibaran bendera bajak laut bertopi Jerami Jolly Roger, lambang kru Topi Jerami dari serial anime One Piece diungkap dalam artikel ini. Diketahui, sebuah simbol fiksi tersebut mengguncang realitas sosial-politik bangsa menjelang Hari Ulang Tahun ke-80 Republik Indonesia.

Bendera One Piece tersebut berkibar berdampingan, berada di bawah, atau dalam beberapa kasus menggantikan bendera Merah Putih. “Bagi sebagian orang, terutama generasi muda digital, pengibaran bendera ini adalah cara baru menyuarakan kritik sosial,” kata Founder Drone Emprit Ismail Fahmi dalam Analisis dan Opini bertajuk ‘Dari Jolly Roger ke Ruang Dialog’, Selasa (5/8/2025).



Dia menilai hal tersebut imajinatif, damai, dan sarat makna. Sebab, para pengibar bendera tersebut menjadikan Jolly Roger bukan sekadar ikon hiburan, tetapi simbol kegelisahan kolektif tentang ketimpangan, korupsi, dan ketidakadilan struktural yang tak kunjung reda.

Baca juga: Menko Polkam Tanggapi Soal Pengibaran Simbol Pengganti Bendera Merah Putih

Seorang pengguna X menyuarakan perasaan banyak orang muda: “Bendera One Piece adalah suara rakyat yang kecewa, tapi tetap cinta negeri ini. Kami tidak punya senjata, kami punya simbol.”

Namun bagi sebagian yang lain, terutama mereka yang pernah mengangkat senjata untuk Merah Putih, momen ini menyayat hati. Pengibaran simbol fiksi di tengah perayaan kemerdekaan dianggap mencederai memori perjuangan.

“Kami dulu mempertaruhkan nyawa agar Merah Putih bisa terus berkibar di bumi Indonesia. Sekarang anak-anak muda malah memilih bendera bajak laut?” begitu ungkap seorang veteran dalam komentar yang banyak dibagikan di media sosial.

Baca juga: Pengibaran Bendera One Piece, Guru Besar UB: Bukan Makar dan Tidak Bisa Dipidanakan

Ismail pun melihat reaksi dari para pejabat pun beragam. Dari yang menyebut aksi ini sebagai ekspresi kreatif, hingga yang menilainya sebagai provokasi berbahaya. Ismail menilai ketegangan tersebut membuka luka yang lebih dalam.

“Bukan sekadar soal bendera, tetapi tentang keterputusan makna antargenerasi tentang bagaimana satu simbol bisa ditafsirkan sebagai harapan oleh satu kelompok, namun dianggap pengkhianatan oleh kelompok lain,” tuturnya.

Makna Jolly Roger



Ismail menjelaskan, secara historis, Jolly Roger adalah istilah untuk bendera bajak laut, biasanya berlatar hitam dengan gambar tengkorak dan tulang bersilang. Dalam sejarah pelayaran, lanjut dia, bendera ini menandakan bahaya dan ketakutan, peringatan bahwa kapal yang mengibarkannya berada di luar hukum dan siap melawan otoritas.

Namun dalam budaya populer, terutama melalui serial One Piece, makna Jolly Roger mengalami transformasi radikal. Ia tidak lagi sekadar simbol kriminalitas laut, tetapi berevolusi menjadi lambang:

• Kebebasan absolut dari sistem yang menindas. Luffy dan krunya bukan bajak laut tradisional, melainkan "pembajak" terhadap tatanan dunia yang korup.

• Persaudaraan dan kesetiaan antar kru. Setiap Jolly Roger bukan hanya identitas kelompok, tetapi ikrar saling menjaga.

• Kemandirian moral, di mana kru Topi Jerami menjalankan keadilan mereka sendiri ketika institusi formal gagal melindungi yang lemah.

• Simbol mimpi dan keberanian. Setiap karakter dalam One Piece membawa impian besar yang tampak mustahil, namun diperjuangkan tanpa menyerah.

Dalam konteks Indonesia, Jolly Roger yang dikibarkan bukan bendera ancaman, tapi simbol naratif. Bahwa dalam dunia yang penuh ketimpangan, keadilan dan solidaritas rakyat bisa memiliki wajah baru, meski lewat bendera fiksi.

Ismail mengungkap warganet menyuarakan ini dengan sangat gamblang di TikTok dan X: “Jolly Roger bukan lambang pemberontakan. Tapi lambang orang kecil yang ingin mimpi mereka dihormati.”

“Dengan demikian, Jolly Roger di Indonesia bukan simbol bajak laut pemangsa. Ia menjadi ikon rakyat kecil yang berani bermimpi dan bersuara, bahkan ketika tidak ada ruang formal yang tersedia untuk mereka,” kata Ismail Fahmi.

Asal Usul



Ismail Fahmi menjelaskan, fenomena pengibaran bendera One Piece di Indonesia tidak muncul tiba-tiba. Jejaknya dapat ditelusuri jauh sebelum viral di media sosial, dan awalnya tidak memiliki nuansa politis ataupun niat untuk memprovokasi.

“Ia tumbuh secara organik dari komunitas jalanan. Khususnya para sopir truk dan pegiat otomotif, yang menemukan identifikasi kuat dalam karakter dan nilai-nilai yang dibawa oleh kru Topi Jerami,” ungkapnya.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!