Pengaruh Kemenangan Zohran Mamdani di Pemilihan Calon Demokrat

Sabtu, 05 Juli 2025 - 07:48 WIB
Dua, membangun kembali semangat dan kepercayaan publik terhadap politik yang hampir saja pudar, khususnya untuk kalangan generasi muda dan millennial. Perkembangan politik di berbagai negara, termasuk di Amerika rentang membosankan dan usang. Seolah perhelatan 4 atau 5 tahunan itu hanya rutinitas yang kurang bermakna.

Politik selalu didominasi oleh pemilik dana besar. Sementara rakyat hanya menjadi obyek bahkan korban kerakusan politik yang seringkali tidak bermoral dan beretika. Dengan kemenangan Zohran di Primary election ini ada sekitar 6000 anak muda di US yang mendaftar jadi calon di berbagai jenjang politik kali ini. Dari City Council, State Assembly hingga posisi Kongress dan US senat.

Tiga, membuktikan bahwa uang memang penting dalam perpolitikan. Tapi uang bukan segala-galanya. Zohran Mamdani hanya seorang anggota legislative negara bagian New York yang relatif baru. Bukan pebisnis dan tidak pula memiliki pendukung dari kalangan Oligarki atau orang-orang kaya. Kekuatan terpenting Zohran adalah “people”. Zohran mampu membangun grass root movement, baik dalam menggalang dana maupun dukungan suara.

Empat, pengalaman tentang sesuatu tidak terdefenisikan dengan lamanya masa dalam melakukannya, termasuk dalam politik dan birokrasi. Tapi lebih kepada kemampuan dan skill dalam mengelolah dalam waktu yang tidak lama. Zohran mampu membangun pergerakan “movement” dalam waktu yang singkat.

Hanya dalam tujuh bulan, dari dukungan 1 persen menjadi pemenang pemilihan primary. Pengalaman tidak terukur oleh masa, tapi hasil akhir.

Lima, sudah bukan masanya ragu, malu, apalagi takut membuka diri dengan identitas pribadi yang paling penting (keyakinan agama). Di tengah meningginya kesalah pahaman dan Islamophobia di Amerika, Zohran terbuka dan bangga mendeklarasikan diri sebagai Calon Wali Kota New York pertama yang beragama Islam.

Dan ini di kota Yahudi terbesar di luar Israel. Ada sekitar 1.2 juta Yahudi di Kota New York. Zohran tidak khawatir kehilangan dukungan karena komitmen dengan identitasnya sebagai seorang Muslim.

Di negara seberang seringkali politisi justeru malu dengan identitas keislaman. Khawatir dituduh ekstrim atau radikal. Ada juga identitas Islam dipakai untuk kepentingan politik semata.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!