Zero Terrorist Attack Bukan Jaminan, Waspada Tetap Harus Ditingkatkan
Selasa, 10 Juni 2025 - 00:13 WIB
Salah satu bukti ancaman nyata adalah adanya penangkapan terduga anggota terorisme beriinisial MAS (18) yang ditangkap oleh Densus 88 Anti Teror pada 24 Mei 2025 di Gowa, Sulawesi Selatan. MAS diduga menjadi anggota kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD) yang terafiliasi dengan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). Juga penyebar propaganda ISIS di Purworejo beberapa waktu lalu.
Oleh karena itu, menurut Mirra, penting untuk menyeimbangkan antara optimisme akan pencapaian zero terrorist attack dengan kewaspadaan terhadap potensi ancaman yang lebih sulit terlihat. Mirra menekankan bahwa kelompok teroris dapat beradaptasi, bermetamorfosis baik dalam strategi maupun di dalam kelompoknya itu sendiri.
"Apa yang perlu kita lakukan adalah kita harus terus mengamati, terus mengobservasi, mengidentifikasi untuk mengenali potensi resiko itu, termasuk environment yang mendukung terjadinya serangan terorisme," kata Mirra.
Ia mengungkapkan, hasil survei nasional laboratorium psikologi politik tahun 2021 menunjukkan indeks potensi konflik tertinggi di Indonesia adalah di wilayah-wilayah yang pernah terjadi konflik sebelumnya. Ini merupakan peringatan bagi pemerintah untuk menyusun mitigasi terjadinya konflik di wilayah wilayah tersebut yang bisa memungkinkan resiko-resiko itu berkembang menjadi ke arah kekerasan ekstrem.
"Perlu mengobservasi dan mengidentifikasi faktor-faktor yang mungkin terjadi di wilayah-wilayah bekas konflik itu," ujarnya.
Oleh karena itu, menurut Mirra, penting untuk menyeimbangkan antara optimisme akan pencapaian zero terrorist attack dengan kewaspadaan terhadap potensi ancaman yang lebih sulit terlihat. Mirra menekankan bahwa kelompok teroris dapat beradaptasi, bermetamorfosis baik dalam strategi maupun di dalam kelompoknya itu sendiri.
"Apa yang perlu kita lakukan adalah kita harus terus mengamati, terus mengobservasi, mengidentifikasi untuk mengenali potensi resiko itu, termasuk environment yang mendukung terjadinya serangan terorisme," kata Mirra.
Ia mengungkapkan, hasil survei nasional laboratorium psikologi politik tahun 2021 menunjukkan indeks potensi konflik tertinggi di Indonesia adalah di wilayah-wilayah yang pernah terjadi konflik sebelumnya. Ini merupakan peringatan bagi pemerintah untuk menyusun mitigasi terjadinya konflik di wilayah wilayah tersebut yang bisa memungkinkan resiko-resiko itu berkembang menjadi ke arah kekerasan ekstrem.
"Perlu mengobservasi dan mengidentifikasi faktor-faktor yang mungkin terjadi di wilayah-wilayah bekas konflik itu," ujarnya.
Lihat Juga :