Koordinator Staf Khusus Presiden: Bali Perlu Seimbangkan antara Gas dan Rem

Senin, 07 September 2020 - 19:39 WIB
Sedangkan Case Fatality Rate Bali (CFR) 1,6% juga dibawah rata-rata nasional sebesar 4,2%. Demikian juga dengan angka Case Recovery Rate (CRR) Bali mencapai 81,1% atau lebih tinggi dibandingkan angka rata-rata nasional sebesar 70,6%. Terkait angka sembuh, Bali ada diperingkat 9. Walaupun dari angka-angka yang ada, Bali masih lebih baik dari rata-rata nasional. Dalam kesempatan itu, Ari juga mengingatkan kemampuan Bali untuk melandaikan kurva covid-19 akan menentukkan kecepatan pemulihan ekonomi Bali yang mengalami kontraksi cukup dalam. Menurut Ari, perhatian khusus diberikan pemerintah pusat pada ekonomi Bali, mengingat Provinsi Bali mengalami kontraksi ekonomi dalam dua kuartal terakhir.

Pada kuartal I tahun 2020, saat ekonomi Indonesia tumbuh 2.97%, pertumbuhan ekonomi Bali mengalami kontraksi (minus 1.14%); dan pada kuartal II saat perekonomian nasional terkontraksi (minus 5.32%), perekonomian Bali mengalami kontraksi paling dalam dibandingkan seluruh provinsi di Indonesia yaitu (minus 10.98%). ”Selain Bali, tercatat lima provinsi lain yang juga mengalami kontraksi cukup dalam yaitu secara berturut-turut Provinsi DKI Jakarta (minus 8,22); Provinsi Banten (minus 7,40); Provinsi DI Yogyakarta (minus 6,74) dan Provinsi Kepulauan Riau (minus 6,66) serta Provinsi Jawa Barat (minus 5.98),” katanya. (Baca juga: Pemprov Bali Bersama Majelis Adat Bentuk Satgas Lawan Covid-19)

Ari Dwipayana menegaskan posisi Bali sebagai destinasi pariwisata unggulan Indonesia serta destinasi utama pariwisata Indonesia membuat penanganan Covid-19 di Provinsi Bali semakin penting dan mendesak. Anjoknya ekonomi Bali berdampak pada daerah daerah lain. Banyak aktivitas perekonomian di daerah lain yang terkait pariwisata Bali terkena dampak atas penurunan aktivitas pariwisata di Bali.

Secara keseluruhan, kata Ari Dwipayana, jumlah wisatawan mancanegara yang datang ke Indonesia pada Juli 2020 jika dibandingkan dengan Juli 2019 mengalami penurunan minus 89,12% atau 159,8 ribu pada Juli 2020, sedangkan pada Juli 2019 mencapai 1.468,2 ribu.

Jumlah kunjungan wisman Januari-Juli 2020 menurun 64,64% dibanding Januari-Juli 2019. Perkembangan tingkat Penghunian Kamar (TPK) Hotel Klasifikasi Bintang pada Juli 2020 mencapai rata-rata 28,07% atau turun 28,66 poin dibandingkan TPK Juli 2019 sebesar 56,73%. Begitu juga penerbangan domestik Juli 2020 dibandingkan Juli 2019 mengalami penurunan 79,58%.

”Karena itu kesiapan Bali untuk menggerakkan kembali sektor pariwisata sangat penting dan strategis maknanya bagi mengeliatnya kembali sektor pariwisata di daerah lain di Indonesia. Untuk itu berbagai persiapan untuk memulihkan kepercayaaan dan membuat wisatawan merasa aman untuk datang ke Bali kembali sangat diperlukan,” katanya.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!