Kapolda Jabar Kariernya Melejit hingga Jadi Kapolri, Nomor 2 Raih Dua Bintang dalam 18 Hari
Jum'at, 27 Oktober 2023 - 06:00 WIB
Seiring kariernya yang menanjak, Banu juga membekali diri dengan belajar di Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK-PTIK). Beberapa jabatan yang pernah diemban adalah Kapolda Jawa Barat (1991-1992) dan Kapolda Metro Jaya (1992-1993). Pada 6 April 1993 Banu dilantik menjadi Kapolri ke-12 oleh Presiden Soeharto di Istana Negara menggantikan Jenderal Kunarto.
Tugas sebagai Kapolri diawali Banurusman dengan mengeluarkan kebijakan "Jati Diri Polri" yang artinya mengajak anggotanya mengingat jati dirinya sebagai seorang Polri. Selama kepemimpinannya, dia tidak pernah mencari keuntungan untuk dirinya sendiri. Dia selalu mengikuti hal positif yang telah diterapkan oleh para pendahulunya.
Banurusman juga dikenal sosok jenderal polisi yang cerdas dan inovatif. Dia selalu berupaya mengembangkan gagasannya agar Polri semakin maju. Untuk mendekatkan dengan masyarakat di bidang pelayanan, ia menciptakan slogan "Senyum, Sapa, dan Salam". Adapun motto yang mewakili kepemimpinannya yaitu "Tekadku Pengabdian Terbaik, Sukses Melalui Kebersamaan, dan Suksesku adalah Senyummu".
Lulusan SMAN Tasikmalaya tahun 1961 ini mengakhiri masa jabatannya sebagai Kapolri pada 1996. Banurusman telah meninggal dunia pada 6 November 2012 di usia 71 tahun. Jenazahnya dimakamkan di tempat Pemakaman Keluarga di Kampung Cibeuti, Kawalu, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat.
FOTO/MUSEUMPOLRI.ORG
Kapolda Jawa Barat selanjutnya yang memiliki karier melejit hingga menjadi Kapolri adalah Jenderal Polisi (Purn) Timur Pradopo. Abiruten Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Akabri) 1978 ini menjabat Kapolri dari 22 Oktober 2010–25 Oktober 2013.
Timur Pradopo termasuk polisi yang memiliki karier cemerlang. Pria kelahiran Jombang, Jawa Timur, 10 Januari 1956 itu mengawali karier di kepolisian sebagai Pamapta Poltabes Semarang. Kariernya terus menanjak hingga menduduki sejumlah jabatan setrategis. Antara lain Wakapolres Tangerang, Kapolres Metro Jakarta Barat (1997-1999), Kapolres Metro Jakarta Pusat (1999-2000), dan Kapuskodal Ops Polda Jawa Barat (2000).
Ia juga pernah menjabat Kapolres Banten (2005-2008), Kepala Balai Diklat Polri Perwira (2008), Kapolda Jawa Barat (2008-2010), Kapolda Metro Jaya (2010), Kabid Badan Pemeliharaan Keamanan (Kabaharkam) Polri (2010), dan Kapolri (2010-2013).
Yang menarik dari Timur Pradopo adalah menempati tiga jabatan dalam waktu singkat, yakni Kapolda Metro Jaya, Kabaharkam Polri, dan Kapolri. Ia menjabat Kapolda Metro Jaya pada 22 Juni-7 Oktober 2010. Setelah itu, ia dilantik menjadi Kabaharkam Polri. Bintang di pundaknya pun langsung berubah dari 2 menjadi 3 atau Komisaris Jenderal (Komjen).
Timur Pradopo menjabat Kabaharkam Polri dari 7– 22 Oktober 2010. Selanjutnya ia dilantik oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menjadi Kapolri menggantikan Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri yang memasuki masa pensiun. Pangkat Timur Pradopo pun kembali baik dari Komjen Pol menjadi Jenderal Pol. Itu artinya perwira tinggi polisi yang memiliki kumis khas itu berhasil naik pangkat dua tingkat dan dua bintang hanya dalam waktu 18 hari.
Tugas sebagai Kapolri diawali Banurusman dengan mengeluarkan kebijakan "Jati Diri Polri" yang artinya mengajak anggotanya mengingat jati dirinya sebagai seorang Polri. Selama kepemimpinannya, dia tidak pernah mencari keuntungan untuk dirinya sendiri. Dia selalu mengikuti hal positif yang telah diterapkan oleh para pendahulunya.
Banurusman juga dikenal sosok jenderal polisi yang cerdas dan inovatif. Dia selalu berupaya mengembangkan gagasannya agar Polri semakin maju. Untuk mendekatkan dengan masyarakat di bidang pelayanan, ia menciptakan slogan "Senyum, Sapa, dan Salam". Adapun motto yang mewakili kepemimpinannya yaitu "Tekadku Pengabdian Terbaik, Sukses Melalui Kebersamaan, dan Suksesku adalah Senyummu".
Lulusan SMAN Tasikmalaya tahun 1961 ini mengakhiri masa jabatannya sebagai Kapolri pada 1996. Banurusman telah meninggal dunia pada 6 November 2012 di usia 71 tahun. Jenazahnya dimakamkan di tempat Pemakaman Keluarga di Kampung Cibeuti, Kawalu, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat.
2. Jenderal Polisi (Purn) Drs Timur Pradopo, SIK
FOTO/MUSEUMPOLRI.ORG
Kapolda Jawa Barat selanjutnya yang memiliki karier melejit hingga menjadi Kapolri adalah Jenderal Polisi (Purn) Timur Pradopo. Abiruten Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Akabri) 1978 ini menjabat Kapolri dari 22 Oktober 2010–25 Oktober 2013.
Timur Pradopo termasuk polisi yang memiliki karier cemerlang. Pria kelahiran Jombang, Jawa Timur, 10 Januari 1956 itu mengawali karier di kepolisian sebagai Pamapta Poltabes Semarang. Kariernya terus menanjak hingga menduduki sejumlah jabatan setrategis. Antara lain Wakapolres Tangerang, Kapolres Metro Jakarta Barat (1997-1999), Kapolres Metro Jakarta Pusat (1999-2000), dan Kapuskodal Ops Polda Jawa Barat (2000).
Ia juga pernah menjabat Kapolres Banten (2005-2008), Kepala Balai Diklat Polri Perwira (2008), Kapolda Jawa Barat (2008-2010), Kapolda Metro Jaya (2010), Kabid Badan Pemeliharaan Keamanan (Kabaharkam) Polri (2010), dan Kapolri (2010-2013).
Yang menarik dari Timur Pradopo adalah menempati tiga jabatan dalam waktu singkat, yakni Kapolda Metro Jaya, Kabaharkam Polri, dan Kapolri. Ia menjabat Kapolda Metro Jaya pada 22 Juni-7 Oktober 2010. Setelah itu, ia dilantik menjadi Kabaharkam Polri. Bintang di pundaknya pun langsung berubah dari 2 menjadi 3 atau Komisaris Jenderal (Komjen).
Timur Pradopo menjabat Kabaharkam Polri dari 7– 22 Oktober 2010. Selanjutnya ia dilantik oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menjadi Kapolri menggantikan Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri yang memasuki masa pensiun. Pangkat Timur Pradopo pun kembali baik dari Komjen Pol menjadi Jenderal Pol. Itu artinya perwira tinggi polisi yang memiliki kumis khas itu berhasil naik pangkat dua tingkat dan dua bintang hanya dalam waktu 18 hari.
Lihat Juga :