Bertampang Bule, Ajudan Jenderal Ini Nyamar Jadi Turis Mata-Matai Inggris dan Malaysia
Rabu, 25 Januari 2023 - 06:10 WIB
Kapten Czi (Anumerta) Pierre Andries Tendean merupakan perwira militer Indonesia yang menjadi salah satu korban peristiwa Gerakan 30 September pada tahun 1965. Foto/Istimewa
JAKARTA - Kapten Czi (Anumerta) Pierre Andries Tendean merupakan perwira militer Indonesia yang menjadi salah satu korban peristiwa Gerakan 30 September pada tahun 1965. Ia wafat dalam usia yang masih muda 26 tahun.
Meski gugur dalam usia yang masih sangat muda, sepak terjang Ajudan Menteri Koordinator Pertahanan dan Keamanan sekaligus Kepala Staf Angkatan Bersenjata Jenderal Abdul Haris (AH) Nasution ini patut diacungi jempol. Pria berwajah tampan bak "bule" ini merupakan seorang mata-mata. Baca juga: Waktu Kecil Dorong Sepeda Soeharto, Siapa Sangka Sosok Ini Jadi Jenderal TNI Kepercayaan Presiden
Selepas menamatkan pendidikannya di Akademi Teknik Angkatan Darat (Atekad), Pierre langsung menjalani tugasnya untuk menjadi komandan peleton di Batalion Zeni Tempur 2 Kodam II/Sriwijaya, Bukit Barisan, Sumatera Utara. Bukan hal baru karena sebelumnya ketika Pemberontakan PRRI meletus, Pierre juga menjalani tugas praktik lapangan untuk menumpas pemberontakan di wilayah Sumatera.
Kecakapan sebagai seorang komandan peleton dalam memimpin pasukan teruji selama ia memangku jabatan tersebut. Meskipun jauh, Pierre selalu membiasakan diri untuk berkabar dengan menuliskan surat untuk kedua orang tua dan kakak adiknya di Semarang.
"Dalam suratnya, Pierre menulis tentang suka-dukanya sebagai Perwira Muda menghadapi atasan dan bawahan. Ada kalanya Pierre diminta atasan untuk menjadi penerjemah dalam pembicaraan atasan dengan tamu asing yang kadang-kadang diadakan di atas kapal asing yang berlabuh di Belawan. Pierre yang senantiasa humoris pernah berkata, 'Lumayan juga aku mendapat tugas sebagai interpreter di samping tugas saya sebagai Dan Ton Zipur. Mendengar banyak, melihat banyak, dan last but not least makanan enak yang disuguhkan di atas kapal.' Begitulah Pierre selalu menyempatkan diri menulis surat kepada kami," ujar Mitzi, kakak Pierre tendean dalam buku "Pierre Tendean, Jejak Sang Ajudan" dikutip, Rabu (25/1/2023).
Meski gugur dalam usia yang masih sangat muda, sepak terjang Ajudan Menteri Koordinator Pertahanan dan Keamanan sekaligus Kepala Staf Angkatan Bersenjata Jenderal Abdul Haris (AH) Nasution ini patut diacungi jempol. Pria berwajah tampan bak "bule" ini merupakan seorang mata-mata. Baca juga: Waktu Kecil Dorong Sepeda Soeharto, Siapa Sangka Sosok Ini Jadi Jenderal TNI Kepercayaan Presiden
Selepas menamatkan pendidikannya di Akademi Teknik Angkatan Darat (Atekad), Pierre langsung menjalani tugasnya untuk menjadi komandan peleton di Batalion Zeni Tempur 2 Kodam II/Sriwijaya, Bukit Barisan, Sumatera Utara. Bukan hal baru karena sebelumnya ketika Pemberontakan PRRI meletus, Pierre juga menjalani tugas praktik lapangan untuk menumpas pemberontakan di wilayah Sumatera.
Kecakapan sebagai seorang komandan peleton dalam memimpin pasukan teruji selama ia memangku jabatan tersebut. Meskipun jauh, Pierre selalu membiasakan diri untuk berkabar dengan menuliskan surat untuk kedua orang tua dan kakak adiknya di Semarang.
"Dalam suratnya, Pierre menulis tentang suka-dukanya sebagai Perwira Muda menghadapi atasan dan bawahan. Ada kalanya Pierre diminta atasan untuk menjadi penerjemah dalam pembicaraan atasan dengan tamu asing yang kadang-kadang diadakan di atas kapal asing yang berlabuh di Belawan. Pierre yang senantiasa humoris pernah berkata, 'Lumayan juga aku mendapat tugas sebagai interpreter di samping tugas saya sebagai Dan Ton Zipur. Mendengar banyak, melihat banyak, dan last but not least makanan enak yang disuguhkan di atas kapal.' Begitulah Pierre selalu menyempatkan diri menulis surat kepada kami," ujar Mitzi, kakak Pierre tendean dalam buku "Pierre Tendean, Jejak Sang Ajudan" dikutip, Rabu (25/1/2023).
Lihat Juga :