Tiga Alasan SBY Kembali Didorong Pimpin Demokrat
Sabtu, 09 Mei 2015 - 07:35 WIB
Tiga Alasan SBY Kembali Didorong Pimpin Demokrat
A
A
A
JAKARTA - Politikus Partai Demokrat Gede Pasek Suardika mengungkapkan Kongres Partai Demokrat 11-13 Mei 2015 mendatang di Surabaya penuh rekayasa. Arahnya untuk menyingkirkan kader partai yang berniat ikut kompetisi memperebutkan kursi ketua umum partai.
Mengomentari hal itu, Ketua Pusat Studi Politik dan Keamanan Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung Muradi melihat, tiga alasan terkait sejumlah langkah dan manuver untuk memastikan agar SBY kembali memimpin Demokrat dan berimplikasi menjegal calon lain.
"Pertama, keyakinan elite politik Partai Demokrat bahwa SBY perlu memastikan transisi kepemimpinan di Demokrat dapat berjalan dengan baik, yang mana salah satunya dengan tetap menjadi ketum dari partai pemenang Pemilu 2009 tersebut," ujarnya ketika dihubungi Sindonews, Sabtu (9/5/2015).
Selain itu, lanjut Muradi, ketiadaan figur yang kuat di luar SBY membuat sebagian elite Demokrat beranggapan bahwa SBY harus kembali memimpin. Tujuannya, agar Demokrat tidak lagi tersandera dan menjadi alat tawar politik semata sebagaimana dulu Anas menang pada Kongres lalu.
"Kedua, simbolisasi ideologis Demokrat ada pada figur SBY sendiri. Sehingga sulit melepaskan dan menganggap tidak ada SBY menjelang Kongres di Surabaya ini," ucap dia.
Artinya, kata Muradi, ideologi Demokrat itu ada pada figuritas SBY. Apabila SBY tidak lagi mengorbit dan tidak menjadi figur sentral, maka partai berlambang bintang segitiga itu akan hilang dari radar politik nasional.
"Ketiga, jejak dan pijakan politik Demokrat ada pada rekam jejak kekuasaan SBY selama 10 tahun memimpin Indonesia," kata pengajar Universitas Pertahanan ini.
Dia berpendapat, pertanggungjawaban atas keberlangsungan dari eksistensi Demokrat di perpolitikan disematkan di pundak SBY, hingga pada satu titik tertentu akan memperkuat eksistensi Demokrat di perpolitikan nasional.
"Dengan tiga alasan tersebut di atas maka langkah untuk memanipulasi dan bermanuver negatif sebagaimana yang dituduhkan oleh Gede Pasek untuk memenangkan kembali SBY menjadi pembenar atas sejumlah langkah tersebut," tandasnya.
Ditambahkannya, kegundahan politik para kader Demokrat atas masa depan partainya justru mengalahkan tuduhan Gede Pasek atas nama penyelamatan partai.
"Demokrasi anggota bisa saja terkebiri apabila menyangkut soal masa depan partai yang membutuhkan figur SBY yang dianggap sebagai penyelamat," pungkasnya.
Mengomentari hal itu, Ketua Pusat Studi Politik dan Keamanan Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung Muradi melihat, tiga alasan terkait sejumlah langkah dan manuver untuk memastikan agar SBY kembali memimpin Demokrat dan berimplikasi menjegal calon lain.
"Pertama, keyakinan elite politik Partai Demokrat bahwa SBY perlu memastikan transisi kepemimpinan di Demokrat dapat berjalan dengan baik, yang mana salah satunya dengan tetap menjadi ketum dari partai pemenang Pemilu 2009 tersebut," ujarnya ketika dihubungi Sindonews, Sabtu (9/5/2015).
Selain itu, lanjut Muradi, ketiadaan figur yang kuat di luar SBY membuat sebagian elite Demokrat beranggapan bahwa SBY harus kembali memimpin. Tujuannya, agar Demokrat tidak lagi tersandera dan menjadi alat tawar politik semata sebagaimana dulu Anas menang pada Kongres lalu.
"Kedua, simbolisasi ideologis Demokrat ada pada figur SBY sendiri. Sehingga sulit melepaskan dan menganggap tidak ada SBY menjelang Kongres di Surabaya ini," ucap dia.
Artinya, kata Muradi, ideologi Demokrat itu ada pada figuritas SBY. Apabila SBY tidak lagi mengorbit dan tidak menjadi figur sentral, maka partai berlambang bintang segitiga itu akan hilang dari radar politik nasional.
"Ketiga, jejak dan pijakan politik Demokrat ada pada rekam jejak kekuasaan SBY selama 10 tahun memimpin Indonesia," kata pengajar Universitas Pertahanan ini.
Dia berpendapat, pertanggungjawaban atas keberlangsungan dari eksistensi Demokrat di perpolitikan disematkan di pundak SBY, hingga pada satu titik tertentu akan memperkuat eksistensi Demokrat di perpolitikan nasional.
"Dengan tiga alasan tersebut di atas maka langkah untuk memanipulasi dan bermanuver negatif sebagaimana yang dituduhkan oleh Gede Pasek untuk memenangkan kembali SBY menjadi pembenar atas sejumlah langkah tersebut," tandasnya.
Ditambahkannya, kegundahan politik para kader Demokrat atas masa depan partainya justru mengalahkan tuduhan Gede Pasek atas nama penyelamatan partai.
"Demokrasi anggota bisa saja terkebiri apabila menyangkut soal masa depan partai yang membutuhkan figur SBY yang dianggap sebagai penyelamat," pungkasnya.
(kri)