Masyarakat Diminta Antisipasi Radikalisme Atasnamakan Agama

Rabu, 29 April 2015 - 17:03 WIB
Masyarakat Diminta Antisipasi...
Masyarakat Diminta Antisipasi Radikalisme Atasnamakan Agama
A A A
JAKARTA - Gerakan radikalisme harus terus diwaspadai, karena memiliki agenda terselubung bisa memecah belah bangsa Indonesia. Kondisi ini terjadi akibat adanya politisasi untuk menjadikan agama sebagai tameng demi simpatisan dan dukungan.

Staf Ahli Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Wawan Purwanto mengingatkan, radikalisme yang mengatasnamakan agama menjadi ancaman bersama, baik negara maupun masyarakat Indonesia.

"Agama yang semestinya memberikan ajaran tentang perdamaian, karena penyalahgunaan tersebut akhirnya semua dengan seenaknya diputar balik. Seperti ayat-ayat kitab suci dipotong, sehingga tafsirannya menjadi macam-macam sesuai kepentingan politik mereka. Jadi semua itu karena ulah manusianya, bukan agama," ujar Wawan dalam siaran persnya yang diterima Sindonews, Rabu (29/4/2015).

Dia mengatakan, untuk mencegah terbawa irama gendang pembawa gerakan radikal, masyarakat harus memfilter isu yang berkembang. Salah satunya kata Wawan dengan berpegang pada asbabun nuzul (sebab turunnya ayat) dalam mengartikan ayat-ayat kitab suci, khususnya Alquran.

Dia menambahkan, upaya memfilter lainnya adalah harus kritis dengan apa yang terjadi di masyarakat. Lanjutnya, jangan semua ditelan mentah-mentah tanpa menyaring lebih dulu. Dia menambahkan, wawasan dan networking luas juga penting, sehingga mereka tahu apa target dari gerakan tersebut.

"Yang terjadi ayat untuk perang tidak bisa diterapkan di medan damai. Tapi ini dipukul rata sehingga situasi menjadi panas, bahkan sampai terpolarisasi sehingga menimbulkan image baru, pandangan baru yang cenderung minor dan mendiskreditkan," ucapnya.

Senada dengan Wawan Purwanto. Dosen Universitas Muhammadiyah Jakarta, Amirsyah Tambunan berpendapat, tindakan radikalisme bersumber dari manusia, bukan agama dan diharamkan di agama manapun, termasuk agama Islam.

“Di Indonesia, Islam dinilai sebagai agama yang bisa menjunjung tinggi kebersamaan, kerukunan dan saling menghormati antaragama lain. Tidak ada kekerasan dalam Islam,” tandas Amirsyah.
(kur)
Berita Terkait
Panglima Tertinggi Negara...
Panglima Tertinggi Negara Islam di Irak Jassim Al-Mazrouei Tewas Terbunuh
Terungkap, Pengantin...
Terungkap, Pengantin ISIS Shamima Begum Diselundupkan ke Suriah oleh Mata-mata Kanada
Rusia Pulangkan 145...
Rusia Pulangkan 145 Anak Militan ISIS dari Suriah dan Irak
Profil Abu al-Hassan...
Profil Abu al-Hassan al-Hashemi al-Quraishi, Pemimpin ISIS yang Meledakkan Dirinya Saat Dikepung
Profil Jassim Al Mazrouei...
Profil Jassim Al Mazrouei Jenderal Tertinggi ISIS yang Berhasil Dibunuh Tentara Irak
Mengapa ISIS Tidak Berani...
Mengapa ISIS Tidak Berani Menyerang Israel? Ini Penyebabnya
Berita Terkini
Menlu dan Ketua MPR...
Menlu dan Ketua MPR Akan Hadiri Pemakaman Pemimpin Iran Ali Khamenei pada 9 Juli
Cak Imin Bangga, Luluk...
Cak Imin Bangga, Luluk Nur Hamidah Resmi Sandang Gelar Doktor Sosiologi UI
Polri Usut Dugaan Korupsi...
Polri Usut Dugaan Korupsi Pengadaan Pasokan Batu Bara yang Bikin Pemadaman Listrik Bergilir
Presiden Prabowo Sambut...
Presiden Prabowo Sambut Kedatangan PM India Narendra Modi di Lanud Halim Perdanakusuma
Banggar Ungkap Anggaran...
Banggar Ungkap Anggaran MBG Turun pada RAPBN 2027, Jadi Rp174 Triliun
Prabowo dan PM Wong...
Prabowo dan PM Wong Sepakati 26 Kerja Sama, Pertahanan hingga Keselamatan Nuklir
Infografis
Bersiap Perang, 450...
Bersiap Perang, 450 Juta Warga Uni Eropa Diminta Timbun Makanan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved