Ahok Minta Maaf

Sabtu, 21 Maret 2015 - 10:25 WIB
Ahok Minta Maaf
Ahok Minta Maaf
A A A
JAKARTA - Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) meminta maaf atas perkataan kasarnya dalam sebuah program wawancara di stasiun televisi swasta beberapa hari lalu. Ahok mengaku sikapnya merupakan luapan emosi yang terpendam lama.

”Kalau orang yang merasa tersinggung atau merasa tidak suka perkataan saya membawa bahasa toilet, ya saya minta maaf,” kata Ahok di Balai Kota Jakarta kemarin. Mantan bupati Belitung Timur itu menegaskan, situasi di internal Pemprov dan DPRD DKI Jakarta membuat dirinya sangat kesal.

Masih banyak pejabat, baik itu oknum satuan kerja perangkat daerah (SKPD) DKI maupun anggota legislatif yang berniat menggelembungkan anggaran. Padahal, di sisi lain banyak warga Jakarta yang masih hidup di bawah garis kemiskinan. Belum lagi sekitar 40% anakanak di Jakarta putus sekolah.

”Kalau kamu hidup di tengah masyarakat yang begitu miskin, sementara oknum pejabat nyolong uang gila-gilaan dan dengan santungaya bahasaagama, kamu muak nggak kira-kira? Nah, itu ungkapan perasaan saya yang udah nggak tahan,” katanya.

Seperti diberitakan, Ahok mengungkapkan kata-kata tak etis ketika menjadi narasumber sebuah program dialog televisi swasta yang disiarkan langsung (live) Selasa (17/3) petang. Tak mampu menahan emosi, dengan muka merah padam Ahok mengobral kalimat-kalimat tak pantas. ”Itu t*ik-t*ik semua...,” kata Ahok merespons pertanyaan seputar penggelembungan anggaran APBD.

Dalam rekaman yang beredar di media sosial, presenter acara yang tampak terkejut dengan ungkapan tersebut mencoba menahan dan mengingatkan Ahok terutama dalam kapasitasnya sebagai gubernur DKI Jakarta. ”Pak, kita sedang live , dengan segala hormat...,” katanya.

Namun, saran itu tak membuat Ahok kendur. Masih dengan raut muka murka, suami Veronica Tan itu kembali mengumbar kata-kata tak pantas. ”Emang t*ik, terus kudu bilang apa???” katanya. Ahok menjelaskan, menurut teman-temannya, perkataan ”bahasa toilet” masih dinilai wajar apabila dibandingkan dengan kemunafikan atau kepura- puraan oknum pejabat yang hidup bermewah-mewahan.

Situasi seperti ini pula yang mendorongnya masuk dunia politik. Saat menjadi pengusaha, Ahok mengaku tidak mampu menolong orang miskin yang jumlahnya mencapai 500.000 atau bahkan semiliar orang.

”Makanya jujur saja, saya jadi politisi di tengah kemarahan, kemarahan melihat oknum pejabat yang korup, tapi santun luar biasa, tapi rakyat begitu miskin. Makanya saya marah. Itu kemuakan hati saya aja. Nggakbisa nahan, ya keluar,” tegasnya.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) meminta agar Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, serta DPRD selaku lembaga pengawas mengarahkan Ahok untuk bersikap dan memimpin dengan cara baik.

”Mendagri wajib menegakkan kode etik tentang pimpinan daerah yang tidak dapat menjadi teladan baik bagi anak-anak bangsa. Penegakan kode itu penting dilakukan untuk menjamin tegaknya good governance dan clean government,” kata Ketua KPAI Asrorun Ni’am Sholeh.

Sementara itu, Forum Warga Kota Jakarta (Fakta) meminta Presiden Joko Widodo memberikan teguran kepada Ahok. Bagaimanapun sebagai seorang kepala daerah, Ahok mestinya memberikan teladan baik.

Lepas dari tekadnya memberangus korupsi, kalimat-kalimat caci maki tidak bisa dilontarkan begitu saja oleh kepala daerah. ”Akan sangat bahaya seorang pejabat bicara seperti itu, nantinya (yang melihat) pada mencontoh, apalagi anakanak,” kata Ketua Fakta Azas Tigor Nainggolan.

Dia menilai pernyataan Ahok dalam wawancara itu sudah keterlaluan. ”Sebagai gubernur harusnya Ahok bisa mengendalikan diri dan tidak lepas kontrol seperti itu,” katanya. Politikus Partai Golkar Tantowi Yahya mengajak semua masyarakat untuk bersamasama mengingatkan pemimpinnya agar bertindak bijaksana.

Jangan sampai Indonesia menjadi bangsa yang memaklumi tindakan-tindakan melanggar etika hanya demi kehebohan sesaat. Publik harus sadar bahwa tidak boleh republik ini dipimpin oleh seseorang yang mengumbar kata-kata yang memancing permusuhan.

”Sebab tidak mustahil hal itu nanti akan menimbulkan konflik. Pertikaian yang terus-menerus semakin tidak produktif bagi rakyat ini,” tegas dia.

Bima setiyadi/ sindonews
(ftr)
Berita Terkait
Maria Lumowa Berhasil...
Maria Lumowa Berhasil Diekstradisi ke Indonesia, Simak Kronologis Lengkapnya
Gagal Lolos PPDB, Siswi...
Gagal Lolos PPDB, Siswi Berprestasi Peraih 700 Penghargaan Putus Sekolah
Paskah Nasional 2022...
Paskah Nasional 2022 Wujud Pemulihan Ekonomi Nasional
BSSN Gelar Simposium...
BSSN Gelar Simposium Nasional Wujudkan Keamanan Siber Nasional
Hari Pelanggan Nasional...
Hari Pelanggan Nasional 2020
Libur Panjang Kenaikan...
Libur Panjang Kenaikan Isa Almasih, Ribuan Penumpang Padati Stasiun Lempuyangan Yogyakarta
Berita Terkini
Kawal Anggaran Negara,...
Kawal Anggaran Negara, Pengamat Dukung Kejagung Usut Tuntas BGN hingga ke Daerah
KPK: Silmy Karim Kantongi...
KPK: Silmy Karim Kantongi Rp100 Juta per Pekan dari Pemerasan Izin Tinggal WNA
Nanik S Deyang Ungkap...
Nanik S Deyang Ungkap Mayjen Trenggono Segera Mundur dari TNI usai Jadi Wakil Kepala BGN
Tutup P3N 27, Gubernur...
Tutup P3N 27, Gubernur Lemhannas Tegaskan Pemimpin Nasional Harus Berintegritas, Adaptif, dan Visioner
Jejak Uang Rp366,7 Miliar...
Jejak Uang Rp366,7 Miliar ke Pegawai Imipas Bongkar Dugaan Pemerasan oleh Silmy Karim
Kejagung Tak Sita Motor...
Kejagung Tak Sita Motor Listrik Kasus Dugaan Korupsi di Badan Gizi Nasional, Ini Alasannya
Infografis
Kumpulan Ucapan Minal...
Kumpulan Ucapan Minal Aidin Wal Faizin Mohon Maaf Lahir Batin
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved