Pemulangan TKI Bermasalah Dikaji Ulang

Senin, 02 Maret 2015 - 10:47 WIB
Pemulangan TKI Bermasalah...
Pemulangan TKI Bermasalah Dikaji Ulang
A A A
JAKARTA - Pemerintah akan membuat kajian kembali atas pemulangan tenaga kerja Indonesia (TKI) bermasalah. Langkah tersebut diambil menyusul minimnya anggaran negara untuk pemulangan TKI tersebut.

Menteri Tenaga Kerja (Menaker) M Hanif Dhakiri mengatakan saat ini pemulangan mulai dilakukan dari beberapa negara penempatan. Selain itu proses identifikasi terus dilakukan, termasuk perencanaan untuk memastikan berapa banyak, tahapannya seperti apa, dan kesiapan pembiayaannya. Menurut dia, diperlukan kajian yang lebih mendalam dengan memperhatikan kemampuan negara dalam membantu biaya pemulangan TKI dari negaranegara penempatan.

”Untuk pembiayaan memang harus dikaji juga. Nanti kan di grand design pemulangan TKI diatur mengenai pembagian tugas dan pembagian biaya yang mampu ditanggung masing-masing pihak terkait,” kata Hanif di Kantor Kemenaker kemarin. Politikus PKB itu menjelaskan, pemerintah pun membuat grand design pemulangan TKI dengan melibatkan kementerian dan lembaga (K/L) terkait di bawah koordinasi Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Puan Maharani.

Dia menjelaskan, skema tersebut berisi antara lain tentang mekanisme pemulangan, pembagian tugas dan dukungan pembiayaan masing-masing kementerian dan lembaga terkait. Hanif mengatakan, proses pemulangan TKI yang ilegal dan bermasalah di luar negeri merupakan bagian dari pembenahan tata kelola penempatan dan perlindungan TKIsecara keseluruhan.

Dengan adanya grand design pemulangan TKI, prosesnya akan lebih cepat dan sistematis. Koordinasi lintas instansi ini memang diperlukan dalam mempercepat proses pemulangan TKI. Analis Kebijakan Migrant Care WahyuSusilomenilaipemulangan TKI ilegal dari berbagai negara penempatan seperti Malaysia yang dilakukan pemerintah merupakan langkah ad hoc.

Kebijakan ini akan percuma tanpa dibarengi diplomasi jangka panjang terkait masalah buruh migran di negara jiran tersebut. Menurut dia, mungkin ada manfaatnya untuk jangka pendek namun pemerintah harus menempuh cara diplomasi sambil mencari solusi.

Neneng zubaidah
(ars)
Berita Terkait
Maria Lumowa Berhasil...
Maria Lumowa Berhasil Diekstradisi ke Indonesia, Simak Kronologis Lengkapnya
Gagal Lolos PPDB, Siswi...
Gagal Lolos PPDB, Siswi Berprestasi Peraih 700 Penghargaan Putus Sekolah
Paskah Nasional 2022...
Paskah Nasional 2022 Wujud Pemulihan Ekonomi Nasional
Hari Pelanggan Nasional...
Hari Pelanggan Nasional 2020
BSSN Gelar Simposium...
BSSN Gelar Simposium Nasional Wujudkan Keamanan Siber Nasional
Libur Panjang Kenaikan...
Libur Panjang Kenaikan Isa Almasih, Ribuan Penumpang Padati Stasiun Lempuyangan Yogyakarta
Berita Terkini
Hebat! Kota Semarang...
Hebat! Kota Semarang Raih Penghargaan Nasional Creative Financing, Bukti Inovasi Pemkot Hadirkan Pembangunan yang Berdampak
2 Wamen Kabinet Prabowo...
2 Wamen Kabinet Prabowo Terjerat Korupsi, Nomor 1 Divonis 4,5 Tahun Penjara
Perang Iran 20266: Ketika...
Perang Iran 20266: Ketika Diplomasi Berbicara dengan Bahasa Rudal
Prabowo akan Menerima...
Prabowo akan Menerima Surat Kepercayaan dari 17 Dubes pada 8 Juni 2026
Said Iqbal soal Sinyal...
Said Iqbal soal Sinyal Masuk Kabinet Prabowo: Kita Tunggu Pengumuman Resmi
3 Pati dan Pamen Dimutasi...
3 Pati dan Pamen Dimutasi Kapolri ke Kortastipidkor, Ada Irjen hingga Kombes Pol
Infografis
Ketua Umum PP Muhammadiyah...
Ketua Umum PP Muhammadiyah Minta PPN 12% Dikaji Ulang
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved