Politik Belum Munculkan Pemimpin Negarawan

Minggu, 22 Februari 2015 - 09:10 WIB
Politik Belum Munculkan...
Politik Belum Munculkan Pemimpin Negarawan
A A A
JAKARTA - Kegaduhan politik yang ditandai kisruh antara dua lembaga penegak hukum dan tarik- menarik kepentingan antara eksekutif dan legislatif pada pemerintahan baru dipicu minimnya pemimpin nasional yang memiliki integritas dan bisa menjadi teladan bagi publik.

Ketua Pusat Studi Islam dan Kenegaraan Indonesia Yudi Latief mengatakan, kegaduhan ini merupakan sebuah konsekuensi karena yang muncul saat ini hanya aktor-aktor politik. ”Saat ini terjadi surplus politisi dan defisit negarawan, politik hanya dipersatukan oleh dua hal, yakni kepentingan dan ketakutan,” ujarnya pada diskusi bertema ”Meretas Kegaduhan Politik” di Jakarta kemarin.

Menurut Yudi, politik yang diwarnai dengan kepentingan dan ketakutan akan menimbulkan kegaduhan karena tidak ada lagi kepercayaan. Akibatnya, sesama anak bangsa saling mengkhianati dan siapa yang lebih dahulu dia yang mendapatkan apa. ”Kalau pemimpin bisa menunjukkan keteladanannya, masyarakat akan mengikutinya,” ujar dia.

Menurutnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebagai orang nomor satu di republik ini, seharusnya menempatkan dirinya sebagai negarawan, bukan hanya sebagai politisi. Yudi menduga, proses politik Jokowi dari wali kota, gubernur kemudian menjadi presiden terlalu cepat sehingga dalam beberapa hal, ada yang tidak sepenuhnya dikuasai.

”Daya baca dan penguasaanpenguasaan ideologis, basis kenegaraan lemah. Kalau Jokowi memiliki itu, tentunya dia sangat memahami jika dirinya mengangkat orang-orang yang tidak tepat untuk jabatan politik,” sebutnya. Dia mencontohkan, bagaimana pemilihan orang-orang yang duduk di kementrian. Saat ini banyak menteri yang tidak memenuhi standar.

Padahal, menteri itu bukan jabatan politik biasa, tapi juga penyelenggara pemerintahan sehari-hari. Begitu juga dengan pengangkatan Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres). ”Wantimpres semestinya diisi oleh orang agung atau luhur yang punya kemuliaan sebagai negarawan, itulah yang pantas jadi penasihat Presiden. Tapi ternyata mereka rata-rata berasal dari partai politik.

Ketika ada kasus KPK-Polri, Wantimpres sama sekali tidak berfungsi sehingga Jokowi menambalnya dengan Tim 9,” katanya. Pakar politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Mochtar Pabottingi menilai kegaduhan politik yang terjadi saat ini karena adanya kecenderungan suatu kubu yang ingin menguasai pimpinan lembaga-lembaga hukum mulai dari kejaksaan, kehakiman hingga Kemenko Polhukam.

”Dan kini Polri mau dikuasai. Padahal hukum itu menentukan ke depannya. Proyek besar Nawacita akan kandas kalau dikuasai satu kubu,” jelasnya. Selain itu, adanya upaya dari pimpinan PDIP untuk menjadikan Presiden sebagai petugas partai. Kondisi tersebut sangat disayangkan karena dalam pengangkatan pejabat ada tuntutan integritas dan kompetensi.

”Tuntutan integritas ini hendak dibalikkan substansinya sesuai dengan kepentingan,” urainya. Sebagai presiden, Jokowi semestinya tidak dilabeli petugas partai. Sebab kepala negara merupakan milik rakyat Indonesia. ”Wacana petugas partai sangat merugikan. Kekisruhan akan mereda, syaratnya Presiden harus tahu posisinya sebagai negarawan. Membuktikan diri bukan petugas partai, tapi negarawan,” ucapnya.

Sucipto
(bbg)
Berita Terkait
Maria Lumowa Berhasil...
Maria Lumowa Berhasil Diekstradisi ke Indonesia, Simak Kronologis Lengkapnya
Gagal Lolos PPDB, Siswi...
Gagal Lolos PPDB, Siswi Berprestasi Peraih 700 Penghargaan Putus Sekolah
Paskah Nasional 2022...
Paskah Nasional 2022 Wujud Pemulihan Ekonomi Nasional
BSSN Gelar Simposium...
BSSN Gelar Simposium Nasional Wujudkan Keamanan Siber Nasional
Hari Pelanggan Nasional...
Hari Pelanggan Nasional 2020
Libur Panjang Kenaikan...
Libur Panjang Kenaikan Isa Almasih, Ribuan Penumpang Padati Stasiun Lempuyangan Yogyakarta
Berita Terkini
KontraS Kritik Tuntutan...
KontraS Kritik Tuntutan 2,5 Tahun Penjara untuk Terdakwa Penyiraman Andrie Yunus
Revisi UU Polri, Menteri...
Revisi UU Polri, Menteri Pigai Usulkan Sejumlah Jabatan Utama Bisa Diisi Sipil
Film Pesta Babi Bergeser...
Film Pesta Babi Bergeser dari Kritik Sosial Jadi Instrumen Kampanye Disintegrasi Papua
KPK Angkut Moge, Mobil...
KPK Angkut Moge, Mobil Mewah, dan Sepeda usai Geledah Rumah Silmy Karim
Ancam 6 Juta Tenaga...
Ancam 6 Juta Tenaga Kerja, Wacana Kemasan Polos Harus Dibatalkan
DPR Minta KAI Bereskan...
DPR Minta KAI Bereskan Dulu Konektivitas Sebelum Bangun Jalur Kereta Aceh-Lampung
Infografis
Kaleidoskop 2025: 6...
Kaleidoskop 2025: 6 Peristiwa Politik Nasional yang Menggemparkan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved