Wakapolri Tegaskan Tidak Ada Teror kepada Personel KPK
Kamis, 12 Februari 2015 - 16:34 WIB
Wakapolri Tegaskan Tidak Ada Teror kepada Personel KPK
A
A
A
JAKARTA - Wakapolri Komjen Pol Badrodin Haiti menyatakan tidak ada teror terhadap salah satu personel Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagaimana yang dilaporkan Wakil Ketua KPK Adanan Pandu Praja.
Kabar itu, dia sampaikan seusai mendapat kepastian dari Kepala Badan Reserse Kriminal (Kabareskrim) Polri dan Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan (Propam) Polri.
"Beberapa hari lalu Adnan Pandu Praja sudah datang ke tempat saya. Dia melapor ada ancaman teror terhadap salah satu anggota KPK. Saya sudah cek ke Kabareskrim dan Kadiv Propam. Tidak ada teror terhadap yang bersangkutan," kata Badrodin di Rupatama Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (12/2/2015).
Hingga kini, Badrodin mengaku tidak mengetahui bentuk teror yang diterima oleh salah satu personel KPK tersebut. Dia pun meminta agar perkara teror itu dipastikan terlebih dahulu dengan yang bersangkutan.
Konfirmasi itu, lanjut Badrodin, harus dilakukan guna menghindari pemelintiran fakta yang ada di lapangan. "Saya enggak tahu terornya itu yang kayak gimana. Harus ditanyakan kepada yang bersangkutan."
"Jangan sampai terus diplesetkan, orang merasa dibuntuti, di-SMS orang lain, diteror. Apakah kalau di-SMS itu pengirimnya polisi? Kan enggak," tandas Badrodin.
Kabar itu, dia sampaikan seusai mendapat kepastian dari Kepala Badan Reserse Kriminal (Kabareskrim) Polri dan Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan (Propam) Polri.
"Beberapa hari lalu Adnan Pandu Praja sudah datang ke tempat saya. Dia melapor ada ancaman teror terhadap salah satu anggota KPK. Saya sudah cek ke Kabareskrim dan Kadiv Propam. Tidak ada teror terhadap yang bersangkutan," kata Badrodin di Rupatama Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (12/2/2015).
Hingga kini, Badrodin mengaku tidak mengetahui bentuk teror yang diterima oleh salah satu personel KPK tersebut. Dia pun meminta agar perkara teror itu dipastikan terlebih dahulu dengan yang bersangkutan.
Konfirmasi itu, lanjut Badrodin, harus dilakukan guna menghindari pemelintiran fakta yang ada di lapangan. "Saya enggak tahu terornya itu yang kayak gimana. Harus ditanyakan kepada yang bersangkutan."
"Jangan sampai terus diplesetkan, orang merasa dibuntuti, di-SMS orang lain, diteror. Apakah kalau di-SMS itu pengirimnya polisi? Kan enggak," tandas Badrodin.
(kri)