PBNU Minta Pemerintah Serius Garap Ekonomi Prorakyat

Senin, 02 Februari 2015 - 11:49 WIB
PBNU Minta Pemerintah...
PBNU Minta Pemerintah Serius Garap Ekonomi Prorakyat
A A A
JAKARTA - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) meminta pemerintah serius menggarap sektor ekonomi yang lebih memihak rakyat sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas demokrasi di Tanah Air.

“Catatan penting bagi NU adalah bisakah kita melaksanakan politik demokrasi dengan baik jika tanpa diiringi secara substansial dengan pembangunan ekonomi yang lebih memihak pada umat,” kata Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj di Jakarta kemarin. “Ini maknanya ada gejala yang kuat di masyarakat bahwa politik demokrasi untuk memilih wakil rakyat, bupati, wali kota, atau gubernur bisa dikonversi dengan uang,” tambahnya.

Hal itu, menurut Said Aqil, disebabkan demokrasi masih berjalan beriringan dengan kemiskinan dan kesenjangan ekonomi. “Mengutip data Badan Pusat Statistik terakhir, rasanya dada ini sesak. Betapa tidak, distribusi kesejahteraan nasional jika diukur dari indeks ketimpangan, gini ratio , terus naik dari tahun ke tahun,” katanya.

Pada 2004 gini ratio masih 0,33 dan melonjak menjadi 0,41 pada 2011, terakhir menjadi 0,43. “Kebijakan apa saja yang akan diambil oleh pemerintah selagi mengarah pada kebijakan untuk mengatasi kesenjangan ekonomi akan didukung PBNU tanpa reserve ,” kata Said Aqil.

Sebelumnya, Wakil Ketua Umum DPP Partai Gerindra Fadli Zon mengatakan, di 100 hari pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla (Jokowi-JK), beberapa kebijakan ekonomi justru memberatkan rakyat, yakni kenaikan harga bahan bakar minyak ( BBM ), elpiji, dan listrik. Menurut dia , kebijakan seperti itu menyulitkan dan memberatkan kehidupan rakyat sehingga perlu dikoreksi.

Kebijakan tidak prorakyat juga tampak pada perpanjangan memorandum of understanding (MoU) dengan PT Freeport yang berpotensi menyalahi UU Minerba. Wakil Ketua DPR RI itu juga menyoroti intervensi terhadap pemerintahan Jokowi sehingga ada kebijakan yang tidak prorakyat, termasuk di bidang ekonomi. Padahal, kata dia, Presiden harus mengutamakan kepentingan rakyat dan bangsa bukan kepentingan partai politik termasuk yang mendukungnya.

Sucipto/Ant
(bbg)
Berita Terkait
Mimbar Demokrasi Melawan...
Mimbar Demokrasi Melawan Politik Dinasti
Luncurkan 2Indo Survei,...
Luncurkan 2Indo Survei, Arfino Koto : 2024 Adalah Eranya Anak Muda
Mimbar Demokrasi Tolak...
Mimbar Demokrasi Tolak Politik Dinasti dan Pelanggaran HAM
Mahasiswa Tolak Politik...
Mahasiswa Tolak Politik Dinasti
#PraxiSurvey Soroti...
#PraxiSurvey Soroti Dilema Pemilu 2024, 42,96 Persen Mahasiswa akan Terima Uang Tanpa Pilih Kandidat
Mimbar Demokrasi Lawan...
Mimbar Demokrasi Lawan Politik Dinasti
Berita Terkini
Menaker: Pemerintah...
Menaker: Pemerintah Komitmen Cegah PHK dengan Berbagai Program Nyata
Update! 36 Kapolda Se-Indonesia...
Update! 36 Kapolda Se-Indonesia usai Pelantikan oleh Kapolri Juli 2026, Ini Nama-namanya
Korban Penipuan Haji...
Korban Penipuan Haji Ilegal Capai 3.550 Orang, DPR Desak Kemenhaj Perkuat Pengawasan
Profil Irjen Totok Suharyanto,...
Profil Irjen Totok Suharyanto, Kakortastipidkor Polri yang Ungkap Megakorupsi Mantan Jampidsus Febrie Adriansyah
Tantangan Tata Kelola...
Tantangan Tata Kelola Pemerintahan Daerah dan Ketahanan Nasional
Tindak Lanjut Perpres...
Tindak Lanjut Perpres 111/2025, Kemenag Siapkan Materi Pendidikan Cegah Penyebaran LGBTQ
Infografis
8 Kebijakan Baru Pemerintah...
8 Kebijakan Baru Pemerintah Hadapi Tekanan Global! WFH hingga MBG
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved