Dicari, Ikon Industri Ekraf Indonesia

Minggu, 01 Februari 2015 - 13:30 WIB
Dicari, Ikon Industri...
Dicari, Ikon Industri Ekraf Indonesia
A A A
Kepala BEK Triawan Munaf berjanji akan berupaya menyatukan berbagai kekuatan ekonomi kreatif (ekraf) dan pendukung ekonomi kreatif untuk mengerjakan sejumlah program prioritas bersama.

”Hasil konkret kerja BEK harus benar-benar terasa dalam 1-2 tahun pertamanya. Semua pihak yang berkepentingan harus membuang jauh-jauh ego sektoral yang berpotensimenghambatlari kitadanselamaini membuat terpisah-pisah,” tegasnya. Hasil konkret yang dimaksudnya antara lain sumbangan PDB sektor ekonomi kreatif harus bisa mencapai dua kali lipat dari saat ini di kisaran 6,9% dari total kontribusi ekonomi nasional. Bahkan dia menargetkan sektor ekonomi kreatif mampu menyumbang kontribusi terbesar.

Strateginya antara lain memunculkan semacam champion atau ikon dari subsektor. BEK akan memberi dukungan penuh kiprahnya di dalam dan di luar negeri. ”Harus kita pilih yang terbaik untuk menjadi lokomotif. Kalau semua ditangani secara langsung itu ibarat membuang garam di laut. Kami sudah memiliki gambaran kandidat champion-nya. Sisanya masih dipetakan dan diidentifikasi.

Bisa apa saja, tak hanya fashion atau kuliner,” ujar Triawan yang mengaku masih berkantor di rumahnya ini. Dalam mengidentifikasi champion ini, BEK akan melibatkan para praktisi dan pakar di bidang masing-masing. Sekadar mengingatkan, dalam operasionalnya, BEK akan terdiri atas enam kedeputian, yakni Deputi Riset Edukasi dan Pengembangan, Deputi Akses Permodalan, DeputiInfrastruktur, DeputiPemasaran, Deputi Fasilitasi HAKI, serta Deputi Hubungan Antarlembaga dan Wilayah.

Akses ke Perbankan

Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia berharap agar BEK segera menuntaskan mapping industri kreatif kemudian melakukan koordinasi antarlembaga dan stake holder terkait. Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Industri Kreatif dan MICE Budyarto Linggowiyono mengatakan, selama ini pemerintah cenderung melakukan promosi produk ekonomi kreatif secara parsial tanpa arah yang jelas.

Karena itu, kehadiran BEK diharapkan dapat membantu lebih banyak pelaku ekonomi kreatif bertemu pasarnya. ”Yang tak kalah penting adalah membantu akses permodalan yaitu hubungan dengan kalangan perbankan. Fasilitasi seperti ini sangat krusial karena banyak pelaku industri kreatif dianggap tak memiliki agunan dan jaminan sehingga sulit mendapat pinjaman,” ujar Budyarto.

Dia juga mengingatkan, para pelaku industri kreatif harus terus diingatkan pula agar mematenkan inovasi dan produk mereka. Paten, apalagi berwujud brand, lanjut Budyarto, berfungsi sebagai intangible asset yang bernilai komersial besar. Intellectual property right akan diperhitungkan dalam nilai agunan pinjaman bank.

Kehadiran BEK harus mampu mempercepat proses tersebut. Bahkan, kata Budyarto, BEK selayaknya mampu berperan setara atau lebih baik dari Thailand Creative Economy Agency (TCEA) dan Creative Industries Working Group (CIWG) Singapura. ”Industri kreatif sangat diharapkan menjadi pilar ekonomi baru yang kuat dan sustainable.

Kelahiran BEK langsung menghadapi peluang dan tantangan era pasar bebas sehingga harus berpikir cepat, thinking out of the box, bergerak cepat,” pungkas Budyarto. Ketua Komite Tetap Kadin Indonesia Toton Hutomi berharap BEK tidak terjebak menjadi badan yang sibuk dengan birokrasi. ”Maka itu, harus diisi banyak praktisi dan pelaku industri yang betul-betul paham apa yang menjadi dinamika industri kreatif,” tuturnya.

Hermawan Rianto, pelaku ekonomi kreatif di bidang seni pertunjukan dan festival, mengakui, permodalan acap kali menjadi kendala utama bagi pelaku ekonomi kreatif yang sebagian besar memang masih berskala usaha kecil dan menengah (UKM). Namun aspek perlindungan pasar lebih penting.

”Modal dari mana pun dan sebesar apa pun, kalau pasarnya tidak dilindungi, kita akan berkompetisi sangat berat di pasar bebas,” katanya. Selain perlindungan terhadap produk ekonomi kreatif, Hermawan berharap BEK juga bisa mengatur tata niaga ekonomi kreatif dengan tidak membiarkan ada monopoli dari hulu ke hilir oleh industri yang memiliki modal besar dan menguasai sisi bisnis kreatif tertentu.

Hermansah/Dina angelina/Ilham safutra
(bbg)
Berita Terkait
Jabatan Apa pun yang...
Jabatan Apa pun yang Diemban, Milenial Harus Punya Integritas
Puasa di Tengah Pandemi...
Puasa di Tengah Pandemi Covid-19, Jaga Gizi Seimbang dan Berpikir Positif
iPhone Bakal Dibekali...
iPhone Bakal Dibekali Kamera Periskop di 2020
Menghadapi Ujian pada...
Menghadapi Ujian pada Hari Kemenangan
Bertahan di Tengah Pandemi,...
Bertahan di Tengah Pandemi, Pengusaha Dituntut Kreatif untuk Survive
New Normal, Kebutuhan...
New Normal, Kebutuhan Alat Olah Raga Baru Meningkat
Berita Terkini
Tak Kaget Dadan dan...
Tak Kaget Dadan dan Silmy Terjerat Kasus Korupsi, Noel: Juni-Juli Banyak Pejabat Ditangkap KPK
ASPEK Indonesia Temui...
ASPEK Indonesia Temui Pimpinan UNI Global Union di Jenewa
KKP Tangkap Kapal Asing...
KKP Tangkap Kapal Asing Pengangkut 1,2 Ton Ikan Napoleon Ilegal
Istana Tepis Isu Pengunduran...
Istana Tepis Isu Pengunduran Diri Menkeu Purbaya
Jadi Kepala BGN, Nanik...
Jadi Kepala BGN, Nanik Deyang: Saya Sarjana Biologi Bukan Kehutanan
Jadi Kepala BGN, Nanik...
Jadi Kepala BGN, Nanik S Deyang: Mohon Dikoreksi Kalau Kami Salah
Infografis
Daftar Juara Liga Indonesia...
Daftar Juara Liga Indonesia dari Masa ke Masa: Persib Ukir Sejarah
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved