Warga Barat Turut Berperang dengan Beragam Motif dan Alasan
Rabu, 14 Januari 2015 - 09:49 WIB
Warga Barat Turut Berperang dengan Beragam Motif dan Alasan
A
A
A
Kemunculan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) ternyata mengundang keprihatinan dari masyarakat Barat.
Keprihatinan itu lantas ditunjukkan dengan menjadi sukarelawan atau pejuang perang. Namun, ketika kembali ke negeri asal, hukuman dan ratusan masalah menghadang. Fenomena ini mulai terlihat seiring banyak sukarelawan yang bergabung dengan pasukan bersenjata Suriah Kurdi atau yang lebih dikenal dengan sebutan YPG.
Bersama dengan YPG, para sukarelawan yang masuk ke perbatasan Irak- Suriah dengan cara ilegal mulai memanggul senjata untuk berjuang bersama memerangi ISIS. Peter Douglas, pria asal Kanada, satu yang menjadi sukarelawan perang. Dia bergabung dengan YPG untuk alasan kemanusiaan yakni memperjuangkan hak-hak rakyat Suriah.
Untuk sampai ke perbatasan Irak-Suriah, Douglas telah berkorban banyak salah satunya meninggalkan seluruh keluarga yang dicintai. Douglas satu dari lusinan orang Barat yang bergabung dengan pejuang Kurdi. Douglas menuturkan, ada banyak pejuang lain seperti dirinya yang datang dari Amerika, Kanada, Jerman, dan Inggris. Bagi Douglas, inilah kali pertama dia menggunakan senjata untuk memburu manusia.
“Sebelum saya menderita berbagai penyakit berat seperti demensia dan stroke, saya ingin melakukan sesuatu yang baik, saya ingin melakukannya dengan melawan ISIS,” ucap Douglas, dilansir Reuters. YPG mengonfirmasi belum bisa merilis angka resmi berapa banyak pejuang asing atau akademisi yang telah bergabung dengan mereka.
Namun, dapat dipastikan, jumlahnya tidak sebesar 16.000 militan ISIS dari sekitar 90 negara yang bergabung sejak 2012. Bergabungnya orang asing menjadi bagian dari pejuang Kurdi dan ISIS pun menjadi fenomena baru. Kini dunia Barat dituntut memiliki hukum yang bisa melindungi ataupun menghukum warganya sendiri yang terlibat dalam kejahatan perang.
Beberapa negara Barat mengaku selalu memantau warganya yang menjadi penjuang asing dan menetapkan hukum yang berbeda pada setiap orang, bergantung motivasinya. Perdana Menteri Inggris David Cameron menjelaskan, menjadi pejuang asing tidak secara otomatis melanggar.
Menurutnya, harus ada kajian mendalam tentang keadaan dan motif pejuang. Ketika dua veteran militer Inggris, Jamie Baca dan James Hughes, kembali setelah bergabung dengan YPG Inggris tidak mengambil tindakan apa pun untuk keduanya. “Kami pergi ke sana untuk membantu orang yang tidak bersalah dan mendokumentasikan perjuangan YPG melawan ISIS,” kata Hughes.
Dia beruntung karena sekembalinya dari Suriah, keluarga dan teman-teman menyambutnya bak pahlawan. Sementara di belahan dunia lain, para relawan perang lebih sering dimaki dan dihujat karena dituduh sebagai tentara bayaran. Beberapa bahkan mendapat masalah dengan pemerintahnya.
Lorenzo Vidino, analis di Institut Studi Politik Internasional di Italia, mengatakan, para pejuang asing tidak efektif secara militer, terutama karena kemampuan berperang mereka yang buruk sehingga lebih banyak hanya menjadi penghambat. Yang lebih mengerikan lagi, tidak semua sukarelawan memiliki niat baik karena ada pula yang bertujuan hanya untuk melarikan diri dari kehidupannya di kota besar.
“Saya bergabung dengan YPG karena ingin melarikan diri dari kehidupan sipil yang tidak benar-benar saya suka. Di sini semua terlihat lebih masuk akal,” tandas Jordan Matson, veteran tentara AS dari Winconsin.
Rini Agustina
Keprihatinan itu lantas ditunjukkan dengan menjadi sukarelawan atau pejuang perang. Namun, ketika kembali ke negeri asal, hukuman dan ratusan masalah menghadang. Fenomena ini mulai terlihat seiring banyak sukarelawan yang bergabung dengan pasukan bersenjata Suriah Kurdi atau yang lebih dikenal dengan sebutan YPG.
Bersama dengan YPG, para sukarelawan yang masuk ke perbatasan Irak- Suriah dengan cara ilegal mulai memanggul senjata untuk berjuang bersama memerangi ISIS. Peter Douglas, pria asal Kanada, satu yang menjadi sukarelawan perang. Dia bergabung dengan YPG untuk alasan kemanusiaan yakni memperjuangkan hak-hak rakyat Suriah.
Untuk sampai ke perbatasan Irak-Suriah, Douglas telah berkorban banyak salah satunya meninggalkan seluruh keluarga yang dicintai. Douglas satu dari lusinan orang Barat yang bergabung dengan pejuang Kurdi. Douglas menuturkan, ada banyak pejuang lain seperti dirinya yang datang dari Amerika, Kanada, Jerman, dan Inggris. Bagi Douglas, inilah kali pertama dia menggunakan senjata untuk memburu manusia.
“Sebelum saya menderita berbagai penyakit berat seperti demensia dan stroke, saya ingin melakukan sesuatu yang baik, saya ingin melakukannya dengan melawan ISIS,” ucap Douglas, dilansir Reuters. YPG mengonfirmasi belum bisa merilis angka resmi berapa banyak pejuang asing atau akademisi yang telah bergabung dengan mereka.
Namun, dapat dipastikan, jumlahnya tidak sebesar 16.000 militan ISIS dari sekitar 90 negara yang bergabung sejak 2012. Bergabungnya orang asing menjadi bagian dari pejuang Kurdi dan ISIS pun menjadi fenomena baru. Kini dunia Barat dituntut memiliki hukum yang bisa melindungi ataupun menghukum warganya sendiri yang terlibat dalam kejahatan perang.
Beberapa negara Barat mengaku selalu memantau warganya yang menjadi penjuang asing dan menetapkan hukum yang berbeda pada setiap orang, bergantung motivasinya. Perdana Menteri Inggris David Cameron menjelaskan, menjadi pejuang asing tidak secara otomatis melanggar.
Menurutnya, harus ada kajian mendalam tentang keadaan dan motif pejuang. Ketika dua veteran militer Inggris, Jamie Baca dan James Hughes, kembali setelah bergabung dengan YPG Inggris tidak mengambil tindakan apa pun untuk keduanya. “Kami pergi ke sana untuk membantu orang yang tidak bersalah dan mendokumentasikan perjuangan YPG melawan ISIS,” kata Hughes.
Dia beruntung karena sekembalinya dari Suriah, keluarga dan teman-teman menyambutnya bak pahlawan. Sementara di belahan dunia lain, para relawan perang lebih sering dimaki dan dihujat karena dituduh sebagai tentara bayaran. Beberapa bahkan mendapat masalah dengan pemerintahnya.
Lorenzo Vidino, analis di Institut Studi Politik Internasional di Italia, mengatakan, para pejuang asing tidak efektif secara militer, terutama karena kemampuan berperang mereka yang buruk sehingga lebih banyak hanya menjadi penghambat. Yang lebih mengerikan lagi, tidak semua sukarelawan memiliki niat baik karena ada pula yang bertujuan hanya untuk melarikan diri dari kehidupannya di kota besar.
“Saya bergabung dengan YPG karena ingin melarikan diri dari kehidupan sipil yang tidak benar-benar saya suka. Di sini semua terlihat lebih masuk akal,” tandas Jordan Matson, veteran tentara AS dari Winconsin.
Rini Agustina
(ars)