Tangani Korban Bom Bali hingga MH17 di Ukraina

Sabtu, 03 Januari 2015 - 14:27 WIB
Tangani Korban Bom Bali...
Tangani Korban Bom Bali hingga MH17 di Ukraina
A A A
Menjalani profesi sebagai dokter forensik mungkin bukan citacitanya. Namun, panggilan jiwa membuat wanita yang memiliki nama lengkap Summy Hastry Purwanti ini memilih untuk menekuni profesi tersebut. ”Awalnya saya enggak bermimpi ingin menjadi dokter forensik. Namun, lama-lama saya suka juga,” ucapnya di sela bertugas mengidentifikasi korban AirAsia di RSUD Sultan Imanuddin, Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah.

Ketertarikannya terhadap forensik berawal ketika dirinya masuk Sekolah Perwira Prajurit Karier di kepolisian pada 1997 silam. ”Pertama kali jadi polisi diajak ke tempat kejadian perkara (TKP) pembunuhan di Semarang, saat itu saya disarankan masuk kedokteran dan mendalami forensik,” ujarnya.

Kemudian pada 2001-2005 Hastry melanjutkan studinya di Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (Undip). ”Selama saya sekolah banyak peristiwa ledakan bom di sejumlah wilayah Indonesia. Sejak peristiwa itu jadi keterusan, fokus. Terakhir di Ukraina itu, MH17 (jatuhnya pesawat Malaysia Airlines akibat ditembak rudal),” papar Hastry yang kini menjabat kepala Subbidang Dokpol Biddokes Polda Jateng ini.

Ada banyak tantangan yang harus dihadapi dokter forensik. Selain harus bekerja tanpa kenal waktu, profesi ini menuntut kekuatan mental karena harus sering berhadapan dengan berbagai jenis mayat, baik yang sudah membusuk maupun potongan tubuh manusia yang tak lagi dikenali. Mereka adalah orang-orang yang biasanya menjadi korban dalam berbagai peristiwa kecelakaan, ledakan bom, maupun bencana alam.

Namun, berkat kehadirannya dalam berbagai misi, tidak sedikit keluarga korban yang merasa tertolong karena berhasil menemukan identitas keluarga mereka. Tugas itulah yang kini dilakukan Hastry, sapaan akrabnya yang dipercaya untuk mengidentifikasi korban hilangnya pesawat AirAsia di Selat Karimata pada Minggu (28/12) lalu. Kepercayaan yang diembankan kepada Hastry memang bukan tanpa alasan.

Sebagai satu-satunya dokter forensik di Polda Jawa Tengah dan masih sedikitnya orang yang menggeluti bidang itu di Indonesia, Hastry kerap diminta bantuan dalam mengidentifikasi jenazah dalam beberapa peristiwa. Sudah banyak kasus yang ditanganinya, dari gempa di Klaten dan Yogya, tsunami di Cilacap, tenggelamnya KM Senopati Nusantara, kecelakaan pesawat Garuda di Bandara Adi Sutjipto, Yogyakarta, dan letusan Gunung Merapi.

Bahkan Hastry juga menangani identifikasi peristiwa Bom Bali I dan II, ledakan bom Mega Kuningan dan JW Marriot, jatuhnya pesawat Sukhoi di Bogor dan sebagainya. ”Terakhir saya dikirim Mabes Polri menangani kasus MH17 di Ukraina. Kalau di Jateng ya pembunuhan minimal 100 kali per tahun,” ucapnya.

Karena pengalamannya yang segudang, wanita berkaca mata ini memutuskan untuk mengambil langkah-langkah strategis dalam mempertahankan jenazah korban pesawat AirAsia supaya tidak mengalami pembusukan lanjut. Terutama organ-organ penting untuk identifikasi primer seperti sidik jari dan gigi. ”Langkah-langkahnya, jenazah datang kita buka, kita foto, posisi awalnya apa, mengenakan apa, apakah masih utuh organnya, apakah masih bisa dikenali.

Dari kemarin wajah para korban memang tidak bisa dikenali karena sudah dalam pembusukan. Proses air laut mempercepat pembusukan, kalau orang normal membusuk itu 4-5 hari. Kalau menunggu (hasil tes) DNA kan lama,” katanya. Hastry menambahkan, organ penting untuk identifikasi primer tersebut langsung dibersihkan dan dikeringkan, kemudian ditutup semua lubang keluar pada tubuh sebelum akhirnya dilapisi dengan plastik keras, kencang, agar kedap udara.

”Pembusukan dimulai dari lambung ke atas atau ke bawah. Apa yang kami lakukan benar-benar bisa mencegah pembusukan. Jadi temanteman yang di Surabaya bisa bekerja dengan nyaman dan cepat agar bisa segera mendapatkan hasil dari identifikasi primer itu,” ujarnya. Dibutuhkan waktu sekitar 30 menit sampai satu jam untuk mengurus satu jenazah oleh delapan orang, termasuk di dalamnya satu dokter forensik. Untuk kasus AirAsia, ada dua tim forensik yang dibentuk.

”Jadi satu dokter forensik dengan tujuh teknisi forensik. Kalau teknisi ada beberapa shift , kalau dokter forensik tidak ada shift . Kalau saya siang dan malam, sudah biasa, kalau perlu tidur di sini,” ujar Hastry yang menjadi ketua Tim I Forensik. Pada awal-awal menggeluti profesi ini keluarganya sempat keberatan, namun lambat laun bisa menerima. ”Lama-lama tahu saya dibutuhkan, jadi anak-anak sudah mengerti kalau ibu ngurus jenazah lagi,” tuturnya.

Sucipto
Pangkalan Bun
(bbg)
Berita Terkait
Maria Lumowa Berhasil...
Maria Lumowa Berhasil Diekstradisi ke Indonesia, Simak Kronologis Lengkapnya
Gagal Lolos PPDB, Siswi...
Gagal Lolos PPDB, Siswi Berprestasi Peraih 700 Penghargaan Putus Sekolah
Paskah Nasional 2022...
Paskah Nasional 2022 Wujud Pemulihan Ekonomi Nasional
BSSN Gelar Simposium...
BSSN Gelar Simposium Nasional Wujudkan Keamanan Siber Nasional
Hari Pelanggan Nasional...
Hari Pelanggan Nasional 2020
Libur Panjang Kenaikan...
Libur Panjang Kenaikan Isa Almasih, Ribuan Penumpang Padati Stasiun Lempuyangan Yogyakarta
Berita Terkini
Pigai Usul Jabatan Utama...
Pigai Usul Jabatan Utama Polri Bisa Diisi Sipil, Sahroni: Urusin HAM Saja
Revisi UU Polri: Batas...
Revisi UU Polri: Batas Usia dan Syarat Anggota Kompolnas Diusulkan Lebih Fleksibel
KontraS Kritik Tuntutan...
KontraS Kritik Tuntutan 2,5 Tahun Penjara untuk Terdakwa Penyiraman Andrie Yunus
Revisi UU Polri, Menteri...
Revisi UU Polri, Menteri Pigai Usulkan Sejumlah Jabatan Utama Bisa Diisi Sipil
Film Pesta Babi Bergeser...
Film Pesta Babi Bergeser dari Kritik Sosial Jadi Instrumen Kampanye Disintegrasi Papua
KPK Angkut Moge, Mobil...
KPK Angkut Moge, Mobil Mewah, dan Sepeda usai Geledah Rumah Silmy Karim
Infografis
Skuad Timnas Spanyol...
Skuad Timnas Spanyol di Piala Dunia 2026, Tak Ada Pemain Real Madrid
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved