Demi Kemanusiaan Rela Kerjakan Puluhan Peti Siang Malam

Jum'at, 02 Januari 2015 - 10:14 WIB
Demi Kemanusiaan Rela...
Demi Kemanusiaan Rela Kerjakan Puluhan Peti Siang Malam
A A A
Raut wajahnya tampak serius mengamati satu per satu barisan peti jenazah yang ada muka. Perlahan kedua tangannya merapikan terpal dan penyangga yang masih terlihat belum kokoh dengan memakunya.

Setelah memastikan semuanya rapi, lelaki keturunan Madura yang sudah puluhan tahun tinggal di Kalimantan Tengan ini pun membereskan kembang yang dipasang di atasnya. Senyum kepuasan tampak tersungging melihat kepercayaan yang diberikannya untuk membuat peti jenazah berhasil dirampungkan.

“Alhamdulillah, ini tugas kemanusiaan yang harus diselesaikan dengan baik. Saya memang diminta Bupati Kobar (Kotawaringin Barat) untuk membuat peti jenazah,” ucap Satroyo, 65, saat ditemui di RSUD Sultan Imanuddin kemarin. Satroyo siap membuat peti jenazah bagi para penumpang pesawat Air Asia QZ 8501 yang jatuh saat melakukan perjalanan dari Surabaya menuju Singapura di Selat Karimata, Laut Jawa pada Minggu (28/12) lalu.

“Saya siap saja. Sampai 24 jam pun saya siap karena kemanusiaan itu penting bagi saya. Kami kerjakan dengan tulus karena ini musibah yang menimpa saudara-saudara kita juga,” tuturnya. Dia menuturkan, pembuatan peti jenazah langsung cepat dikerjakan begitu mendapat informasi mengenai hilangnya pesawat di daerah Kalimantan Tengah. Sebanyak 15 orang pun dilibatkan untuk membuat peti jenazah tersebut guna mengantisipasi permintaan.

“Mereka 24 jam kerja karena takut jenazah ditemukan cepat dan permintaan banyak,” ungkapnya. Diperlukan waktu sekitar satu jam bagi dua pekerja untuk membuat satu peti jenazah. Berbeda dengan peti-peti mati pada umumnya, pembuatan peti jenazah kali memerlukan desain tersendiri, yaitu bagian dalam peti dilapisi alumunium, kemudian kain terpal.

“Ini untuk mencegah adanya rembesan air dari jenazah,” katanya. Tidak hanya itu, ukuran yang dibuatnya pun berbedabeda. Ada yang panjangnya 2 meter, tinggi 80 cm dan lebar 90 cm. Kemudian ada juga peti jenazah yang berukuran lebar 60 cm, pajang 190 cm dan tinggi 50 cm. “Saya fokus membuat peti jenazah, pekerjaan lain saya tinggalkan dulu. Karena merasa para penumpang seperti keluarga sendiri,” ucapnya.

Apalagi pria berkacamata ini mengaku punya pengalaman anak tercintanya menjadi korban kecelakaan KM Senopati. Sastroyo berharap kepada keluarga yang ditinggalkan tabah, karena semua ini sudah takdir Tuhan. “Mudah-mudahan yang ditinggal diberi ketabahan, saya lihat di televisi ada yang sampai pingsan. Kasihan,” katanya.

Sucipto
Pangkalan Bun
(bbg)
Berita Terkait
Maria Lumowa Berhasil...
Maria Lumowa Berhasil Diekstradisi ke Indonesia, Simak Kronologis Lengkapnya
Gagal Lolos PPDB, Siswi...
Gagal Lolos PPDB, Siswi Berprestasi Peraih 700 Penghargaan Putus Sekolah
Paskah Nasional 2022...
Paskah Nasional 2022 Wujud Pemulihan Ekonomi Nasional
Hari Pelanggan Nasional...
Hari Pelanggan Nasional 2020
BSSN Gelar Simposium...
BSSN Gelar Simposium Nasional Wujudkan Keamanan Siber Nasional
Libur Panjang Kenaikan...
Libur Panjang Kenaikan Isa Almasih, Ribuan Penumpang Padati Stasiun Lempuyangan Yogyakarta
Berita Terkini
KPK Panggil 2 Tersangka...
KPK Panggil 2 Tersangka Kasus Dugaan Korupsi Kuota Haji
Kapolri Buka Peluang...
Kapolri Buka Peluang Sipil Duduki Jabatan di Polri, Pakar: Modernisasi Kelembagaan
Fokus Belanja Negara
Fokus Belanja Negara
Said Iqbal Bakal Dilantik...
Said Iqbal Bakal Dilantik Prabowo Jadi Penasihat Khusus Presiden Bidang Ketenagakerjaan Sore Ini
Korlantas Polri Tunda...
Korlantas Polri Tunda Pelaksanaan Operasi Patuh Jaya 2026
25 Wilayah Indonesia...
25 Wilayah Indonesia Berpotensi Tsunami Akibat Gempa M7,7 di Mindanao Filipina
Infografis
Tanda Terjadinya Malam...
Tanda Terjadinya Malam Lailatul Qadar, Penting Diketahui agar Memaksimalkan Ibadah!
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved