Imparsial Sebut Kekuasaan Terlibat Kasus Pembunuhan Munir

Senin, 01 Desember 2014 - 19:53 WIB
Imparsial Sebut Kekuasaan...
Imparsial Sebut Kekuasaan Terlibat Kasus Pembunuhan Munir
A A A
JAKARTA - Imparsial mengungkapkan, ada peran kekuasaan di dalam kasus pembunuhan pegiat hak asasi manusia (HAM) Munir Said Thalib.

"Asumsi pembunuhan Munir adalah sebuah pembunuhan yang keji dan kemudian ada asumsi kekuasaan di dalamnya. Perbuatan kekuasaan dalam pembunuhan Munir itu ada," kata Direktur Program Imparsial, Al Araf, di kantornya, Jalan Tebet Utara II C, Jakarta, Senin (1/12/2014).

Hal demikian, ujar dia, berdasarkan laporan tim pencari fakta (TPF) dan laporan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM).

"Logika kekuasaan yang terlibat dalam sebuah pembunuhan, maka sepantasnya kekuasaan tidak bisa mengampuni dirinya sendiri," tuturnya.

Jika kekuasaan mengampuni dirinya sendiri, menurut dia, disebut self amnesty.

"Sehingga tidak diperbolehkan, kekuasaan yang diduga terlibat dalam suatu pembunuhan. Lalu kekuasaan memberikan maaf dalam bentuk remisi dan pembebasan bersyarat terhadap pelaku kejahatan," katanya.

Hal itu dikatakannya menanggapi pemberian pembebasan bersyarat kepada Pollycarpus Budihari Priyanto, terpidana pembunuh pegiat HAM Munir.

"Ini satu bentuk pengampunan terhadap negara, di mana kejahatan dilakukan oleh negara tersebut, negara itu sendiri," ungkapnya.

Oleh karena itu, menurut dia, pembebasan persyarat kepada Pollycarpus itu suatu yang salah atau keliru.

"Karena pembunuhan Munir adalah pembunuhan dengan logika kekuasaan terlibat di dalam itu," pungkasnya.

Sekadar diketahui, Pollycarpus terpidana pembunuh Munir, menghirup udara bebas sejak Sabtu 29 November 2014.

Mantan pilot senior maskapai penerbangan Garuda Indonesia itu keluar dari Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat, setelah resmi mendapat pembebasan bersyarat.

Pollycarpus mendapatkan pembebasan bersyarat setelah menjalani delapan tahun masa hukuman dari vonis 14 tahun penjara.

Vonis penjara terhadapnya tersebut berdasarkan putusan Mahkamah Agung (MA) setelah Pollycarpus mengajukan peninjauan kembali (PK). Pollycarpus dinyatakan terbukti bersalah dalam kasus meninggalnya Munir diatas pesawat Garuda Indonesia pada 7 September 2004.

Munir dinyatakan meninggal akibat mengonsumsi minuman mengandung racun arsenik dosis tinggi dalam penerbangan menuju Amsterdam, Belanda. Pollycarpus yang saat kejadian merupakan pilot Garuda yang sedang tidak bertugas berada satu pesawat dengan Munir.
(maf)
Berita Terkait
Aksi Soliditas untuk...
Aksi Soliditas untuk Munir
Aksi 21 Tahun Kasus...
Aksi 21 Tahun Kasus Munir: Aktivis Desak Komnas HAM Tetapkan Pelanggaran Berat HAM
KASUM Harap Meninggalnya...
KASUM Harap Meninggalnya Pollycarpus Tidak Menghentikan Penyelesaian Kasus Munir
Suciwati Ungkap Fatka-fakta...
Suciwati Ungkap Fatka-fakta Kematian Munir ke Komnas HAM
Refleksi Mengenang Kematian...
Refleksi Mengenang Kematian Munir
Aksi Kamisan Mengenang...
Aksi Kamisan Mengenang 18 Tahun Kematian Kasus Munir
Berita Terkini
KPK Ungkap Tahapan yang...
KPK Ungkap Tahapan yang Harus Dilalui untuk Ekstradisi Tersangka E-KTP Paulus Tannos
Terima Kunjungan Sekjen...
Terima Kunjungan Sekjen ICAPP, PKB Perkuat Jembatan Diplomasi Politik dengan Korsel
Desak DPR Segera Bahas...
Desak DPR Segera Bahas Revisi UU Pemilu, Perindo: Libatkan Partai Nonparlemen
Prediksi Ada Reshuffle,...
Prediksi Ada Reshuffle, Pengamat: Prabowo Butuh Menteri Eksekutor dan Komunikator Ulung
Revisi UU Pemilu Belum...
Revisi UU Pemilu Belum Dibahas, Golkar Usul Prabowo Kumpulkan Ketum Parpol
Refleksikan Cita-cita...
Refleksikan Cita-cita Bung Karno, PDIP Minta Pemerintah Wujudkan Keadilan Hukum dan Ekonomi
Infografis
7 Fakta Kasus Hogi Minaya:...
7 Fakta Kasus Hogi Minaya: Suami Bela Istri, Berujung Tersangka
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved