Manusia Pasca-Foto Bersama

Minggu, 09 November 2014 - 11:02 WIB
Manusia Pasca-Foto Bersama
Manusia Pasca-Foto Bersama
A A A
Acara yang bersifat komunal, baik resmi atau tak resmi, saat ini tak bisa meninggalkan diri dari ritual foto bersama; sekelompok orang berjejer untuk foto bersama.

Dengan pose ”resmi” maupun ”selfie ”. Ketika suatu acara dihadiri oleh ”tokoh penting”, berfoto dengan sang tokoh menjadi ritus yang sulit ditinggalkan. Perkembangan teknologi, yang berhasil memadukan telepon dan kamera, membuat orang bisa mudah memotret, semudah orang meludah.

Dalam sebuah acara, pemotret dari seksi dokumentasi sering dimintai tolong beberapa orang untuk memotret dengan beberapa gadget . Foto disimpan secara pribadi atau diunggah ke akun jejaring sosial, sebagai lanjutan dari efek generasi me me me . Foto bersama para tokoh adalah penanda bahwa audiens pernah bertemu dengan tokoh tertentu, menghadiri acara, dan foto itu menjadi bukti sahih.

Foto bersama dengan demikian menjadi semacam foto berita. Roland Barthes menyebut bahwa foto tidak bisa berdiri sendiri, tetapi memerlukan judul, penjelasan, dan komentar. Media sosial membuka diri seluas-luasnya bagi ”umatnya” untuk memberikan judul, penjelasan, dan komentar.

Tokoh dikenal

Seorang tokoh, utamanya, ditemui lewat pikiran. Dia dikenal publik karena memiliki buku, karya, dan jabatan tertentu. Di sini terjadi ketegangan: apakah tujuan sebuah seminar atau acara lain diadakan? Apakah seminar adalah ikhtiar manusia mengolah potensinya demi hidup yang lebih baik?

Para peserta, mungkin kebanyakan hanya ingin bertemu sang tokoh, yang sebelumnya cuma dilihat fotonya di media massa. Lalu peserta mengajak berfoto dengan back ground spanduk yang menjelaskan identitas acara tertentu. Begitulah, fotografi memenuhi hasrat manusia untuk tampil narsistik dan selfis .

Seseorang bertemu tokoh, cuma mengandaikan pertemuan fisik. Semakin banyak bertemu tokoh penting, kemudian mengabadikan dalam foto, semakin merasa penting dan banyak kenalan. Maka sangat dimaklumi ketika ada orang yang mengoleksi foto bersama tokoh penting.

Tetapi apa yang terjadi setelah momen foto bersama itu dilakukan? Masyarakat yang berpikiran sehat, sangat berharap bahwa setelah bertemu tokoh penting dalam sebuah acara dan terjadi diskusi, akan ada suatu gerakan dan perubahan baru sebagai manifestasi pikiran tokoh penting itu. Sang tokoh memberi inspirasi bagi khalayak, untuk bertindak serupa atau melampaui tindakan sang tokoh itu.

Gagasan tokoh

Wajah para tokoh publik bukan semata wajah seperti orang kebanyakan. Padanya melekat pelbagai identitas; jabatan, karya, gagasan, pemikiran. Emanuel Levinas menyebut wajah menyimpan epifani, manifestasi atas esensi atau makna realitas tertentu (Tjaya, 2011). Wajah menyimpan makna tertentu, bukan semata wadag (fisik). Orang bisa menghadirkan orang lain melalui foto, tetapi tak bisa sepenuhnya menghadirkan orang lain melalui gagasan.

Dengan gagasan, manusia mengeksplorasi potensi individu dan sosialnya, seraya menarasikan ide yang terus begejolak di otaknya. Tidak banyak orang yang bisa menangkap gagasan utuh dari seseorang. Untuk apa sebetulnya sebuah penyelenggara acara mengundang tokoh tertentu? Jangan- jangan, sebuah acara diadakan, misi utamanya adalah berhasil mendatangkan pembicara utama, lantas diabadikan ke dalam foto, dan menjadi laporan pertanggungjawaban yang penuh prestise .

Gagasan sang tokoh berhenti seketika saat dia mengakhiri materi yang disampaikan. ”Manusia fisik” dan ”manusia gagasan” ini adalah keping sisi mata uang manusia. Mengabadikan ”manusia fisik” cukup dengan kamera, mengumpulkannya dalam sebuah album atau folder di komputer.

Mengabadikan ”manusia gagasan” dengan membaca pemikirannya, lewat buku dan karya-karyanya, serta berdiskusi secara intensif. Tinggal Anda memilih cara yang mana untuk menemui manusia. ●

Junaidi Abdul Munif
Direktur el-Wahid Center, Semarang
(ars)
Berita Terkait
Perjalanan Budaya Warisan...
Perjalanan Budaya Warisan Budaya Indonesia Foundation
Jaga Kebudayaan Nusantara...
Jaga Kebudayaan Nusantara di Era Modern, WBI Foundation Gelar Acara Jagantara
Melestarikan Budaya...
Melestarikan Budaya Indonesia di Era Modern Lewat Jagantara 2.0
Turut Terjun Lestarikan...
Turut Terjun Lestarikan Budaya, Tenant Fashion di Jagantara Didominasi Brand Anak Muda
Dimulai Hari Ini, Jagantara...
Dimulai Hari Ini, Jagantara Ajak Anak Muda Belajar Lebih dalam Budaya Indonesia
Upaya Melestarikan Pencak...
Upaya Melestarikan Pencak Silat Beksi Melalui Festival Budaya 2022
Berita Terkini
Dharma Pongrekun Minta...
Dharma Pongrekun Minta MK Kaji Ulang UU Kesehatan Demi Jaga Kedaulatan Bangsa
Selain Penjara 4,5 Tahun,...
Selain Penjara 4,5 Tahun, Eks Wamenaker Noel Diminta Bayar Uang Pengganti Rp3,4 Miliar
Ribuan Pekerja Rokok...
Ribuan Pekerja Rokok Tembakau Tolak Rancangan Aturan Kemasan Kemenkes
Divonis 4,5 Tahun Penjara...
Divonis 4,5 Tahun Penjara dan Wajib Bayar Uang Ganti Pengganti Rp3,4 Miliar, Noel: Saya Menerima Hukuman Itu
GREAT Institute Dorong...
GREAT Institute Dorong Program MBG Tetap Berjalan dan Semakin Berkualitas
Silmy Karim Ditahan...
Silmy Karim Ditahan KPK, Yusril Ungkap Modus 'Permainan' di Jajaran Imigrasi
Infografis
Kocak! Trump Terapkan...
Kocak! Trump Terapkan Tarif di Kepulauan Tak Dihuni Manusia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved