Najib dan Rutte Bertemu, Penembak MH17 akan Diadili

Kamis, 06 November 2014 - 17:39 WIB
Najib dan Rutte Bertemu,...
Najib dan Rutte Bertemu, Penembak MH17 akan Diadili
A A A
PUTRAJAYA - Perdana Menteri (PM) Malaysia Najib Razak dan PM Belanda Mark Rutte sepakat untuk menyeret pelaku penembakan pesawat MH17 ke meja hijau, setelah kemarin kedua petinggi itu menggelar pertemuan di Malaysia.

Razak dan Rutte merasa perlu menindak tegas pelaku yang bertanggung jawab dalam penembakan MH17. Pasalnya, selain mencoreng nama baik MH17, yang kini ganti nama jadi MH19, insiden tersebut menewaskan sekitar 298 penumpang; 44 di antaranya merupakan warga Malaysia, sementara 193 lainnya merupakan warga Belanda. “Malaysia berkomitmen untuk membawa pelaku penembakan MH17 ke pengadilan. Kami harus melakukan apapun yang kami bisa untuk memastikan hukum ditegakkan seadil-adilnya,” ujar Razak, dikutip AFP .

“Malaysia dan Belanda setuju negara yang warganya menjadi korban harus ikut bekerja sama,” sambung PM Malaysia keenam itu. Najib menambahkan, bukti kuat kasus MH17 mungkin sulit ditemukan. Karena itu, tim investigasi saat ini diprioritaskan mengumpulkan puingpuing pesawat. Itu pun masih mengalami kendala.

Tim investigasi pimpinan Belanda kesulitan mengakses situs jatuhnya pesawat pabrikan Rusia tersebut. Pasalnya, di Ukraina Timur situasi masih panas. Pemerintah dan kelompok separatis intens melakukan kontak senjata. Mereka tidak ingin mengambil risiko besar. Proses investigasi juga berjalan lambat karena cuaca di Ukraina Timur buruk. Petugas resmi tim investigasi MH17 mengatakan suhu di sana sangat rendah.

Najib sadar tidak bisa sembarangan bermain dengan hukum. Karena itu, dia meminta tim investigasi mencari bukti otentik di lapangan sebelum bisa mendukung sumber-sumber yang lain. Saat ini Malaysia dan Belanda tidak berani menuduh siapa pun, meskipun asumsi penembakan MH17 sudah dilontarkan beberapa negara. Senada dengan Razak, Rutte mengatakan bahwa kasus penembakan MH17 tidak jelas, meski dia tak menampik akan menyerahkan pelaku MH17 ke pengadilan.

Dia menilai investigasi ini perlu dilakukan secepat mungkin. Pemerintah perlu berupaya membuka dan mengamankan akses ke Ukraina Timur. Tim investigasi terkadang tidak berani masuk dan hanya mengumpulkan informasi dari para saksi. “Apa yang harus kami lakukan sekarang adalah memahami apa yang sebenarnya terjadi di tempat kejadian.

Pengadilan akan berjalan sesuai dengan apa yang kami dapat,” terang pemimpin Partai Rakyat untuk Kebebasan dan Demokrasi itu. Menurut Rutte, kasus n MH17 belum tentu akan dibawa ke Pengadilan Kriminal Internasional. Semua penyelesaian hukum kasus ini akan disesuaikan dengan apa yang didapat tim investigasi. “Seperti yang kita lihat sekarang, kasus ini tidak cocok jika dibawa ke Pengadilan Kriminal Internasional,” tuturnya.

Muh shamil
(ars)
Berita Terkait
Rakyat Myanmar Siap...
Rakyat Myanmar Siap Laksanakan Pemilihan Umum Minggu Ini
Polisi Italia Sita 6,6...
Polisi Italia Sita 6,6 Ton Ganja dalam Kapal Pesiar Bendera Amerika
Film Horor hingga Superhero,...
Film Horor hingga Superhero, 5 Film Indonesia Go International
Netanyahu Sebut Akan...
Netanyahu Sebut Akan Caplok 30% Wilayah Tepi Barat ke Israel
Masjid Al-Aqsa Kembali...
Masjid Al-Aqsa Kembali Dibuka Setelah Hampir 3 Bulan Ditutup
Pesawat Pakistan Jatuh,...
Pesawat Pakistan Jatuh, Kemlu Sebut Sementara Tidak Ada Korban WNI
Berita Terkini
Geledah Rumah Silmy...
Geledah Rumah Silmy Karim, KPK Yakin Ada Bukti Tambahan
Gugatan Paulus Tannos...
Gugatan Paulus Tannos di Singapura Ditolak, KPK: Percepat Proses Ekstradisi ke Indonesia
Tumbuhkan Asa Jurnalis...
Tumbuhkan Asa Jurnalis Muda di Era Disruspi Digital, IJTI Gelar Konferensi Jurnalis Kampus se-Indonesia
Kemenag Catat 2 Juta...
Kemenag Catat 2 Juta Hewan Kurban Senilai Rp18,28 Triliun Dipotong saat Iduladha
KPK Kembali Geledah...
KPK Kembali Geledah Rumah Silmy di Jalan Brawijaya Jaksel
LPSK Siap Berikan Perlindungan...
LPSK Siap Berikan Perlindungan bagi Justice Collaborator Kasus BGN dan Imipas
Infografis
4 Alasan Selat Hormuz...
4 Alasan Selat Hormuz Jadi Medan Perang Mematikan Antara Iran dan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved