BIN Era Jokowi Harus Utamakan Pendekatan Human Intelijen

Kamis, 06 November 2014 - 11:40 WIB
BIN Era Jokowi Harus...
BIN Era Jokowi Harus Utamakan Pendekatan Human Intelijen
A A A
JAKARTA - Terkait dengan rencana penunjukan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi), ada beberapa hal yang harus diperhatikan.

Hal itu dikatakan politikus Partai Demokrat, Khatibul Umam Wiranu. Menurutnya, syarat pertama Kepala BIN harus memiliki kompetensi dalam dunia intelijen.

"Punya pemahaman defence intelijen, militery strategic intelijen, psywar attack. Karena intelijen disediakan untuk men-support, memberi masukan kepada presiden," kata Khatibul Umam di Jakarta, Kamis (6/11/2014).

Diakuinya, Kepala BIN juga harus punya profesionalitas yang terukur, serta memahami karakteristik bangsa Indonesia yang plural, yang menjadi dasar pengamatannya.

"BIN era pemerintahan Jokowi harus mengedepankan human intelijen, tanpa menafikan pendekatan yang lain. Pendekatan ini tidak lagi menggunakan cara-cara kekerasan namun lebih bersifat persuatif, edukatif, dan humanis," ucapnya.

"Human intelijen juga meniscayakan BIN tak lagi menggunakan cara-cara represif dalam merespons gejala gerakan yang mengganggu keamanan negara di masyarakat. Namun cara persuasif lebih ditekankan," imbuhnya.

Anggota DPR dari Fraksi Demokrat ini menegaskan, dengan cara ini akan menjadikan kelompok yang awalnya anti negara, anti institusi formal kenegaraan, justru bisa berubah menjadi kekuatan yang memperkuat negara, pemerintah.

"Dalam konteks ini sumber rekrutmen Kepala BIN bisa dari PNS karir atau sipil, militer atau bahkan swasta," tuturnya.

Akan tetapi yang berasal dari kalangan sipil atau PNS karir, dapat menjadi terobosan penting untuk mengkondisikan BIN dalam konteks pendekatan human intelijen.

"BIN tidak boleh menakutkan rakyat, ia justru berupaya disegani rakyat, memberi rasa aman," ungkapnya.

Lebih lanjut Khatibul mengatakan, contoh sederhana para teroris, kaum separatis, dan penganut ideologi selain Pancasila yang sudah tertangkap maupun yang dalam pengamatan aparat, tidak bisa langsung dilakukan tindakan kekerasan.

"Tetapi mereka juga harus difasilitasi, diberi ruang oleh negara untuk memperoleh pekerjaan yang layak, demi menghidupi keluarganya. Atau contoh lainnya BIN ibaratnya harus bisa menjelaskan kinerja orang per orang anggota DPR sampai kebiasaan pribadinya," pungkasnya.
(maf)
Berita Terkait
JK soal Kabinet Merah...
JK soal Kabinet Merah Putih: Nanti 6 Bulan Baru Kita Bisa Menilai
Reshuffle Kabinet, Presiden...
Reshuffle Kabinet, Presiden Lantik 2 Menteri 1 Kepala Lembaga
Jokowi Lantik Dua Menteri...
Jokowi Lantik Dua Menteri dan Tiga Wakil Menteri Kabinet Indonesia Maju
JK Sentil Wacana Kabinet...
JK Sentil Wacana Kabinet Prabowo Diisi 40 Menteri: Artinya Bukan Kabinet Kerja tapi Politis
Penilaian 6 Menteri...
Penilaian 6 Menteri Baru di Mata Jokowi
Reshuffle Kabinet, PKS...
Reshuffle Kabinet, PKS Sarankan Jokowi Libatkan KPK Pilih Calon Menteri
Berita Terkini
Panitia Mubes Kosgoro...
Panitia Mubes Kosgoro 1957 Terima Dokumen Lengkap Caketum La Ode Safiul Akbar
Islah Bahrawi Mengaku...
Islah Bahrawi Mengaku Dapat Intimidasi dari OTK, Rumah Diintai hingga Aktivitasnya Dibuntuti
Bahaya Romantisasi Oligarki...
Bahaya Romantisasi Oligarki Putih
Penunjukan Kepala BGN...
Penunjukan Kepala BGN Baru Dinilai Tepat untuk Membenahi MBG
KPK Lelang 106 Lot Barang...
KPK Lelang 106 Lot Barang Rampasan Korupsi dari 26 Perkara, Ada Handphone hingga Bidang Tanah
Geledah Rumah Silmy...
Geledah Rumah Silmy Karim, KPK Yakin Ada Bukti Tambahan
Infografis
8 Menteri Era Jokowi...
8 Menteri Era Jokowi yang Terjerat Kasus Korupsi
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved