PBB Imbau Jangan Terprovokasi Hasil Quick Count
Jum'at, 11 Juli 2014 - 14:11 WIB
PBB Imbau Jangan Terprovokasi Hasil Quick Count
A
A
A
JAKARTA - Hasil hitung cepat (quick count) lembaga survei atas perolehan suara Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014, membuat masyarakat bingung.
Pasalnya, ada perbedaan antara lembaga survei. Empat lembaga survei menyebutkan pasangan nomor urut satu, Prabowo-Hatta lebih unggul dari rivalnya. Sementara delapan lembaga survei menyebutkan, Jokowi-JK lebih unggul.
Menyikapi hal tersebut, Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Partai Bulan Bintang (PBB) MS Kaban mengatakan, sebagai parpol pengusung pasangan capres nomor urut satu, PBB terus mengawal penghitungan suara manual, hingga akhirnya diputuskan siapa yang terpilih.
Dia mengimbau, agar masyarakat sabar menunggu keputusan resmi dari Komisi Pemilihan Umum (KPU). "Rakyat tidak perlu diprovokasi, rakyat tidak perlu diagitasi," ujar Kaban kepada wartawan melalui keterangan tertulis, Jumat (11/7/2014).
"Biarkan KPU yang menghitung sampai diketahui siapa menjadi pemenang. KPU adalah satu-satunya institusi yang legal dan sah untuk mengumumkan siapa yang menjadi pemenang dalam pemilihan presiden dan wakil presiden," ucapnya.
Meskipun hasil quick count berbeda, Kaban mengaku, pihaknya tetap menghormati lembaga survei sebagai lembaga ilmiah, namun tetap independen.
Karena, menurut Kaban, setiap lembaga survei menerapkan metodologi yang berbeda dalam proses hitung cepat sehingga sifatnya belum final. "Lembaga survei melakukan metodologinya masing-masing dalam perhitungan," tuturnya.
"Tapi itu semua hanya kajian ilmiahbdan bukan pendapat final. Harusnya lembaga survei menjujung tinggi kode etik pendekatan ilmiah. Jangan sampai tercedarai oleh faktor-faktor president interest," ungkapnya.
Ia mengharap, khususnya kepada kader PBB, untuk tidak terpengaruh atas hasil-hasil apapun dari survei. "Terkecuali yang diumumkan oleh KPU pada 22 Juli mendatang. Jika ada tudingan yang dikatakan kelompok tertentu bahwa jika kalah itu dicurangi, baiknya diselesaikan di KPU atau di MK," tuntasnya.
Pasalnya, ada perbedaan antara lembaga survei. Empat lembaga survei menyebutkan pasangan nomor urut satu, Prabowo-Hatta lebih unggul dari rivalnya. Sementara delapan lembaga survei menyebutkan, Jokowi-JK lebih unggul.
Menyikapi hal tersebut, Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Partai Bulan Bintang (PBB) MS Kaban mengatakan, sebagai parpol pengusung pasangan capres nomor urut satu, PBB terus mengawal penghitungan suara manual, hingga akhirnya diputuskan siapa yang terpilih.
Dia mengimbau, agar masyarakat sabar menunggu keputusan resmi dari Komisi Pemilihan Umum (KPU). "Rakyat tidak perlu diprovokasi, rakyat tidak perlu diagitasi," ujar Kaban kepada wartawan melalui keterangan tertulis, Jumat (11/7/2014).
"Biarkan KPU yang menghitung sampai diketahui siapa menjadi pemenang. KPU adalah satu-satunya institusi yang legal dan sah untuk mengumumkan siapa yang menjadi pemenang dalam pemilihan presiden dan wakil presiden," ucapnya.
Meskipun hasil quick count berbeda, Kaban mengaku, pihaknya tetap menghormati lembaga survei sebagai lembaga ilmiah, namun tetap independen.
Karena, menurut Kaban, setiap lembaga survei menerapkan metodologi yang berbeda dalam proses hitung cepat sehingga sifatnya belum final. "Lembaga survei melakukan metodologinya masing-masing dalam perhitungan," tuturnya.
"Tapi itu semua hanya kajian ilmiahbdan bukan pendapat final. Harusnya lembaga survei menjujung tinggi kode etik pendekatan ilmiah. Jangan sampai tercedarai oleh faktor-faktor president interest," ungkapnya.
Ia mengharap, khususnya kepada kader PBB, untuk tidak terpengaruh atas hasil-hasil apapun dari survei. "Terkecuali yang diumumkan oleh KPU pada 22 Juli mendatang. Jika ada tudingan yang dikatakan kelompok tertentu bahwa jika kalah itu dicurangi, baiknya diselesaikan di KPU atau di MK," tuntasnya.
(maf)