Pihak Jokowi-JK Pertanyakan Berita Wall Street Journal
Rabu, 02 Juli 2014 - 15:18 WIB
Pihak Jokowi-JK Pertanyakan Berita Wall Street Journal
A
A
A
JAKARTA - Anggota tim pemenangan pasangan calon presiden (capres) nomor urut 2 Joko Widodo-Jusuf Kalla pertanyakan keakuratan pemberitaan di media Amerika Wall Street Journal.
Poempida Hidayatullah selaku anggota tim pemenangan pasangan capres yang disebut Jokowi-JK itu menegaskan, berita yang ditulis media Amerika itu tidak bisa dijadikan ukuran terhadap elektabilitas Jokowi.
"Begini, Wall Street Journal tidak mencantumkan lembaga risetnya apa dan bagaimana metodologinya. Bisa saja mereka mengambil dari hasil yang tidak objektif," kata Poempida ketika dikonfirmasi Sindonews melalui sambungan telepon, Rabu (2/7/2014).
Poempida mengatakan, Wall Street Journal tidak menjelaskan secara detail alasan elektabilitas Jokowi rendah. "Dan itu perlu secara rinci disampaikan oleh Wall Street Journal," tandasnya.
Setelah media Australia The Sydney Morning Herald, kini media Amerika Serikat Wall Street Journal ikut mengulas elektabilitas pasangan Capres Indonesia 2014.
Artikel di Wall Street Journal (WSJ) berjudul Widodo's Polls Lead Drops in Bid for Indonesia Presidency menyoroti elektabilitas Jokowi yang kian waktu terus merosot. Tiga bulan lalu, hasil survei elektabilitas menunjukkan Jokowi jauh memimpin 25 poin dari pesaingnya, Prabowo Subianto. Kini, perbedaan itu kian tipis.
”Sampai-sampai pasar telah memposisikan (Joko Widodo) menang. Ada asumsi yang menyudutkan Prabowo yang disebut tidak bisa duduk nyaman dengan investor,” kata Wellian Wiranto, ekonom dari OCBC Bank, Singapura, seperti dikutip dari WSJ, Minggu 29 Juni lalu.
Poempida Hidayatullah selaku anggota tim pemenangan pasangan capres yang disebut Jokowi-JK itu menegaskan, berita yang ditulis media Amerika itu tidak bisa dijadikan ukuran terhadap elektabilitas Jokowi.
"Begini, Wall Street Journal tidak mencantumkan lembaga risetnya apa dan bagaimana metodologinya. Bisa saja mereka mengambil dari hasil yang tidak objektif," kata Poempida ketika dikonfirmasi Sindonews melalui sambungan telepon, Rabu (2/7/2014).
Poempida mengatakan, Wall Street Journal tidak menjelaskan secara detail alasan elektabilitas Jokowi rendah. "Dan itu perlu secara rinci disampaikan oleh Wall Street Journal," tandasnya.
Setelah media Australia The Sydney Morning Herald, kini media Amerika Serikat Wall Street Journal ikut mengulas elektabilitas pasangan Capres Indonesia 2014.
Artikel di Wall Street Journal (WSJ) berjudul Widodo's Polls Lead Drops in Bid for Indonesia Presidency menyoroti elektabilitas Jokowi yang kian waktu terus merosot. Tiga bulan lalu, hasil survei elektabilitas menunjukkan Jokowi jauh memimpin 25 poin dari pesaingnya, Prabowo Subianto. Kini, perbedaan itu kian tipis.
”Sampai-sampai pasar telah memposisikan (Joko Widodo) menang. Ada asumsi yang menyudutkan Prabowo yang disebut tidak bisa duduk nyaman dengan investor,” kata Wellian Wiranto, ekonom dari OCBC Bank, Singapura, seperti dikutip dari WSJ, Minggu 29 Juni lalu.
(kur)