Kita Tak Perlu Pemimpin yang Diatur
Kamis, 12 Juni 2014 - 19:29 WIB
Kita Tak Perlu Pemimpin yang Diatur
A
A
A
JAKARTA - Ketua tim pemenangan Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa, Mahfud MD mempunyai kriteria sendiri untuk menilai capres dan cawapres mana yang layak memimpin Indonesia mendatang.
Menurut Mahfud, Indonesia butuh pemimpin yang tidak dipengaruhi oleh pihak lain. Baik secara personal maupun kelompok. Katanya, jalan pemimpin yang berdiri sendiri akan mampu mensejahterahkan masyarakat.
"Agar kekayaan bangsa bisa merata, maka kita perlu pemimpin yang mengatur tidak diatur, mengendalikan bukan dikendalikan, memimpin bukan dipimpin," ujar Mahfud saat deklarasi Laskar Hary Tanoesodibjo di Posko Djoko Santoso Center, Jakarta Pusat, Kamis (12/6/2014).
Bagi Mahfud, pemimpin yang dimaksud bebas dari pengaruh lain adalah pasangan Prabowo-Hatta. Menurutnya, pasangan tersebut saat ini lebih diminati masyarakat.
Dia menambahkan, dukungan dari berbagai pihak menjadi energi besar untuk memenangkan pemilu. Bahkan, ia percaya kemenangan pasangan Prabowo-Hatta sekarang sudah di depan mata.
"Dukungan dari Pak Hary Tanoesoedibjo (HT) menjadi modal berharga. Pak HT saya lihat bukan hanya sebagai pribadi tapi juga institusi," tutupnya.
Menurut Mahfud, Indonesia butuh pemimpin yang tidak dipengaruhi oleh pihak lain. Baik secara personal maupun kelompok. Katanya, jalan pemimpin yang berdiri sendiri akan mampu mensejahterahkan masyarakat.
"Agar kekayaan bangsa bisa merata, maka kita perlu pemimpin yang mengatur tidak diatur, mengendalikan bukan dikendalikan, memimpin bukan dipimpin," ujar Mahfud saat deklarasi Laskar Hary Tanoesodibjo di Posko Djoko Santoso Center, Jakarta Pusat, Kamis (12/6/2014).
Bagi Mahfud, pemimpin yang dimaksud bebas dari pengaruh lain adalah pasangan Prabowo-Hatta. Menurutnya, pasangan tersebut saat ini lebih diminati masyarakat.
Dia menambahkan, dukungan dari berbagai pihak menjadi energi besar untuk memenangkan pemilu. Bahkan, ia percaya kemenangan pasangan Prabowo-Hatta sekarang sudah di depan mata.
"Dukungan dari Pak Hary Tanoesoedibjo (HT) menjadi modal berharga. Pak HT saya lihat bukan hanya sebagai pribadi tapi juga institusi," tutupnya.
(maf)