Kubu Jokowi-JK Diingatkan Tak Beri Informasi Menyesatkan
Sabtu, 07 Juni 2014 - 13:01 WIB
Kubu Jokowi-JK Diingatkan Tak Beri Informasi Menyesatkan
A
A
A
JAKARTA - Mantan Petinggi Polri Komjen Pol (Purn) Nugroho Djayusman meminta kepada kubu pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla (Jokowi-JK) agar tak menggunakan isu dugaan keterlibatan Bintara Pembina Desa (Babinsa) untuk menjatuhkan lawan politik.
Nugroho meminta kubu Jokowi-JK membuktikan kebenaran informasi tersebut. Hal itu agar tidak menjadi polemik di masyarakat dan merugikan posisi TNI dan Polri.
"Jangan memberikan informasi-informasi yang menyesatkan. Kalau memang ada buktikan, tindak secara hukum," kata Nugroho, saat kampanye dukungan Prabowo-Hatta di TIM, Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (7/6/2014).
Nugroho menyatakan, masyarakat sekarang jauh sudah cerdas untuk menangkis isu yang berkembang seputar politik. Maka itu, isu mengenai Babinsa yang belum jelas kebenarannya jangan dijadikan alat fitnah untuk menghancurkan lawan.
"Boleh kita berbeda dalam mendukung seseorang, tapi kita tidak boleh menghancurkan," tegas mantan Kapolda Metro Jaya ini.
Bahkan, tambahnya, merebaknya isu Babinsa yang digunakan sebagai alat politik bagian dari strategi politik pragmatis dari kubu Jokowi-JK yang dinilai menggunakan segala cara untuk menang.
Sebelumnya, sempat beredar informasi bahwa orang diduga Babinsa melakukan pendataan terhadap para warga di Jakarta Pusat. Bukan cuma pendataan, oknum Babinsa itu pun diduga mengarahkan kepada warga agar memilih pasangan capres dan cawapres tertentu pada pemungutan suara pemilu presiden 9 Juli mendatang.
Nugroho meminta kubu Jokowi-JK membuktikan kebenaran informasi tersebut. Hal itu agar tidak menjadi polemik di masyarakat dan merugikan posisi TNI dan Polri.
"Jangan memberikan informasi-informasi yang menyesatkan. Kalau memang ada buktikan, tindak secara hukum," kata Nugroho, saat kampanye dukungan Prabowo-Hatta di TIM, Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (7/6/2014).
Nugroho menyatakan, masyarakat sekarang jauh sudah cerdas untuk menangkis isu yang berkembang seputar politik. Maka itu, isu mengenai Babinsa yang belum jelas kebenarannya jangan dijadikan alat fitnah untuk menghancurkan lawan.
"Boleh kita berbeda dalam mendukung seseorang, tapi kita tidak boleh menghancurkan," tegas mantan Kapolda Metro Jaya ini.
Bahkan, tambahnya, merebaknya isu Babinsa yang digunakan sebagai alat politik bagian dari strategi politik pragmatis dari kubu Jokowi-JK yang dinilai menggunakan segala cara untuk menang.
Sebelumnya, sempat beredar informasi bahwa orang diduga Babinsa melakukan pendataan terhadap para warga di Jakarta Pusat. Bukan cuma pendataan, oknum Babinsa itu pun diduga mengarahkan kepada warga agar memilih pasangan capres dan cawapres tertentu pada pemungutan suara pemilu presiden 9 Juli mendatang.
(kri)