Kampanye Negatif Yes, Propaganda Hitam No

Jum'at, 30 Mei 2014 - 08:34 WIB
Kampanye Negatif Yes,...
Kampanye Negatif Yes, Propaganda Hitam No
A A A
JAKARTA - Mendekati Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014, isu dan kabar negatif terkait dua calon presiden dan calon wakil presiden semakin berseliweran, terutama di media sosial.

Isunya pun beragam, mulai dari yang mempersoalkan masa lalu calon presiden (capres), sampai yang menyerempet ke aktivitas agama. Isu negatif tentang capres pun semakin masif.

Menyikapi fenomena tersebut, Pengamat Media dari Universitas Islam Negeri (UIN) Yogyakarta, Iswandi Syahputra mengatakan harus dibedakan antara propaganda hitam (black propaganda) dan kampanye negatif atau negative campaign.

Dia menjelaskan, propaganda hitam adalah perbuatan menyebar isu tanpa berlandaskan fakta dan bukti, atau bisa dikatakan fitnah. "Ini dilarang karena membunuh karakter seseorang. Kabar yang tidak jelas sumbernya dan tidak bisa diverifikasi," ujar Iswandi kepada Sindonews, Rabu 29 Mei 2014 malam.

Berbeda dengan propaganda hitam, kata dia, kampanye negatif memiliki arti upaya untuk menyampaikan sisi negatif seseorang, ada faktanya, sumbernya jelas dan bisa diverifikasi.

Iswandi menilai kampanye negatif justru bermanfaat bagi masyarakat menjelang pemilu untuk mengetahui latar belakang capres. "Kampanye negatif bisa membongkar keburukan dan kelemahan calon pemimpinnya agar tidak seperti membeli kucing dalam karung. Itulah demokrasi," katanya.

Mengamati isu terkait capres yang bertebaran di media sosial, Iswandi menilai saat ini cenderung lebih banyak propaganda hitam dibandingkan kampanye negatif.

Menurut dia, perlu ada kesamaan pandang di antara dua kubu capres untuk menghindari propaganda hitam. Sebab perbuatan tersebut sangat merugikan.

Sebaliknya Iswandi tidak mempermasalahkan jika kedua kubu capres melakukan kampanye negatif. Sebab melalui kampanye negatif, muncul jawaban dari capres terkait suatu hal yang pada akhirnya menjadi informasi bagi masyarakat.

"Sebaiknya para capres melakukan negative campaign karena itu akan memberikan pencerahan bagi publik," katanya.

Kendati demikian, dia mengakui sebagian masyarakat senang dengan isu dari pihak yang melakukan propaganda hitam. "Sebab masyarakat senang dengan isu," tandasnya.

Selain tidak setuju propaganda hitam, Iswandi juga menolak berbagai upaya menjelek-jelekan capres yang menunjuk fisik. Misalnya memberikan penilaian atas wajah dan tubuh seseorang.
(dam)
Berita Terkait
Dosen Fisip Kalsel:...
Dosen Fisip Kalsel: Bahas Dana Alutsista 700 Triliun, Penampilan Anies Terkesan Cari Panggung
Sarat Indikasi Pelanggaran,...
Sarat Indikasi Pelanggaran, Aktivis Ciputat Kampanyekan Tagar Lawan Pemilu Curang
Gara-gara Covid-19,...
Gara-gara Covid-19, Pilpres Polandia Jadi 'Pilpres Hantu'
Jazz dan Pilpres
Jazz dan Pilpres
Gagahnya Ganjar-Mahfud...
Gagahnya Ganjar-Mahfud Kompak Pakai Jaket Bomber ala Pilot Top Gun
Potret Tiga Capres Ikuti...
Potret Tiga Capres Ikuti Debat Ketiga Pilpres 2024
Berita Terkini
Kemlu: Dubes RI untuk...
Kemlu: Dubes RI untuk Iran Hadiri Pemakaman Ali Khamenei
Bambang Saputra: Musyawarah...
Bambang Saputra: Musyawarah Harus Jadi Dasar Pembentukan UU
KPK: Kenaikan Gaji Kepala...
KPK: Kenaikan Gaji Kepala Daerah Tak Menjamin Bakal Bebas Korupsi
Pengembalian Amplop...
Pengembalian Amplop Raja Juli Tak Hapus Unsur Pidana, KPK Terus Dalami Kasus HPT
Menhut: Presiden Minta...
Menhut: Presiden Minta Kemenhut Bangun Tata Kelola Kehutanan Antikorupsi
Pertajam DIM RUU Pemilu,...
Pertajam DIM RUU Pemilu, DPR Buka Peluang Kunjungi NU, Muhammadiyah, hingga Walubi
Infografis
Selain Donald Trump,...
Selain Donald Trump, 4 Capres Ini juga Ditembak saat Kampanye
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved