Dukung Prabowo, PKS Janji Tak Nakal Lagi
Senin, 19 Mei 2014 - 02:21 WIB
Dukung Prabowo, PKS Janji Tak Nakal Lagi
A
A
A
DEPOK - Partai Keadilan Sejahtera (PKS) berjanji tidak akan menjadi 'anak nakal' di dalam koalisi yang mendukung calon presiden (capres) Prabowo Subianto. Karena, semenjak bergabung di Setgab, PKS kerap berseberangan dengan partai koalisi.
"Iya betul seringkali dikatakan demikian ('anak nakal'), sebab di Setgab kebijakannya dibikin dulu lalu diminta yang lain sepakat, akhirnya bersebrangan biar berantem lagi, persoalannya disitu sebenarnya, harusnya berdebat di dalam sebelum kebijakan diputuskan," kata Politikus PKS Mahfudz Abdurrahman di Depok Minggu 18 Mei 2014.
Sebab, lanjut Bendahara DPP PKS ini, komitmen koalisi poros Prabowo akan menggunakan pendekatan kolegial. Sehingga sebuah kebijakan akan diputuskan secara bersama mempertimbangkan suara terbanyak.
Kolektif kolegial, selalu bersama dibahas, misalnya soal subsidi BBM didiskusikan dahulu, baru terjadi perdebatan, baru diambil keputusan. "Jangan berdebat di luar, posisi anggota koalisi setara," katanya.
Terkait kepemimpinan Prabowo, kata Mahfudz, Indonesia membutuhkan pemimpin yang tegas, kuat, berkomitmen, dan demokratis. Hal itu diperlukan dalam menghadapi serangan dari negara-negara tetangga atau asing agar Indonesia tak diinjak-injak.
"Seperti hal memanas dengan negara seperti Malaysia dan Singapura, itu kan perlu penyikapan tegas, perlu pemimpin yang nekat-nekat sedikit. Komitmen kami di dalam koalisi sama-sama memenangkan Prabowo, lalu komitmen, serta sama-sama bekerja sama dalam pengelolaan negara," tandasnya.
"Iya betul seringkali dikatakan demikian ('anak nakal'), sebab di Setgab kebijakannya dibikin dulu lalu diminta yang lain sepakat, akhirnya bersebrangan biar berantem lagi, persoalannya disitu sebenarnya, harusnya berdebat di dalam sebelum kebijakan diputuskan," kata Politikus PKS Mahfudz Abdurrahman di Depok Minggu 18 Mei 2014.
Sebab, lanjut Bendahara DPP PKS ini, komitmen koalisi poros Prabowo akan menggunakan pendekatan kolegial. Sehingga sebuah kebijakan akan diputuskan secara bersama mempertimbangkan suara terbanyak.
Kolektif kolegial, selalu bersama dibahas, misalnya soal subsidi BBM didiskusikan dahulu, baru terjadi perdebatan, baru diambil keputusan. "Jangan berdebat di luar, posisi anggota koalisi setara," katanya.
Terkait kepemimpinan Prabowo, kata Mahfudz, Indonesia membutuhkan pemimpin yang tegas, kuat, berkomitmen, dan demokratis. Hal itu diperlukan dalam menghadapi serangan dari negara-negara tetangga atau asing agar Indonesia tak diinjak-injak.
"Seperti hal memanas dengan negara seperti Malaysia dan Singapura, itu kan perlu penyikapan tegas, perlu pemimpin yang nekat-nekat sedikit. Komitmen kami di dalam koalisi sama-sama memenangkan Prabowo, lalu komitmen, serta sama-sama bekerja sama dalam pengelolaan negara," tandasnya.
(mhd)