Meski sukses di pilgub, PKS belum kuasai Jabar
Senin, 28 April 2014 - 14:23 WIB
Meski sukses di pilgub, PKS belum kuasai Jabar
A
A
A
Sindonews.com - Partai Keadilan Sejahtera (PKS) hanya menempati urutan keempat raihan suara terbanyak Pemilu Legislatif (Pileg) 2014 untuk DPR di Jawa Barat. Padahal pada 2013 PKS memenangkan Pilgub Jawa Barat dengan mengusung Ahmad Heryawan-Deddy Mizwar.
Pengamat politik dari Universitas Padjadjaran (Unpad) Arry Bainus, mengatakan suara PKS di Jawa Barat tidak pernah signifikan. Dia menilai, keberadaan Ahmad Heryawan atau Aher sebagai Gubernur Jawa Barat pun tidak berdampak besar bagi suara PKS.
Kalaupun PKS menang dua kali pada dua kali pilgub, kata dia, itu bukan karena faktor Aher melainkan wakil gubernurnya. "Figur Aher itu (menang) karena Deddy Mizwar. Dulu karena Dede Yusuf. Kalau enggak seperti itu, akan lain ceritanya," ujar Arry, Senin (28/4/2014).
Bukti figur Aher tidak signifikan itu terbukti pada Pileg 2014. PKS tidak memperoleh suara terbanyak di Jawa Barat. "Ketika Aher menang (pilgub), PKS enggak menang (pileg) kan," cetusnya.
Sementara Partai Demokrat yang pada 2009 lalu jadi partai penguasa di Jawa Barat, kali ini justru melorot jauh ke posisi kelima peraih suara terbanyak.
Kondisi itu tidak lain karena banyaknya kader Demokrat yang berurusan dengan hukum, terutama menyangkut kasus korupsi. Hal sama juga terjadi pada PKS.
"(Suara PKS dan Demokrat melorot) itu wajar karena perilaku mereka di tingkat nasional. Yang fenomenal itu Gerindra, dia bisa mengambil suara yang selama ini dikuasai Demokrat," kata Arry.
Sementara secara umum, dia menilai masyarakat Jawa Barat paling siap berdemokrasi. Itu terlihat dari hasil pemilu yang selalu berubah dan dinamis. Masyarakat cenderung memilih parpol yang dinilai memiliki program realistis.
"Di Jawa Barat fenomena seperti itu tidak aneh. Di Jawa Barat itu tidak pernah ada partai yang menguasai secara mutlak, dulu kuning (Golkar), merah (PDIP), Demokrat menang. Saya melihat Jawa Barat paling siap berdemokrasi," tandasnya.
Pengamat politik dari Universitas Padjadjaran (Unpad) Arry Bainus, mengatakan suara PKS di Jawa Barat tidak pernah signifikan. Dia menilai, keberadaan Ahmad Heryawan atau Aher sebagai Gubernur Jawa Barat pun tidak berdampak besar bagi suara PKS.
Kalaupun PKS menang dua kali pada dua kali pilgub, kata dia, itu bukan karena faktor Aher melainkan wakil gubernurnya. "Figur Aher itu (menang) karena Deddy Mizwar. Dulu karena Dede Yusuf. Kalau enggak seperti itu, akan lain ceritanya," ujar Arry, Senin (28/4/2014).
Bukti figur Aher tidak signifikan itu terbukti pada Pileg 2014. PKS tidak memperoleh suara terbanyak di Jawa Barat. "Ketika Aher menang (pilgub), PKS enggak menang (pileg) kan," cetusnya.
Sementara Partai Demokrat yang pada 2009 lalu jadi partai penguasa di Jawa Barat, kali ini justru melorot jauh ke posisi kelima peraih suara terbanyak.
Kondisi itu tidak lain karena banyaknya kader Demokrat yang berurusan dengan hukum, terutama menyangkut kasus korupsi. Hal sama juga terjadi pada PKS.
"(Suara PKS dan Demokrat melorot) itu wajar karena perilaku mereka di tingkat nasional. Yang fenomenal itu Gerindra, dia bisa mengambil suara yang selama ini dikuasai Demokrat," kata Arry.
Sementara secara umum, dia menilai masyarakat Jawa Barat paling siap berdemokrasi. Itu terlihat dari hasil pemilu yang selalu berubah dan dinamis. Masyarakat cenderung memilih parpol yang dinilai memiliki program realistis.
"Di Jawa Barat fenomena seperti itu tidak aneh. Di Jawa Barat itu tidak pernah ada partai yang menguasai secara mutlak, dulu kuning (Golkar), merah (PDIP), Demokrat menang. Saya melihat Jawa Barat paling siap berdemokrasi," tandasnya.
(dam)