Ada Jokowi di soal UN, 'Tolong bermartabat sedikit'
Rabu, 16 April 2014 - 18:18 WIB
Ada Jokowi di soal UN, 'Tolong bermartabat sedikit'
A
A
A
Sindonews.com - Pemuatan beberapa hal yang menyangkut Joko Widodo (Jokowi) di soal Ujian Nasional (UN) disesalkan banyak pihak. Dari pihak birokrat pendidikan di daerah hingga masyarakat.
Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kota Salatiga, Jawa Tengah, Tedjo Supriyanto menyayangkan pemuatan nama calon presiden dari PDIP tersebut. Karena sejatinya soal UN telah dibuat sejak lama.
Semestinya pembuatan soal UN telah mempertimbangkan unsur kepatutan, dan tidak memasukkan materi yang bermuatan politik.
"Kami berharap, kedepan orang-orang intelek yang membuat naskah soal harus berhati-hati. Jangan sampai muatan politik masuk dalam naskah soal UN. Terlebih tahun ini adalah tahun politik, sehingga pasti komoditas politik dan disorot banyak pihak," katanya saat ditemui, Rabu (16/4/2014).
Sementara itu, Ilyas, warga Tingkir, Salatiga, juga menyayangkan munculnya narasi yang terkesan menaikkan pamor Jokowi.
"Semestinya hal ini tidak perlu terjadi. Ini model apa lagi. Kalau dunia pendidikan disusupi muatan politis seperti ini, asas kepatutan penyusunan naskah soal UN dipertanyakan. Ini akan kami jadikan catatan," katanya.
Dia mengimbau kepada para calon presiden dan elit politik untuk menahan diri. Kepentingan politik jangan dimasukkan dalam dunia pendidikan. Sebab itu bisa merugikan kalangan pendidikan dan masyarakat luas. "Tolong yang bermartabat sedikit," ucapnya.
Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kota Salatiga, Jawa Tengah, Tedjo Supriyanto menyayangkan pemuatan nama calon presiden dari PDIP tersebut. Karena sejatinya soal UN telah dibuat sejak lama.
Semestinya pembuatan soal UN telah mempertimbangkan unsur kepatutan, dan tidak memasukkan materi yang bermuatan politik.
"Kami berharap, kedepan orang-orang intelek yang membuat naskah soal harus berhati-hati. Jangan sampai muatan politik masuk dalam naskah soal UN. Terlebih tahun ini adalah tahun politik, sehingga pasti komoditas politik dan disorot banyak pihak," katanya saat ditemui, Rabu (16/4/2014).
Sementara itu, Ilyas, warga Tingkir, Salatiga, juga menyayangkan munculnya narasi yang terkesan menaikkan pamor Jokowi.
"Semestinya hal ini tidak perlu terjadi. Ini model apa lagi. Kalau dunia pendidikan disusupi muatan politis seperti ini, asas kepatutan penyusunan naskah soal UN dipertanyakan. Ini akan kami jadikan catatan," katanya.
Dia mengimbau kepada para calon presiden dan elit politik untuk menahan diri. Kepentingan politik jangan dimasukkan dalam dunia pendidikan. Sebab itu bisa merugikan kalangan pendidikan dan masyarakat luas. "Tolong yang bermartabat sedikit," ucapnya.
(hyk)