Hanura ancam dominasi parpol basis agama
Selasa, 08 April 2014 - 20:42 WIB
Hanura ancam dominasi parpol basis agama
A
A
A
Sindonews.com - Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) diprediksi akan berada pada posisi tiga besar pada Pemilihan Umum (Pemilu) 2014. Bahkan, partai politik bernomor urut 10 ini dianggap mampu mengancam dominasi partai berideologi Islam di posisi tiga sampai lima besar.
"Hanura mampu menggeser posisi partai berbasis Islam seperti PKS, PAN, PPP dan PKB, karena ada persoalan isu yang melekat dari tingkat keyakinan. Pemilih melihat partai Islam melaksanakan akidah di masyarkat. Keyakinan itu bergeser setelah ada kasus kok tokohnya terlibat korupsi," jelas CEO Lembaga Klimatologi Politik Usman Rachman, saat ditemui di Pulau Dua, Jakarta, Selasa (8/4/2014).
Usman menambahkan, partai Islam saat ini relatif terpecah. Kemudian, saat partai Islam yang masuk wilayah tradisional tidak mampu menampilkan performa yang berkembang di era modern.
"Kalau lihat media, memang dikuasai partai nasional. Dan partai Islam tak memegang media sebgai wahana gagasannya," tegasnya.
Sementara, pengamat politik senior Political Weather Station, Denni Ramdani mengatakan, pemimpin partai Islam berfikir pragmatis dan tak ingin duduk bersama untuk bersatu.
Terlepas dari keberhasilan Hanura menyalip partai Islam, Denni menganggap, partai besutas Wiranto itu memiliki persepsi sebagai partai bersih. "Sayang tidak dieksplor oleh tim Win-HT. Padahal, bisa jadi alternatif untuk membangung pemerintahan yang bersih di masa mendatang," kata Denni.
Selanjutnya, Partai Hanura juga terbebas dari konflik. Sebab, meski berada di luar pemerintah tapi tak pernah terlau reaktif terhadap kebijakan pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), selama 10 tahun ini.
"Kedua unggulan ini akan menjadi nilai tambah Hanura mendapat dukungan. Apakah Hanura masuk tiga besar, mungkin saja terjadi," tuntasnya.
"Hanura mampu menggeser posisi partai berbasis Islam seperti PKS, PAN, PPP dan PKB, karena ada persoalan isu yang melekat dari tingkat keyakinan. Pemilih melihat partai Islam melaksanakan akidah di masyarkat. Keyakinan itu bergeser setelah ada kasus kok tokohnya terlibat korupsi," jelas CEO Lembaga Klimatologi Politik Usman Rachman, saat ditemui di Pulau Dua, Jakarta, Selasa (8/4/2014).
Usman menambahkan, partai Islam saat ini relatif terpecah. Kemudian, saat partai Islam yang masuk wilayah tradisional tidak mampu menampilkan performa yang berkembang di era modern.
"Kalau lihat media, memang dikuasai partai nasional. Dan partai Islam tak memegang media sebgai wahana gagasannya," tegasnya.
Sementara, pengamat politik senior Political Weather Station, Denni Ramdani mengatakan, pemimpin partai Islam berfikir pragmatis dan tak ingin duduk bersama untuk bersatu.
Terlepas dari keberhasilan Hanura menyalip partai Islam, Denni menganggap, partai besutas Wiranto itu memiliki persepsi sebagai partai bersih. "Sayang tidak dieksplor oleh tim Win-HT. Padahal, bisa jadi alternatif untuk membangung pemerintahan yang bersih di masa mendatang," kata Denni.
Selanjutnya, Partai Hanura juga terbebas dari konflik. Sebab, meski berada di luar pemerintah tapi tak pernah terlau reaktif terhadap kebijakan pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), selama 10 tahun ini.
"Kedua unggulan ini akan menjadi nilai tambah Hanura mendapat dukungan. Apakah Hanura masuk tiga besar, mungkin saja terjadi," tuntasnya.
(maf)