Tukang sayur & pedagang ikan curhat ke HT
Rabu, 02 April 2014 - 20:26 WIB
Tukang sayur & pedagang ikan curhat ke HT
A
A
A
Sindonews.com - Usai melakukan kampanye terbuka di Gelanggang Olah Raga (GOR) H Agus Salim Padang, Sumatera Barat, Calon Wakil Presiden (Cawapres) Partai Hanura Hary Tanoesoedibjo (HT) makan bersama di Kantor DPD Partai Hanura Sumbar sekira 100 meter dari lokasi kampanye.
Usai makan bersama, rombongan HT mengunjungi pedagang Pasar Raya Padang. Awalnya, ia menyapa seorang ibu-ibu penjual sayur dan mengajak berbincang. HT menanyakan lama tahun dia jualan.
“Saya sudah 10 tahun jualan pak, begini-begini saja, untuk kehidupan keluarga. Lihat pak di sini jalannya banyak lumpur,” kata ibu pedagang sayur curhat pada HT, Rabu (2/4/2014).
Kemudian rombongan terus melanjutkan perjalanan, dan berhenti di pedagang ikan. HT kembali menyapa pedagang ikan. Kali ini pedagang ikan bernama Budi (37) yang mendapat giliran.
“Saya berdagang sudah 15 tahun pak, saya mengambil ikan dari Pasie Nan Tigo di Koto Tangah. Satu hari kami mengeluarkan biaya Rp5 juta, kalau tidak terjual kami simpan di peti dikasih batu es,” katanya.
HT lalu memberikan semangat kepada pedagang untuk tidak mundur dan terus berusaha. “Bapak tidak perlu patah semangat dan terus berjuang dan berusaha,” kata HT pada pedagang.
Kondisi jalan yang becek dan bau, tak mengurungkan langkah HT melintasi Jalan Sandang Pangan tersebut hingga di ujung. Tak lupa juga menyapa para pedagang yang buka lapak di Pasar Raya tersebut.
Usai melakukan blusukan di Pasar Raya, HT menilai Pasar Raya Padang kurang tertata. “Tapi ini terkesan kotor, kalau kurang tertata dan rapi pengunjung juga tidak akan nyaman untuk datang ke sini. Coba ditata yang bagus, apalagi pasar ini di pusat kota,” ujarnya.
Selain itu, menurutnya pemerintah juga harus memberikan perhatian yang serius kepada para pedagang kecil ini. Sebab kontribusi terbesar bagi negara berasal dari usaha kecil dan menengah ini. “Ada sekira 45 persen kontribusi mereka, tapi nasib mereka begitu terus,” ujarnya.
Solusi yang diberikan, tambah HT, dalam mengatasi kondisi pedagang adalah pemerintah harus memberikan pelatihan soal manajemen usaha kepada para pedagang. Sekaligus memberikan pembinaan dan modal bagi mereka.
“Apalagi dulu mereka jualan di Pasar Inpres sejak gempa 2009 lalu sampai saat ini mereka tetap di lapak-lapak yang kurang tertata,” pungkasnya.
Usai makan bersama, rombongan HT mengunjungi pedagang Pasar Raya Padang. Awalnya, ia menyapa seorang ibu-ibu penjual sayur dan mengajak berbincang. HT menanyakan lama tahun dia jualan.
“Saya sudah 10 tahun jualan pak, begini-begini saja, untuk kehidupan keluarga. Lihat pak di sini jalannya banyak lumpur,” kata ibu pedagang sayur curhat pada HT, Rabu (2/4/2014).
Kemudian rombongan terus melanjutkan perjalanan, dan berhenti di pedagang ikan. HT kembali menyapa pedagang ikan. Kali ini pedagang ikan bernama Budi (37) yang mendapat giliran.
“Saya berdagang sudah 15 tahun pak, saya mengambil ikan dari Pasie Nan Tigo di Koto Tangah. Satu hari kami mengeluarkan biaya Rp5 juta, kalau tidak terjual kami simpan di peti dikasih batu es,” katanya.
HT lalu memberikan semangat kepada pedagang untuk tidak mundur dan terus berusaha. “Bapak tidak perlu patah semangat dan terus berjuang dan berusaha,” kata HT pada pedagang.
Kondisi jalan yang becek dan bau, tak mengurungkan langkah HT melintasi Jalan Sandang Pangan tersebut hingga di ujung. Tak lupa juga menyapa para pedagang yang buka lapak di Pasar Raya tersebut.
Usai melakukan blusukan di Pasar Raya, HT menilai Pasar Raya Padang kurang tertata. “Tapi ini terkesan kotor, kalau kurang tertata dan rapi pengunjung juga tidak akan nyaman untuk datang ke sini. Coba ditata yang bagus, apalagi pasar ini di pusat kota,” ujarnya.
Selain itu, menurutnya pemerintah juga harus memberikan perhatian yang serius kepada para pedagang kecil ini. Sebab kontribusi terbesar bagi negara berasal dari usaha kecil dan menengah ini. “Ada sekira 45 persen kontribusi mereka, tapi nasib mereka begitu terus,” ujarnya.
Solusi yang diberikan, tambah HT, dalam mengatasi kondisi pedagang adalah pemerintah harus memberikan pelatihan soal manajemen usaha kepada para pedagang. Sekaligus memberikan pembinaan dan modal bagi mereka.
“Apalagi dulu mereka jualan di Pasar Inpres sejak gempa 2009 lalu sampai saat ini mereka tetap di lapak-lapak yang kurang tertata,” pungkasnya.
(kri)