Wajar kebijakan Jokowi diserang
Rabu, 26 Maret 2014 - 15:52 WIB
Wajar kebijakan Jokowi diserang
A
A
A
Sindonews.com - Sejak ditunjuk sebagai calon presiden oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Joko Widodo mulai mendapatkan serangan dari lawan-lawan politiknya. Dalam pertarungan politik serangan tersebut adalah hal yang wajar.
Namun pengamat politik dari Universitas Indonesia Andrinof Chaniago mengingatkan, seyogyanya para lawan politik Gubernur DKI Jakarta itu melakukan serangan secara santun.
"Sebetulnya soal serang menyerang (itu) biasa. Tetapi (harus) ada standar. Ada standar etik, norma," ujar Andrinof saat berbincang dengan Sindonews, Selasa 25 Maret malam.
Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI) ini mencontohkan, serangan politik yang santun itu bisa berupa mengkritik ide-ide kebijakan Joko Widodo selama dua tahun menjabat Gubernur DKI Jakarta. Begitupula dengan kemampuannya memimpin Ibu Kota Jakarta.
"Tetapi kalau soal rumor, sumir, itu enggak sehat. Itu politik yang tidak ada kemajuan, tidak dewasa," tuturnya.
Andrinof memberikan nasihat utama bagi lawan politik pria asal Solo yang kerap dipanggil Jokowi itu, yakni emosi. "Pelajari, jangan terlalu mengikuti emosi."
Karena seorang pemimpin itu dilihat dari tiga kecerdasan. Pertama, intelektual, atau kualitas logika. Kedua, emosional. Emosi menyangkut kualitas pribadi. "Bagaimana dia bersikap kepada orang lain," jelasnya.
Terakhir, kecerdasan sosial. Yakni mengenai empati, pemahaman terhadap situasi sosial, serta bagaimana dampak tindakan dan ucapan.
Jokowi, diakui Andrinof, tidak memiliki intelektual yang lebih tinggi dibanding pemimpin-pemimpin lainnya. Namun, Jokowi memiliki kecerdasan emosional. Hal ini menjadi keunggulan bagi pasangan Basuki T Purnama dalam memimpin Jakarta.
"Intelektual masalah biasa. Tetapi dalam situasi serang, senyum (Jokowi) itu (bentuk) pengendalian diri. Ajakan dia untuk santun," tutup Andrinof.
Namun pengamat politik dari Universitas Indonesia Andrinof Chaniago mengingatkan, seyogyanya para lawan politik Gubernur DKI Jakarta itu melakukan serangan secara santun.
"Sebetulnya soal serang menyerang (itu) biasa. Tetapi (harus) ada standar. Ada standar etik, norma," ujar Andrinof saat berbincang dengan Sindonews, Selasa 25 Maret malam.
Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI) ini mencontohkan, serangan politik yang santun itu bisa berupa mengkritik ide-ide kebijakan Joko Widodo selama dua tahun menjabat Gubernur DKI Jakarta. Begitupula dengan kemampuannya memimpin Ibu Kota Jakarta.
"Tetapi kalau soal rumor, sumir, itu enggak sehat. Itu politik yang tidak ada kemajuan, tidak dewasa," tuturnya.
Andrinof memberikan nasihat utama bagi lawan politik pria asal Solo yang kerap dipanggil Jokowi itu, yakni emosi. "Pelajari, jangan terlalu mengikuti emosi."
Karena seorang pemimpin itu dilihat dari tiga kecerdasan. Pertama, intelektual, atau kualitas logika. Kedua, emosional. Emosi menyangkut kualitas pribadi. "Bagaimana dia bersikap kepada orang lain," jelasnya.
Terakhir, kecerdasan sosial. Yakni mengenai empati, pemahaman terhadap situasi sosial, serta bagaimana dampak tindakan dan ucapan.
Jokowi, diakui Andrinof, tidak memiliki intelektual yang lebih tinggi dibanding pemimpin-pemimpin lainnya. Namun, Jokowi memiliki kecerdasan emosional. Hal ini menjadi keunggulan bagi pasangan Basuki T Purnama dalam memimpin Jakarta.
"Intelektual masalah biasa. Tetapi dalam situasi serang, senyum (Jokowi) itu (bentuk) pengendalian diri. Ajakan dia untuk santun," tutup Andrinof.
(hyk)