HT ingin RI masuk lima besar negara mapan
Sabtu, 15 Maret 2014 - 04:35 WIB
HT ingin RI masuk lima besar negara mapan
A
A
A
Sindonews.com - Calon Wakil Presiden dari Partai Hanura Hary Tanoesoedibjo (HT) ingin membawa Indonesia masuk lima besar negara berekonomi mapan
HT pun optimistis mampu menempatkan Indonesia berada di antara negara mapan seperti Amerika Serikat, China, Jepang, Jerman dan Perancis. "Kita memiliki potensi itu. Saya memimpikan membawa perubahan yang lebih baik, " tutur HT dalam sambutanya di acara Silaturahmi dan Dialog dengan Pendeta se-eks Karesidenan Kediri di Kota Tulungagung, Kamis 14 Maret 2014.
Saat ini ranking ekonomi tertinggi di dunia masih diduduki Amerika Serikat dengan pendapatan mencapai USD16 triliun per tahun. Kemudian China USD9 triliun, Jepang USD6 triliun, Jerman USD3,4 triliun.
HT menandaskan bukan tidak mungkin Indonesia yang menyimpan banyak potensi alam dan manusia akan berada di antaranya. “Sangat mungkin kita menjadi negara maju, “paparnya.
Dia mengatakan, sejumlah sumber kekayaan alam Indonesia adalah yang terbesar di dunia. HT juga menggambarkan luasnya kawasan hutan tropis dan perkebunan Indonesia. Belum lagi bentangan lautan dengan hasil baharinya, serta aneka tambang. "Terutama batubara, Indonesia merupakan salah satu produsen terbesar di dunia, " tuturnya.
Menurut HT, pendapatan perkapita rata rata penduduk Indonesia jangan berhenti pada margin Rp3,4 juta per bulan. Pendapatan rata-rata penduduk Indonesia bisa mencapai angka Rp12 juta per bulan, sebagaimana ciri sebuah negara maju.
Tidak hanya pendapatan meningkat. Di negara maju, layanan pendidikan dan kesehatan diberikan kepada masyarakat secara gratis. Pengangguran juga memperoleh subsidi hingga mendapat lapangan pekerjaan.
"Ironisnya semua di sini masih impor. Mulai dari garam, kedelai, gula hingga cabai didatangkan dari negara lain, " ujar HT yang mengaku telah melakukan perjalanan panjang ke seluruh pelosok nusantara.
Dia prihatin melihat kondisi masyarakat saat ini. Negara yang seharusnya bisa kuat di mata dunia, Indonesia ternyata masih bergantung pada hutang. "Saat ini Indonesia adalah negara yang tidak memiliki kepastian. Mulai dari ketidakpastian ekonomi hingga hukum, " katanya.
HT mencontohkan pesatnya perkembangan ekonomi di negara China. Menurut dia, China melakukan reformasi ekonomi terlebih dahulu sebelum melanjutkan reformasi politik. Berbeda dengan Uni Soviet (sekarang Rusia) yang melakukan langkah sebaliknya. Apa yang dilakukan Soviet mengakibatkan negara yang sebelumnya adikuasa itu terpecah menjadi banyak negara. “Kita perlu mencontoh sesuatu yang bagus, “paparnya disambut tepuk tangan.
HT pun optimistis mampu menempatkan Indonesia berada di antara negara mapan seperti Amerika Serikat, China, Jepang, Jerman dan Perancis. "Kita memiliki potensi itu. Saya memimpikan membawa perubahan yang lebih baik, " tutur HT dalam sambutanya di acara Silaturahmi dan Dialog dengan Pendeta se-eks Karesidenan Kediri di Kota Tulungagung, Kamis 14 Maret 2014.
Saat ini ranking ekonomi tertinggi di dunia masih diduduki Amerika Serikat dengan pendapatan mencapai USD16 triliun per tahun. Kemudian China USD9 triliun, Jepang USD6 triliun, Jerman USD3,4 triliun.
HT menandaskan bukan tidak mungkin Indonesia yang menyimpan banyak potensi alam dan manusia akan berada di antaranya. “Sangat mungkin kita menjadi negara maju, “paparnya.
Dia mengatakan, sejumlah sumber kekayaan alam Indonesia adalah yang terbesar di dunia. HT juga menggambarkan luasnya kawasan hutan tropis dan perkebunan Indonesia. Belum lagi bentangan lautan dengan hasil baharinya, serta aneka tambang. "Terutama batubara, Indonesia merupakan salah satu produsen terbesar di dunia, " tuturnya.
Menurut HT, pendapatan perkapita rata rata penduduk Indonesia jangan berhenti pada margin Rp3,4 juta per bulan. Pendapatan rata-rata penduduk Indonesia bisa mencapai angka Rp12 juta per bulan, sebagaimana ciri sebuah negara maju.
Tidak hanya pendapatan meningkat. Di negara maju, layanan pendidikan dan kesehatan diberikan kepada masyarakat secara gratis. Pengangguran juga memperoleh subsidi hingga mendapat lapangan pekerjaan.
"Ironisnya semua di sini masih impor. Mulai dari garam, kedelai, gula hingga cabai didatangkan dari negara lain, " ujar HT yang mengaku telah melakukan perjalanan panjang ke seluruh pelosok nusantara.
Dia prihatin melihat kondisi masyarakat saat ini. Negara yang seharusnya bisa kuat di mata dunia, Indonesia ternyata masih bergantung pada hutang. "Saat ini Indonesia adalah negara yang tidak memiliki kepastian. Mulai dari ketidakpastian ekonomi hingga hukum, " katanya.
HT mencontohkan pesatnya perkembangan ekonomi di negara China. Menurut dia, China melakukan reformasi ekonomi terlebih dahulu sebelum melanjutkan reformasi politik. Berbeda dengan Uni Soviet (sekarang Rusia) yang melakukan langkah sebaliknya. Apa yang dilakukan Soviet mengakibatkan negara yang sebelumnya adikuasa itu terpecah menjadi banyak negara. “Kita perlu mencontoh sesuatu yang bagus, “paparnya disambut tepuk tangan.
(dam)