Ini alasan HT terjun ke politik
Rabu, 05 Maret 2014 - 21:29 WIB
Ini alasan HT terjun ke politik
A
A
A
Sindonews.com - Hary Tanoesoedibjo (HT) adalah putra asli Surabaya, Provinsi Jawa Timur yang dikenal dengan Kota Pahlawan. HT lahir pada 26 September 1965. Ibunya berasal dari Bangilan, desa kecil di Kabupaten Tuban.
Sedangkan ayahnya perantau dari Kabupaten Trenggalek, daerah tingkat dua yang dikenal sebagai penghasil makanan khas keripik tempe. Pada 1990, HT hijrah ke ibu kota. Sejak saat itu, dia mulai menekuni dunia bisnis, serta menjadi pengajar (dosen) tamu, di Universitas Indonesia (UI).
“Tentunya di sini saya ingin mengenalkan diri terlebih dahulu. Bahwa saya asli dari Jawa Timur,“ ujar Calon Wakil Presiden (Cawapres) Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) itu, di Desa Bendosari, Kecamatan Sanankulon, Kabupaten Blitar, Rabu (5/3/2014).
Kerjakeras HT selama di Jakarta berbuah manis. Tidak hanya terjun di bisnis media, sejumlah bisnis perbankan, asuransi, dan jalan tol kini telah dikuasainya. Sebagai usahawan muda, Ketua Bappilu DPP Partai Hanura ini, berhasil memperkerjakan sedikitnya 30 ribu karyawan.
Kendati begitu, HT tetap rendah hati. Baginya, limpahan rezeki dari dunia bisnis yang diterimanya kini sudah lebih dari cukup. Namun, hidup menurutnya harus terus berbagi dengan sesama. Inilah tujuan HT terjun ke dunia politik.
“Di politik saya tidak mencari rezeki. Saya ingin menjadi bagian dari perubahan Indonesia yang lebih baik. Itulah kenapa harus ada pasangan WIN-HT,“ paparnya.
Sebagai seorang pengusaha, HT dapat melihat peluang Indonesia secara ekonomi di hadapan negara di dunia. Menurutnya, sebuah negara bisa dikatakan maju apabila pendapatan penduduknya per bulan mencapai Rp12 juta. Sedang pendapatan per bulan penduduk di negara berkembang Rp4 juta, dan negara terbelakang Rp1 juta.
“Indonesia memerlukan tiga kali lompatan untuk bisa menjadi negara maju. Bahkan dengan Malaysia yang rata-rata pendapatan penduduknya Rp11 juta per bulan masih kalah,“ jelasnya.
Jurang kesenjangan antara si miskin dan si kaya, di Indonesia masih sangat tajam. Begitu juga dengan pendidikan, 40 persen atau 100 juta jiwa penduduk Indonesia masih mengenyam pendidikan sekolah dasar (SD).
Sementara kekayaan alam yang besar, tidak diolah secara optimal. Bahkan, sejumlah bahan pangan pertanian justru mendatangkan (impor) dari negara lain. Kenyataan ini, membuat HT miris. “Padahal selain kesehatan, pendidikan adalah hal yang utama bagi rakyat,“ tegasnya.
Sedangkan ayahnya perantau dari Kabupaten Trenggalek, daerah tingkat dua yang dikenal sebagai penghasil makanan khas keripik tempe. Pada 1990, HT hijrah ke ibu kota. Sejak saat itu, dia mulai menekuni dunia bisnis, serta menjadi pengajar (dosen) tamu, di Universitas Indonesia (UI).
“Tentunya di sini saya ingin mengenalkan diri terlebih dahulu. Bahwa saya asli dari Jawa Timur,“ ujar Calon Wakil Presiden (Cawapres) Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) itu, di Desa Bendosari, Kecamatan Sanankulon, Kabupaten Blitar, Rabu (5/3/2014).
Kerjakeras HT selama di Jakarta berbuah manis. Tidak hanya terjun di bisnis media, sejumlah bisnis perbankan, asuransi, dan jalan tol kini telah dikuasainya. Sebagai usahawan muda, Ketua Bappilu DPP Partai Hanura ini, berhasil memperkerjakan sedikitnya 30 ribu karyawan.
Kendati begitu, HT tetap rendah hati. Baginya, limpahan rezeki dari dunia bisnis yang diterimanya kini sudah lebih dari cukup. Namun, hidup menurutnya harus terus berbagi dengan sesama. Inilah tujuan HT terjun ke dunia politik.
“Di politik saya tidak mencari rezeki. Saya ingin menjadi bagian dari perubahan Indonesia yang lebih baik. Itulah kenapa harus ada pasangan WIN-HT,“ paparnya.
Sebagai seorang pengusaha, HT dapat melihat peluang Indonesia secara ekonomi di hadapan negara di dunia. Menurutnya, sebuah negara bisa dikatakan maju apabila pendapatan penduduknya per bulan mencapai Rp12 juta. Sedang pendapatan per bulan penduduk di negara berkembang Rp4 juta, dan negara terbelakang Rp1 juta.
“Indonesia memerlukan tiga kali lompatan untuk bisa menjadi negara maju. Bahkan dengan Malaysia yang rata-rata pendapatan penduduknya Rp11 juta per bulan masih kalah,“ jelasnya.
Jurang kesenjangan antara si miskin dan si kaya, di Indonesia masih sangat tajam. Begitu juga dengan pendidikan, 40 persen atau 100 juta jiwa penduduk Indonesia masih mengenyam pendidikan sekolah dasar (SD).
Sementara kekayaan alam yang besar, tidak diolah secara optimal. Bahkan, sejumlah bahan pangan pertanian justru mendatangkan (impor) dari negara lain. Kenyataan ini, membuat HT miris. “Padahal selain kesehatan, pendidikan adalah hal yang utama bagi rakyat,“ tegasnya.
(san)