Keterlibatan perempuan di parlemen meningkat

Selasa, 04 Februari 2014 - 21:55 WIB
Keterlibatan perempuan...
Keterlibatan perempuan di parlemen meningkat
A A A
Sindonews.com - keterlibatan perempuan di parlemen terus meningkat. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPP dan PA) mencatat kenaikan itu terlihat sejak tahun 2010 sampai 2012.

Menurut Menteri Negeri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Linda Amalia Sari Gumelar, peningkatan partisipasi perempuan sebelum reformasi dan sesudah reformasi sangat terlihat pada saat pemilu.

Minat serta partisipasi perempuan dalam wadah di legislatif, kata dia, merupakan akses untuk menujukan kemampuanya di bidang politik.

Menurut dia, hak-hak perempuan dalam politik juga harus terpenuhi.? Jangan sampai kapasitas perempuan dalam parpol hanya memenuhi kuota.

"Mungkin terjadi, memang dirasakan hanya memenuhi kuota di legislatif saja tetapi tidak semuanya," kata dia saat ditemui di kantor KPP dan PA, Selasa (4/2/2012).

Saat ini, kata dia, keberadaan perempuan dalam politik di legislatif adalah modal utama untuk mereka tampil dan menunjukan keahlianya. Prosesnya akan menjadi pembelajaran untuk mereka menguasai politik.

"Yang terpenting ada dulu. Jangan dipikirkan siapa yang lebih banyak buat kesalahan. Jangankan caleg perempuan, caleg laki-lakipun juga ada yang bermasalah," kata dia.

Linda memaparkan, bahwa parpol memiliki tanggap jawab penuh dengan pengkaderan kadernya. Termasuk kepada perempuan. Kader perempuan harus meminta pembelajaran dari partai dan terdidik secara kader.

Akses perempuan di parlemen saat ini masih 30%. Dengan kapasitas yang minim, parpol harus merekrut dan memilih kader perempuan yang berkualitas. "Parpol harus memajukan kadernya yang cerdas karena maju untuk untuk mewakili rakyat. Masyarakat juga harus memilih anggota dewan yang berkualitas. Nah disanalah proses demokrasinya.

Waktu 5 tahun untuk parpol mengkadarisasi dirasa cukup. Untuk itu diharapkan parpol tidak asal 'mengambil' kadernya. Keberadaan kader perempuan dan laki-laki tidak boleh di kotak-kotakan. "Cara berpikir bias gender harus di lepaskan. Karena hal ini akan akan mempengaruhi keinginan dan minat perempaun untuk berada di parlemen," katanya.
(dam)
Berita Terkait
Fokus Masalah Perempuan...
Fokus Masalah Perempuan dan Anak, Jessica Diapresiasi Banyak Tokoh Dunia
Rakernas KPPI Dorong...
Rakernas KPPI Dorong Kementerian PPPA Jadi Kementerian Koordinator
Siapa Maryam Nawaz?...
Siapa Maryam Nawaz? Politikus Perempuan Pertama yang Menjadi Menteri Utama Punjab di Pakistan
KPPG Sebut Peran Penting...
KPPG Sebut Peran Penting Perempuan dalam Politik Nasional
Demokrasi Belum Utuh...
Demokrasi Belum Utuh Jika Perempuan Masih Minim Keterwakilan
Politik PKB Memuliakan...
Politik PKB Memuliakan Perempuan
Berita Terkini
Lantik 1.177 Perwira...
Lantik 1.177 Perwira TNI-Polri, Prabowo: Pangkat adalah Amanah dan Kepercayaan Rakyat
Prabowo Lantik 1.177...
Prabowo Lantik 1.177 Perwira TNI-Polri, Anugerahkan Adhi Makayasa ke Lulusan Terbaik
Akademisi UI: Indonesia...
Akademisi UI: Indonesia Perlu Regulasi Atasi Ancaman Spionase dan Siber
Belum Genap 2 Bulan...
Belum Genap 2 Bulan Jabat Kepala BGN, Nanik Mundur untuk Pengobatan Jantung
Prabowo Setujui Nanik...
Prabowo Setujui Nanik S Deyang Mundur dari Kepala BGN
Wamentan Sudaryono Dikabarkan...
Wamentan Sudaryono Dikabarkan Gantikan Nanik S Deyang sebagai Kepala BGN
Infografis
20 Universitas Terbaik...
20 Universitas Terbaik di Indonesia Versi QS WUR 2027
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved