Ical capres yang kurang diminati wartawan
Rabu, 22 Januari 2014 - 22:15 WIB
Ical capres yang kurang diminati wartawan
A
A
A
Sindonews.com - Dalam rilis survei Sinergi Masyarakat untuk Demokrasi (Sigma), calon presiden (Capres) dari Partai Golkar Aburizal Bakrie (Ical) sosoknya ternyata kurang diminati wartawan. Sebab, dari 10 capres yang menjadi penelitian Sigma nama Ketua Umum Golkar ini tak masuk atau tak disebutkan dalam survei tersebut.
Jajak pendapat sendiri dilakukan terhadap 112 Informan yang berprofesi sebagai jurnalis dari 63 media cetak, elektronik, dan media online. Dari tanggal 12 hingga 16 Januari 2014.
"Jajak pendapat dilakukan dengan model terbuka, dimana setiap informan diberikan keleluasaan dan dapat secara bebas menyebutkan siapapun nama tokoh yang diinginkan untuk menjadi presiden atau wakil presiden RI periode 2014-2019," ujar Direktur Sigma Said Salahuddin seperti dikutip dari pres rilisnya, Jakarta, Rabu (22/1/2014).
Jajak pendapat dengan responden wartawan yang menjadi subjek penelitian hanya menampilkan sepuluh bakal capres. Penelitian pun dilakukan secara singkat dengan menempuh waktu empat hari.
Mengapa jurnalis? Menurut Said, sebagai pemilih potensial pemilu, jurnalis dipilih sebagai informan karena dianggap lebih mengenal sosok tokoh dibandingkan dengan masyarakat pada umumnya.
Profesi sebagai pekerja media memungkinkan para jurnalis untuk lebih sering berinteraksi secara langsung dengan para tokoh, baik melalui kegiatan peliputan, wawancara, dan aktivitas jurnalistik lainnya.
"Dengan begitu, jurnalis dianggap telah mengetahui kualitas tokoh ditinjau dari sejumlah sudut pandang," jelasnya.
Said juga menegaskan, bahwa pendapat jurnalis dalam jajak pendapat ini adalah opini pribadi yang tidak mewakili media tempatnya bekerja.
"Hasil jajak pendapat ini juga tidak bisa digeneralisasi menjadi pendapat dari seluruh pekerja media, serta tidak mewakili opini profesi jurnalis," ungkapnya.
Baca berita:
Cak Imin ogah duet dengan Ical
Jajak pendapat sendiri dilakukan terhadap 112 Informan yang berprofesi sebagai jurnalis dari 63 media cetak, elektronik, dan media online. Dari tanggal 12 hingga 16 Januari 2014.
"Jajak pendapat dilakukan dengan model terbuka, dimana setiap informan diberikan keleluasaan dan dapat secara bebas menyebutkan siapapun nama tokoh yang diinginkan untuk menjadi presiden atau wakil presiden RI periode 2014-2019," ujar Direktur Sigma Said Salahuddin seperti dikutip dari pres rilisnya, Jakarta, Rabu (22/1/2014).
Jajak pendapat dengan responden wartawan yang menjadi subjek penelitian hanya menampilkan sepuluh bakal capres. Penelitian pun dilakukan secara singkat dengan menempuh waktu empat hari.
Mengapa jurnalis? Menurut Said, sebagai pemilih potensial pemilu, jurnalis dipilih sebagai informan karena dianggap lebih mengenal sosok tokoh dibandingkan dengan masyarakat pada umumnya.
Profesi sebagai pekerja media memungkinkan para jurnalis untuk lebih sering berinteraksi secara langsung dengan para tokoh, baik melalui kegiatan peliputan, wawancara, dan aktivitas jurnalistik lainnya.
"Dengan begitu, jurnalis dianggap telah mengetahui kualitas tokoh ditinjau dari sejumlah sudut pandang," jelasnya.
Said juga menegaskan, bahwa pendapat jurnalis dalam jajak pendapat ini adalah opini pribadi yang tidak mewakili media tempatnya bekerja.
"Hasil jajak pendapat ini juga tidak bisa digeneralisasi menjadi pendapat dari seluruh pekerja media, serta tidak mewakili opini profesi jurnalis," ungkapnya.
Baca berita:
Cak Imin ogah duet dengan Ical
(kri)