Perempuan berpendidikan mampu lahirkan generasi unggul
Jum'at, 20 Desember 2013 - 16:28 WIB
Perempuan berpendidikan mampu lahirkan generasi unggul
A
A
A
Sindonews.com - Menjelang peringatan Hari Ibu pada 22 Desember nanti, posisi perempuan di Indonesia dinilai masih harus mendapatkan perhatian oleh pemerintah. Hal itu ditegaskan Dekan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI) Tjut Rifameutia Umar Ali.
Bicara ibu dan perempuan, Tia, begitu ia akrab disapa, berharap agar perempuan dapat diberdayakan. Ia mencontohkan misalnya dalam program penurunan angka kematian ibu dan bayi.
Tia menambahkan caranya yakni pemerintah diminta memperhatikan gizi ibu hamil dan anak balita. Semestinya pemenuhan protein seperti susu, keju, dan telur dapat digratiskan oleh pemerintah untuk perempuan dan balita masyarakat kelas bawah.
"Di luar negeri itu susu dan telur gratis, itu untuk masyarakat menengah ke bawah. Supaya mencukupi. Di Jepang, setiap hari susu itu diantar ke rumah-rumah," ungkapnya di Gedung Rektorat UI, Jumat (20/12/2013).
Gizi bagi anak, lanjut Tia, harus cukup. Sebab gizi anak penting untuk proses tumbuh dan belajar. "Makanan bergizi dan pendidikan keluarga penting. Apakah single parents atau tidak tetapi cara mendidik itu perlu," jelasnya.
Tia meyakini perempuan yang memiliki latar pendidikan yang baik, maka akan melahirkan generasi penerus bangsa yang baik pula. Perempuan, lanjutnya, juga layak untuk menempati posisi puncak karis karena memiliki sifat empati.
"Saya yakin kalau perempuan pendidikan baik, generasi penerus akan baik. Kunci di tangan ibu, karena itu perlu memperhatikan perempuan, perempuan harus terlibat dalam keputusan politik, ada natur yang beda. Perempuan bisa berempati untuk posisi puncak, bisa pikirkan pekerjaan dan rasa empati, karena itu perempuan pantas jadi pemimpin bisa memikirkan dua-duanya," tutupnya.
Presiden ajak perempuan ikut membangun bangsa
Bicara ibu dan perempuan, Tia, begitu ia akrab disapa, berharap agar perempuan dapat diberdayakan. Ia mencontohkan misalnya dalam program penurunan angka kematian ibu dan bayi.
Tia menambahkan caranya yakni pemerintah diminta memperhatikan gizi ibu hamil dan anak balita. Semestinya pemenuhan protein seperti susu, keju, dan telur dapat digratiskan oleh pemerintah untuk perempuan dan balita masyarakat kelas bawah.
"Di luar negeri itu susu dan telur gratis, itu untuk masyarakat menengah ke bawah. Supaya mencukupi. Di Jepang, setiap hari susu itu diantar ke rumah-rumah," ungkapnya di Gedung Rektorat UI, Jumat (20/12/2013).
Gizi bagi anak, lanjut Tia, harus cukup. Sebab gizi anak penting untuk proses tumbuh dan belajar. "Makanan bergizi dan pendidikan keluarga penting. Apakah single parents atau tidak tetapi cara mendidik itu perlu," jelasnya.
Tia meyakini perempuan yang memiliki latar pendidikan yang baik, maka akan melahirkan generasi penerus bangsa yang baik pula. Perempuan, lanjutnya, juga layak untuk menempati posisi puncak karis karena memiliki sifat empati.
"Saya yakin kalau perempuan pendidikan baik, generasi penerus akan baik. Kunci di tangan ibu, karena itu perlu memperhatikan perempuan, perempuan harus terlibat dalam keputusan politik, ada natur yang beda. Perempuan bisa berempati untuk posisi puncak, bisa pikirkan pekerjaan dan rasa empati, karena itu perempuan pantas jadi pemimpin bisa memikirkan dua-duanya," tutupnya.
Presiden ajak perempuan ikut membangun bangsa
(lal)