Kebutaan akibatkan Indonesia sulit dapatkan MDGs

Selasa, 29 Oktober 2013 - 21:15 WIB
Kebutaan akibatkan Indonesia...
Kebutaan akibatkan Indonesia sulit dapatkan MDGs
A A A
Sindonews.com - Kebutaan menjadi salah satu masalah yang dihadapi pemerintah, terkait dengan pencapaian MDGs tahun 2015. Untuk itu, pemerintah menjamin pengobatan mata pada Badan Pelaksanaan Jaminan Nasional (BPJS).

Direktur bina Upaya Kesesehatan Dasar (BUK) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Dedi Kusenda mengatakan, akibat dari kebutaan maka hal ini akan mempengaruhi perekonomian seseorang.

Hal ini berkaitan target MDGs, yaitu penanggulangan kemiskinan dan kelaparan selain dan target Vision 2020.

Menurut dia, Vision 2020 adalah program yang membantu masyarakat miskin yang mengalami gangguan pengelihatan. Melalui pelayanan di masyarakat, pendidikan dan pelayanan sosial dalam menurunkan kebutaan.

“Vision 2020 harus kami capai 7 tahun mendatang. Memang sangat disayangkan selama ini kami hanya berkonsen pada target MDGs untuk kematian ibu dan anak. Sedangkan kebutaan ini juga menajdi masalah besar,” tandasnya saat ditemui di Jakarta, Selasa, (29/12/2013).

Untuk itu, Dedi mengatakan, pengobatan mata seperti katarak akan dicover oleh pemerintah dalam BPJS. Untuk itu pemerintah akan menguatkan sistem pelayanan dasar primer, khususnya di puskesmas melalui screening mata.

Hal ini bertujuan untuk mencegah meledaknya masyarakat yang langsung pergi ke rumah sakit.

“Nantinya akan didiagnosa sesuai dengan standar komposisi yang ditentukan. Untuk itu kami akan menguatkan dari sistem, biaya dan SDM,” kata dia.

Dia mengatakan, hal ini merupakan upaya pencegahan dan antisipasi sebelum penyakit mata berlanjut mengakibatkan kebutaan. Namun, kendala ke depan ialah penyebaran tenaga kesehatan seperti dokter umum dan dokter spesialis mata, yang harus menyebar sampai pada pelosok daerah.

“Jumlah dokternya sudah cukup, tetapi permasalahannya mereka jarang ada yang mau dikirim ke daerah, karena berbagai masalah seperti intensif dan fasilitas di daerah tersebut,” ujar dia.

Akibat dari otonomi daerah, pemerintah sulit mendapatkan data untuk melakukan penanggulangan di daerah-daerah. Untuk, itu ke depan pemerintah akan melakukan pengelompokan sesuai regional dalam melakukan rujukan.

Klik di sini untuk berita terkait.
(stb)
Berita Terkait
Saleh Husin: Kerukunan...
Saleh Husin: Kerukunan Warga Dapat dan Olahraga juga Dapat
Buka Cabang di GDC,...
Buka Cabang di GDC, Satu Dental Ingin Kesehatan Gigi Masyarakat Terjaga
Fenomena Bocah Disunat...
Fenomena Bocah Disunat Jin, Begini Penjelasan Ketua IDI Tangsel
Kondisi Kesehatan Dinilai...
Kondisi Kesehatan Dinilai Sangat Mempengaruhi Kualitas Fokus Otak
Menjaga Kesehatan Masyarakat...
Menjaga Kesehatan Masyarakat Indonesia
Derita Kanker Stadium...
Derita Kanker Stadium 3, Bocah 7 Tahun Warga Tangsel Ini Butuh Biaya
Berita Terkini
Cegah Kasus Korupsi...
Cegah Kasus Korupsi di BGN Terulang, Saut Situmorang Beri Saran Ini ke Nanik Deyang
Geger, WNI Bunuh WNI...
Geger, WNI Bunuh WNI di Hokkaido Jepang, Satu Anggota Polisi Ikut Terluka
Prihatin Kasus Korupsi...
Prihatin Kasus Korupsi di BGN, Hasto PDIP: Suara Kritis Masyarakat Sudah Mengungkapkan Hal Itu
Kelakar Jenderal Sigit:...
Kelakar Jenderal Sigit: Selesai Jadi Kapolri, Saya Gantian Jadi Aktivis
Prabowo Dinilai Mampu...
Prabowo Dinilai Mampu Jaga Keamanan RI Hadapi Dinamika Geopolitik Global
5 Berita Hukum Pekan...
5 Berita Hukum Pekan Ini: Dadan Hindayana dan Silmy Karim Tersangka Korupsi, Noel Divonis 4,5 Tahun Penjara
Infografis
Trade Misinvoicing dan...
Trade Misinvoicing dan Upaya Penguatan Integritas Perdagangan Indonesia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved