Kelompok teroris akan terus menghantui polisi
Kamis, 12 September 2013 - 04:05 WIB
Kelompok teroris akan terus menghantui polisi
A
A
A
Sindonews.com - Pengamat teroris dari Universitas Indonesia (UI) Al Chaidar mengatakan, belakangan ini marak terjadi penembakan terhadap polisi dan ini bisa dikatakan sebagai bentuk tindakan terorisme.
Menurutnya, kendati kelompok pelaku teroris sudah berhasil menyerang Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Mabes Polri di Poso, Aceh, namun tidak lantas para teroris itu merasa puas dan mereka tetap melakukan aksi serupa.
"Tidak berhenti di situ saja. Walaupun sudah ada sekira 12 orang Densus yang diserang namun tak lantas membuat mereka berhenti beraksi," kata Al Chaidar saat dihubungi wartawan, Rabu 11 September 2013.
Dia menjelaskan, terdapat ciri khusus pelaku aksi teroris yang menyerang polisi. Yaitu dilakukan dengan menggunakan sepeda motor dan minimal pelakunya sebanyak dua orang. Kelompok ini berbeda dengan pelaku yang beraksi di wilayah timur Indonesia.
"Mereka memiliki metode ambush atau hit and run. Mereka bisa melarikan diri sehingga tidak mudah dilacak. Mereka juga tidak menggunakan jaringan seluler untuk berkomunikasi. Ini dilakukan untuk menghindari jejaknya terekam Densus," paparnya.
Al Chaidar mengingatkan, kelompok ini adalah kelompok ideologis yang tidak akan pernah berhenti menyuarakan syariat Islam. Menurutnya, kelompok ini sudah mempersiapkan diri untuk menjadi teroris.
"Sehingga segala perhitungan sudah dipikirkan. Termasuk tidak memiliki basecamp agar tidak mudah terlacak. Jadi bukannya polisi tidak bisa mengungkap tapi memang sulit untuk melacaknya, karena faktor yang tadi," ujarnya.
Menurutnya, kendati kelompok pelaku teroris sudah berhasil menyerang Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Mabes Polri di Poso, Aceh, namun tidak lantas para teroris itu merasa puas dan mereka tetap melakukan aksi serupa.
"Tidak berhenti di situ saja. Walaupun sudah ada sekira 12 orang Densus yang diserang namun tak lantas membuat mereka berhenti beraksi," kata Al Chaidar saat dihubungi wartawan, Rabu 11 September 2013.
Dia menjelaskan, terdapat ciri khusus pelaku aksi teroris yang menyerang polisi. Yaitu dilakukan dengan menggunakan sepeda motor dan minimal pelakunya sebanyak dua orang. Kelompok ini berbeda dengan pelaku yang beraksi di wilayah timur Indonesia.
"Mereka memiliki metode ambush atau hit and run. Mereka bisa melarikan diri sehingga tidak mudah dilacak. Mereka juga tidak menggunakan jaringan seluler untuk berkomunikasi. Ini dilakukan untuk menghindari jejaknya terekam Densus," paparnya.
Al Chaidar mengingatkan, kelompok ini adalah kelompok ideologis yang tidak akan pernah berhenti menyuarakan syariat Islam. Menurutnya, kelompok ini sudah mempersiapkan diri untuk menjadi teroris.
"Sehingga segala perhitungan sudah dipikirkan. Termasuk tidak memiliki basecamp agar tidak mudah terlacak. Jadi bukannya polisi tidak bisa mengungkap tapi memang sulit untuk melacaknya, karena faktor yang tadi," ujarnya.
(maf)