Transparansi dana konvensi penentu citra Demokrat

Kamis, 22 Agustus 2013 - 07:33 WIB
Transparansi dana konvensi...
Transparansi dana konvensi penentu citra Demokrat
A A A
Sindonews.com - Kecurigaan publik bahwa suap yang diterima Kepala SKK Rudi Rubiandini sangat tidak mungkin untuk kepentingan menambah kekayaan pribadinya dinilai cukup beralasan.

Pengamat Politik dari Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi), Lucius Karus mengatakan, cerita tentang kebaikan Rudi selama menjadi guru besar sangat mungkin merupakan cerita masa lalu.

"Figur bersih sebelum berada di dalam lingkaran kekuasaan yang ditandai oleh fenomena korupsi yang menggurita sangat mungkin akan ikut masuk dalam kubangan kotor korupsi," ujarnya kepada Sindonews, Kamis (22/8/2013).

Sementara itu, kata dia, kecenderungan partai politik (Parpol) melakukan bancakan anggaran sudah sangat kuat merasuki pikiran publik. Tak sulit pula, lanjutnya, untuk menduga keterkaitan Jero Wacik dengan kasus suap yang menyeret Rudi itu.

"Apalagi Demokrat memang tengah menyiapkan konvensi yang hampir pasti memerlukan sokongan dana. Publik masih belum lupa bahwa kasus korupsi Hambalang pun diduga terkait dengan hajatan Demokrat yakni Kongres pemilihan ketua yang dimenangkan Anas," jelasnya.

Jadi, KPK diminta lebih berani dalam mengungkap keterlibatan pihak lain selain Rudi dalam kasus ini. Menurutnya, kerja keras KPK harus sampai pada usaha untuk membuktikan apa yg telanjur beredar di publik yakni soal dugaan keterlibatan Jero Wacik bahkan Partai Demokrat.

"Kedua pihak yang dituduh memang berhak untuk membela diri. Akan tetapi membela hanya sekedar menegasikan dugaan publik tanpa usaha memberikan data pembanding."

"Misalnya terkait sumber dana konvensi tidak akan mengubah asumsi publik tentang dugaan keterlibatan pihak lain seperti Konvensi Demokrat dan Jero selaku atasan Rudi yang menerima suap," sambungnya.

Karena itu, transparansi soal sumber dana konvensi memang harus dipandang penting dilakukan demi mengembalikan citra Partai Demokrat yang mungkin terganggu oleh kelincahan publik menganalisis sendiri kasus korupsi yang terjadi.
(kri)
Berita Terkait
Tolak KLB Sibolangit,...
Tolak KLB Sibolangit, Demokrat Sumut Tetap Loyal Pada AHY
Pesan Moeldoko ke AHY:...
Pesan Moeldoko ke AHY: Jadi Pemipin Harus Kuat, Jangan Baperan
Makin Panas, Moeldoko...
Makin Panas, Moeldoko Disebut Bagi-bagi Uang dan Ponsel saat KLB Demokrat di Deli Serdang
Kader Muda Demokrat...
Kader Muda Demokrat Dukung KLB Partai Demokrat
Penyerahan Surat Rekomendasi...
Penyerahan Surat Rekomendasi Partai Demokrat untuk Pilkada 2024
Partai Demokrat Keluarkan...
Partai Demokrat Keluarkan 60 Rekomendasi Pilkada 2024, Ada Marshel Widianto dan Gilang Dirga
Berita Terkini
KontraS Kritik Tuntutan...
KontraS Kritik Tuntutan 2,5 Tahun Penjara untuk Terdakwa Penyiraman Andrie Yunus
Revisi UU Polri, Menteri...
Revisi UU Polri, Menteri Pigai Usulkan Sejumlah Jabatan Utama Bisa Diisi Sipil
Film Pesta Babi Bergeser...
Film Pesta Babi Bergeser dari Kritik Sosial Jadi Instrumen Kampanye Disintegrasi Papua
KPK Angkut Moge, Mobil...
KPK Angkut Moge, Mobil Mewah, dan Sepeda usai Geledah Rumah Silmy Karim
Ancam 6 Juta Tenaga...
Ancam 6 Juta Tenaga Kerja, Wacana Kemasan Polos Harus Dibatalkan
DPR Minta KAI Bereskan...
DPR Minta KAI Bereskan Dulu Konektivitas Sebelum Bangun Jalur Kereta Aceh-Lampung
Infografis
Penerima Bansos 2026...
Penerima Bansos 2026 Wajib Tahu! Ini Penjelasan Desil yang Jadi Penentu Kelayakan Bantuan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved