SBY dan PKS hanya bersandiwara
Rabu, 19 Juni 2013 - 13:50 WIB
SBY dan PKS hanya bersandiwara
A
A
A
Sindonews.com - Perseteruan antara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Boediono dengan partai koalisi pendukungnya, Partai Keadilan Sejahtera (PKS), dinilai hanya drama.
Demikian dikatakan Pengamat Politik dari Soegeng Sarjadi Syndicate (SSS) Toto Sugiarto. Menurutnya, baik SBY maupun PKS tidak memiliki keberanian untuk mengambil langkah revolusioner.
SBY dan PKS sama-sama mengamankan citra partai. Sementara SBY juga memiliki kepentingan untuk mengamankan citra personalnya sebagai pemimpin negara dan tokoh.
"Mereka hanya pura-pura saja bersandiwara, bilang keluar, tidak, keluar, tidak. Tidak ada langkah yang benar-benar memang strategis untuk bangsa dan Negara," ujarnya di Bakoel Koffie, Cikini, Jakarta Pusat, Rabu (19/6/2013).
Sebhagaimana diketahui, PKS merupakan bagian dari partai koalisi pendukung pemerintahan SBY-Boediono. Namun dalam sikap politiknya, PKS kerap berlawanan dengan SBY-Boediono, terutama dalam kebijakan pemerintah untuk menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. PKS telah dua kali menolak, pada tahun 2011 dan tahun ini.
Meski begitu SBY-Boediono tetap 'sayang' dengan PKS, dengan tetap mempertahankan partai pimpinan Anis Matta itu sebagai anggota partai koalisi pendukung pemerintahannya. Begitu juga sebaliknya, PKS yang kerap berlawanan dengan sikap pemerintah, hingga saat ini masih enggan untuk meninggalkan koalisi.
Demikian dikatakan Pengamat Politik dari Soegeng Sarjadi Syndicate (SSS) Toto Sugiarto. Menurutnya, baik SBY maupun PKS tidak memiliki keberanian untuk mengambil langkah revolusioner.
SBY dan PKS sama-sama mengamankan citra partai. Sementara SBY juga memiliki kepentingan untuk mengamankan citra personalnya sebagai pemimpin negara dan tokoh.
"Mereka hanya pura-pura saja bersandiwara, bilang keluar, tidak, keluar, tidak. Tidak ada langkah yang benar-benar memang strategis untuk bangsa dan Negara," ujarnya di Bakoel Koffie, Cikini, Jakarta Pusat, Rabu (19/6/2013).
Sebhagaimana diketahui, PKS merupakan bagian dari partai koalisi pendukung pemerintahan SBY-Boediono. Namun dalam sikap politiknya, PKS kerap berlawanan dengan SBY-Boediono, terutama dalam kebijakan pemerintah untuk menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. PKS telah dua kali menolak, pada tahun 2011 dan tahun ini.
Meski begitu SBY-Boediono tetap 'sayang' dengan PKS, dengan tetap mempertahankan partai pimpinan Anis Matta itu sebagai anggota partai koalisi pendukung pemerintahannya. Begitu juga sebaliknya, PKS yang kerap berlawanan dengan sikap pemerintah, hingga saat ini masih enggan untuk meninggalkan koalisi.
(lal)